Mancing Mania di Yogyakarta

Junaidi Khab dan Ikan

Oleh: Junaidi Khab

Aku memiliki kegemaran akut terhadap dunia air, ikan, sungai, danau, laut, dan pancing. Di rumah, aktivitasku sepertinya tidak mau lepas dari kegemeranku itu. Sejak aku kecil, aku sudah suka memancing mengitari sungai di dekat rumahku. Kadang orangtua (ibu) sampai marah padaku gara-gara kadang lupa makan dan lupa pulang menjaga mata kail dimakan ikan di sungai. Kalau aku tidak memancing di sungai, pasti ke danau atau ke laut. Kalau tidak memancing, pada malam hari aku menangkap kepiting ke laut dengan menggunakan senter di dahi. Bagiku itu sangat menarik. Hingga kadang temanku merasa capek sebelum aku merasa capek. Meskipun tidak mendapat sebatang ikan pun saat memancing ke laut, aku tidak pernah jera.

Ikan-Ikan Gabus Hasil Pancingan Junaidi Khab

Bahkan, aku sempat diomongin oleh ibu dan para tetangga: “lebih baik umpannya digoreng dan dimakan”. Begitu nasihat ibu dan sebagian tetanggaku. Tetapi, hobi seakan mengalahkan segalanya. Kadang aku belanja umpan ikan berupa udang yang dibeli di pasar Gapura seharga Rp.4000,- hingga Rp.10.000,- untuk memancing. Itu tidak seberapa dengan hasil pancinganku, nahasnya lagi aku kadang tidak mendapat secuil ikan. Pernah suatu waktu dapat ikan, tapi teman terburu pulang dengan menyisakan umpan udang. Jadinya, ikan hasil pancinganku yang kalau tidak keliru waktu itu dua batang ikan digoreng dengan umpannya. Lucu memang. Tapi, itu hobiku.

Junaidi Khab dan Ikan Gabus di Sumenep

Kesabaran memang menjadi kunci hidup dan kehidupan. Mancing saja, tanpa kesabaran yang kuat akan menjadikan kita cepat putus asa. Coba bayangkan, hari Minggu, 30 April 2017 aku berangkat mancing – pukul 06:30 WIB dan mulai melempar ke tengah danau pukul 07:00 WIB hingga pukul 13:15 WIB – ke Tambakboyo tidak mendapat apa-apa kecuali pembalut wanita dan sempak yang tercebur di sana dan kebetulan tersangkut mata kailku.

Baru setelah mancing di pinggirannya – tanpa melempar ke tengah danau – aku bisa mendapat ikan mujair, lalu ikan gabus. Setelah “nyekrik” ikan-ikan nila dan mujair yang sedang berkumpul, aku dapat ikan mujair lagi yang kebetulan tersangkut di bagian perutnya. Tapi, hasil “nyekrik” itu lepas lagi. Setelah kucek, hasil ikan tadi, di kantong plastik, ikan gabusnya hilang – mungkin loncat.

Jadi, hanya tersisa ikan mujair yang dibawa pulang dan pada tengah malam di kos, ikan itu menggelepar mau mati, lalu kusuruh bakar pada salah satu teman kos, sebelumnya aku minta agar digoreng saja. Karena minyak goreng habis, jadinya dibakar pada kompor gas lalu dimakan. Di danau Tambakboyo, para pemancing bersamaku yang berjejer di pinggir danau tak ada yang kulihat berhasil mendapat ikan.

Hari ini, Senin, 1 April 2017 pukul 04:00 WIB aku mancing ke danau Langensari. Sama. Tetap uji nyali kesabaran. Sebatang ikan pun tak ada yang mau melumat tubuh umpan yang kulempar. Sabar, itu kuncinya dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini.” (*)

Yogyakarta, 1 Mei 2017

Junaidi Khab bisa dijumpai di:

YouTube: Junaidi Khab

Instagram: Junaidi Khab

Twitter: Junaidi Khab

Facebook: Junaidi Khab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: