Mengingat Lupa Sejarah Bangsa Indonesia

Harian Bhirawa: Jumat, 19 Mei 2017

Indonesia Poenja Tjerita (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Indonesia Poenja Tjerita

Pengantar        : Zaenuddin H.M

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : II, 2016

Tebal               : xviii + 226 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-238-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Mempelajari sejarah memang terasa sulit dan rumit, karena kita kadang dituntut untuk menghafalkan beberapa angka tahun atau abad dari setiap periodenya. Hal ini mungkin yang menyebabkan sejarah tidak mudah diminati oleh bangsa kita sendiri. Padahal, sejarah memiliki nilai-nilai penting yang perlu diketahui, dipelajari, dan mengambil pesan-pesannya sebagai bekal hidup.

Hal ini banyak dialami oleh anak bangsa Indonesia ketika dihadapkan pada persoalan sejarah, khususnya sejarah perjalanan Indonesia, negara kita sendiri. Tidak banyak yang peduli dengan sejarah perjalanan bangsa dan negara Indonesia. Selain memang harus mengingat banyak periode, juga kadang kita berpikir tentang manfaat sejarah secara materi. Sehingga, sejarah kebangsaan – Indonesia – perlahan tidak begitu diminati oleh generasi muda. Padahal, dari sejarah kita bisa banyak belajar tentang kehidupan masa-masa sebelumnya.

Buku sejarah yang berjudul Indonesia Poenja Tjerita ini merupakan sebuah testimoni dan refleksi untuk kembali mengajak bangsa Indonesia agar mencintai bangsa dan negara melalui sejarah yang – hampir – dilupakan oleh generasi muda, dan bahkan oleh orang dewasa. Ada banyak kehidupan para pendahulu kita yang sebenarnya sangat gemilang, namun seiring zaman bergulir bagai bola api, mereka terabaikan dan terbakar habis tanpa sisa.

Kejayaan Surakarta

Ada beberapa kilasan dan ulasan sejarah tentang bangsa Indonesia yang tersaji di dalam buku ini, dengan bahasa yang mudah untuk dibaca dan dipahami oleh berbagai kalangan. Kilasan sejarah ini sepertinya memang jarang diketahui oleh masyarakat dan terlebih oleh para pelajar di bangku sekolah. Contoh gampangnya, sejarah kepemilikan mobil di Indonesia oleh Kesunanan Surakarta atau Pakubuwono X pada abad XXVIII (hlm. 2). Bahkan, sejarah kepemilikan mobil di Indonesia menjadikan bangsa kita lebih maju dibanding negara-negara lain seperti Thailand.

Menghidupkan yang Terkubur

Kita sudah melalui berbagai rentetan sejarah berabad-abad silam. Tapi, seakan-akan kita tidak mau tahu tentetan sejarah bangsa sendiri. Sehingga, tak heran jika substansi dan saripati eksotisme dan kekayaan Indonesia beralih ke negara-negara lain. Maka dari itu, melalui buku ini kita bisa menghidupkan sejarah yang telah mati terkubur bersama masa lalu untuk dijadikan sebagai bahan reflektif-aplikatif agar bangsa Indonesia kembali dengan kekuatan yang sempurna.

Menurut Jennifer Brennan (1988) mengatakan bahwa meskipun Thailand dan Malaysia mengklaim sate sebagai budaya kuliner mereka, sebenarnya sate ini makanan asli Indonesia (hlm. 74). Padahal, justru mereka yang terpengaruh hidangan Indonesia. Sejak zaman dulu, sate digemari banyak orang. Tidak mengherankan jika sate menjadi masakan kuliner Indonesia yang mendunia. Kita harus menyadari bahwa masyarakat Indonesia banyak yang merantau ke negara-negara di belahan dunia. Dengan demikian, tidak dapat disangkal ciri khas Indonesia – termasuk budaya dan tradisinya – juga terbawa bersama mereka.

Bangsa kita jangan menunggu hujan hingga turun untuk mengambil payung. Sebelum hujan turun, payung harus segera disiapkan. Misalkan, budaya reog ponorogo yang pernah diklaim oleh Malaysia. Ketika sudah diklaim, baru bangsa kita berteriak-teriak mengakui reog ponorogo. Maka dari itu, buku ini hadir dengan sajian ulasan yang ringan untuk mengingatkan dan menyiapkan payung bagi masyarakat Indonesia agar teguh serta mempelajari sejarah leluhur kita.

Kehadiran buku ini bukan serta-merta sebagai bahan bacaan belaka. Namun, lebih dari itu, buku ini ditulis dari beberapa penulis yang aktif di media SejarahRI. Dari beberapa perjalanan panjang sejarah bangsa Indonesia ini, kita akan menemukan sisi lain sejarah bangsa Indonesia yang jarang – bahkan – tidak pernah tersentuh dan diketahui oleh bangsa Indonesia sendiri. Dari buku ini, kita akan diingatkan atas segala sejarah kebangsaan yang seakan-akan sudah dilupakan, mulai dari persoalan budaya, seni, tradisi, bahasa, hingga kuliner khas Indonesia. Mari mengingat lupa atas sejarah bangsa dan negara kita sendiri, Indonesia.

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Silakan kunjungi saya di:

YouTube: Junaidi Khab

Instagram: Junaidi Khab

Twitter: Junaidi Khab

Facebook: Junaidi Khab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: