Menjadi Manusia yang Benar-Benar Manusia

Solopos: Minggu, 24 Juli 2016

Bengkel Buya Belajar dari Kearifan Wong Cilik (Dok. Junaidi Khab)

Bengkel Buya Belajar dari Kearifan Wong Cilik (Dok. Junaidi Khab)

Judul               : Bengkel Buya Belajar dari Kearifan Wong Cilik

Penulis             : Ahmad Syafii Maarif

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : I, April 2016

Tebal               : viii + 100 hlm.; 23,5 cm

ISBN               : 978-979-433-944-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Karya ini merupakan sebuah refleksi kebangsaan yang menceritakan pernak-pernik hakikat kehidupan masyarakat di nusantara yang penuh dengan kearifan dan kemuliaan. Atau bahkan di seluruh dunia pun demikian. Namun, memasuki era kemajuan, pernak-pernik yang sangat humanis itu lambat-laun terkikis dan menghilang. Sehingga, beragam model kehidupan yang sangat dipuja karena memang menjunjung tinggi kemanusiaan, sirna oleh kemajuan. Kehidupan umat manusia kini berjalan terbalik. Saling sikut, oporutnis, egois, hedonis, dan segala aspek kehidupan dan hak individu yang dijunjung tinggi. Manusia kini, sudah bukan manusia sejati. Mereka tak jauh dari hewan yang selalu mementingkan ras, kelompok, dan dirinya masing-masing.

Umat manusia dianugerahi akal, pikiran, dan hati. Dengan indera tersebut, manusia bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk, negatif dan positif. Bukan hanya itu, dengan indera tersebut manusia bisa merasakan penderitaan dan segala bentuk keresahan yang tak tampak oleh mata. Berbeda halnya dengan binatang yang hanya dianugerahi pikiran untuk bergerak dan mengikuti naluriyahnya. Di zaman modern saat ini, sudah banyak manusia yang hampir mirip dengan binatang. Akal, pikiran, dan hatinya sudah tak berfungsi secara maksimal. Kita sangat sulit untuk membedakan antara manusia yang benar-benar baik atau yang benar-benar negatif.

Melalui penceritaan yang dikemas dalam bentuk komik di dalam karya ini, ide-ide dan gagasan Buya Syafii sangat unik dan penuh inspiratif untuk dijadikan bahan renungan serta melakukan introspeksi diri. Ada kisah-kisah meskipun itu tergolong mustahil bagi manusia modern yang serba rasional, namun kenyataannya hidup yang seperti itu yang kita inginkan demi menjaga kerukunan dan stabilitas kehidupan.

Kisah seorang bapak tukang bengkel di perempatan jalan di Yogyakarta mungkin perlu menjadi teladan bagi kita semua. Sebagai seorang bengkel, bapak itu saat mengganti sparepart sepeda Buya Syafii tak menghitung jasa bongkar-pasang (hlm. 14). Selain itu, kearifan dan rasa sosial bapak itu terasa bagi penjual bensin eceran di seberang jalan. Bapak itu tak menjual bensin dengan alasan agar orang di seberang jalan juga mendapat rejeki dari jual bensin eceran.

Di era modern saat ini, sangat sulit kita temukan orang atau bahkan diri kita sendiri seperti bapak yang memiliki bengkel tersebut. Setidaknya nilai dan filosofi hidupnya tak banyak kita temukan di tengah-tengah modernisasi yang terus menggerus jati diri manusia. Toh, meskipun ada itu pun hanya bisa dihitung dengan jari tangan.

Bukan hanya persoalan berbagi kesempatan dengan sesama manusia, namun niat mulia bekerja untuk orang lain dengan ikhlas pun sirna. Seperti kehidupan yang dijalani oleh Pak Tugimin dalam menjaga aktivitas masjid Syuhada (hlm. 38). Dengan segenap tenaga meskipun usia sudah berada di ambang senja, Pak Tugimin masih gigih mengurus agar masjid syuhada tetap menjadi tempat warga mencari kesejukan hati dan berbagi ilmu serta rasa sosial yang tinggi. Hingga, dengan niat mulia tersebut, Pak Tugimin bisa berangkat haji. Subhanallah!

Buku ini hadir di tengah-tengah kita untuk mengajak agar sadar diri tentang hakikat menjadi manusia yang benar-benar manusia. Melalui kisah-kisah inspiratif yang dikemas dengan model jenaka ringan berbentuk komik, pembaca tidak akan merasa bosan dengan segala bentuk penyajian ceritanya. Kisah-kisah tersebut merupakan realita sosial yang pernah dialami oleh Buya Syafii dan mengandung nilai-nilai humanisme dan moral kemanusiaan yang sangat tinggi. Selamat membaca!

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: