Jokpin dan Universalitas Makna dalam Berpuisi

Lampung Post: Minggu, 14 Januari 2018

Oleh: Junaidi Khab*

Ilustrasi oleh Sugeng Riyadi_Lampung Post: Minggu, 14 Januari 2018

Puisi merupakan karya sastra yang secara gamblang sangat mudah pembuatannya. Namun, jika ingin menghasilkan makna yang tajam dan penuh arti bagi kehidupan manusia, hal itu yang sangat sulit dan rumit untuk dilakukan. Kita memerlukan permenungan yang cukup mendalam untuk menghasilkan puisi yang bisa memberikan makna luar biasa. Bukan hanya penyusunan diksi, tetapi sebuah rasa yang diselipkan memerlukan kesucian jiwa untuk melahirkan puisi yang bernas.

Dalam hal ini, Joko Pinurbo (Jokpin) sebagai penyair telah mampu melahirkan puisi-puisi renyah dan ringan tetapi penuh makna. Salah satunya diterbitkan oleh penerbit Basabasi Yogyakarta berjudul Telepon Genggam (2017). Dengan gaya bahasa yang sederhana, Jokpin menghadirkan telepon genggam sebagai eksistensi kehidupan manusia. Telepon genggam menjadi teman hidup manusia dalam berbagai dimensi. Kadang menghadirkan kegembiraan, kesedihan, kegilaan, dan bahkan permusuhan selain memang bisa menjadi sarana komunikasi antar kawan. Dari telepon genggam juga, manusia menggantungkan segala harapannya dalam menghadapi jalan hidup sehari-hari.

Jika diibaratkan dengan kopi, puisi-puisi Jokpin merupakan kopi dengan kadar gula yang pas: tidak manis dan tidak pahit. Memang, kita tak dapat memungkiri, bahasa puisi ada yang sangat gurih, bahkan pekat dalam rangkaian kata-kata dan diksinya. Tetapi, pesan-pesannya tak jauh berbeda: moral dan sosial meski kadang terselip tentang percintaan. Begitu juga dengan karya puisi-puisi Jokpin yang tampak sederhana dan apa adanya. Tetapi, nilai estetis dan kandungan moralnya tak bisa diremehkan.

Kualitas dan Identitas

Sebuah karya sastra, termasuk puisi yang lahir dari seorang penulis atau penyair akan menjadi cermin dan jati diri penulisnya. Penulis atau penyair melalui karya-karyanya telah mengenalkan identitas dirinya pada publik dan pembaca. Sebuah karakter yang terpancar dari sebuah karya akan dinilai oleh pembaca untuk mengenal jati diri penulis. Sehingga, dengan demikian, penulis atau penyair telah membentuk karakter, jati diri, dan identitasnya melalui karya-karyanya yang kemudian dinilai dan diformulasi oleh pembaca.

Berbeda dengan konsep identitas sebelumnya, khususnya identitas penyair. Dalam pandangan umum, penyair selalu berambut gondrong dan berpenampilan kumal. Kita bisa melihatnya seperti tokoh Arya Dwi Pangga dalam film serial Tutur Tinular. Dia seorang penyair dengan penampilan kumal. Hal ini yang juga memantik para penyair di Indonesia kadang berpenampilan kumal untuk membentuk identitasnya. Tetapi, hal itu sudah tidak berlaku lagi untuk saat ini. Identitas penulis atau penyair bisa kita lihat dari karya-karya yang dilahirkan atas hasil olah pikiran dan jiwanya. Kita tidak cukup melihat penampilan secara fisik saja untuk mengetahui tentang seorang penulis atau penyair, tetapi bisa melalui dengan membaca karya-karyanya.

Tugas penyair adalah terus menulis puisi. Meskipun dia pada tataran dan kesempatan tertentu berupaya mengenali dan membangun identitasnya. Kekuatan paling besar dalam mengonstruksi identitas penyair justru terletak pada pengamat, kritikus, dan pembaca puisi yang menikmati, menggali, dan menilai makna yang terkandung di dalam puisi (Yusri Fajar, 2017:141).

Dengan kata lain, dari puisi-puisi yang dilahirkan oleh Jokpin, masyarakat pembaca dan kritikus harus mampu menyerap makna puisi-puisi Jokpin yang kemudian dilekatkan pada diri Jokpin itu sendiri. Begitu juga dengan para penulis dan penyair lainnya secara umum. Sehingga, Jokpin dalam tataran karakter kesusasteraan identik atau dikenal sebagai penyair yang penuh dengan kejenakaan. Hal itu bermula dari karya puisinya yang berjudul Celana (1999). Karya tersebut memantik makna yang cukup mendalam dan universal meski gaya bahasanya cukup sederhana dan penuh humor yang memekarkan segala gelak-tawa pembaca.

Tulisan ini bukan menganggap bahwa puisi selain karya Jokpin tidak memiliki kuliatas makna sama sekali. Bukan itu yang dimaksud. Tetapi, puisi Jokpin yang tergolong sederhana telah membawa pesan moral dan sosial yang cukup universal jika dilihat dari berbagai sudut pandang. Kejenakaan-kejenakaannya mampu meretas segala kekakuan dalam kehidupan manusia. Sementara itu, kejenakaan dalam puisi Jokpin bukan serta-merta sebagai guyonan belaka. Tetapi, kejenekaan yang dilahirkan oleh Jokpin sebagai upaya untuk membuat hidup manusia agar lebih ringan dalam menghadapi segala problem hidup yang kadang sangat pelik.

Kita juga bisa membaca karya Jokpin yang juga diterbirkan oleh Basabasi dengan judul Tahilalat (2017). Karya tersebut mampu menggambarkan tentang kehidupan seorang ibu dengan berjuta kasih sayang terpancar dari segala usianya. Memang, puisi tersebut tidak begitu menampakkan kelucuan secara keseluruhan. Tetapi, karya tersebut menyimpan sifat lugu tentang penggambaran seorang ibu yang tak pernah redup kasih sayangnya bagi anak-anak yang lahir dari rahimnya.

Bahasa yang digunakan oleh Jokpin dalam puisi-puisinya memang tampak sederhana. Tetapi, pembaca seakan kecanduan atas bahasa yang dibangun oleh Jokpin meski karyanya secara sepintas tak memiliki nilai kesusasteraaan. Seperti dikatakan oleh Azwar (2016:150), bahwa salah satu hal yang membuat orang kecanduan membaca karya sastra yaitu karena bahasa yang ada di dalamnya. Setiap bahasa memiliki rasa yang bisa dinikmati oleh pembaca dan hanya pembaca yang bisa mengetahui rasa bahasa sebuah karya sastra itu nikmat atau justru menyakitkan.

Salah satu alasan Jokpin memiliki posisi di tengah-tengah kesusasteraan di Indonesia, yaitu karena bahasa dalam karya-karyanya yang dibangun menjadi candu bagi pembaca: reflektif, sederhana, simpel, dan renyah dinikmati. Sehingga, masyarakat pembaca bisa menimbang sendiri mengenai bahan bacaan yang sesuai selera bacaannya: efektif dan tidak begitu rumit. Seandainya makanan, harganya murah, tetapi memiliki rasa yang tidak ada bandingnya, sehingga menjadi bahan candu yang sulit ditinggalkan. Begitu kira-kira karya Jokpin yang tertuang dalam puisi-puisinya. Karya-karya Jokpin bukan sebatas mengenyangkan, tetapi menyenangkan bagi pembaca yang benar-benar menikmatinya, selain memang menyimpulkan pesan-pesan moral yang universal.

* Penulis adalah Akademisi asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan tersebut bisa diakses dan dibaca dalam bentuk PDF di: Lampung Post – Minggu, 14 Januari 2018.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: