Afi Nihaya Faradisa dan Persoalan Bangsa Indonesia

Oleh: Junaidi Khab

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Belakangan ini, media sosial via internet diwarnai oleh berita demo oleh umat Islam yang menuntut kasus Ahok terkait surah al-Maidah ayat 51 (baca: al-Quran). Seiring berita kasus tersebut beredar, media di internet dipenuhi oleh tulisan-tulisan yang membuat hati harus copot dan otak meledak. Namun, hal itu terjadi dan dialami oleh mereka yang mengonsumsi berita secara berlebihan, sehingga pandangan fluktuatif pun mengiringi berita yang beredar. Dengan demikian, suasana seakan-akan menjadi panas. Panasnya hanya terasa seakan berada di kutub utara. Sehingga, virus psikologi yang berkaitan dengan jiwa dan pikiran menjangkiti masyarakat Indonesia. Mereka semua mengalami sakit pikiran.

Dari kasus Ahok saja, komentar dari beberapa pengguna media sosial menjamur. Ada komentar yang mengutuk secara terang-terangan. Membela golongan atau kalangan tertentu. Seperti tulisan yang pernah aku posting di portal pribadi, bangsa kita ini benar-benar ada yang ingin memecah-belah (baca: Sari Roti dalam Negeri). Namun, ada pula yang membuat sebuah tulisan yang menyegarkan agar masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam supaya tidak tersulut emosinya. Sayang, sebuah catatan yang berisi imbauan nasihat tidak begitu digubris, mungkin karena emosi dan amarah yang didahulukan oleh bangsa kita untuk menghadapi suatu persoalan.

Sejak beberapa hari ini, pasca-demo tuntutan atas Ahok, selain media diwarnai berbagai kasus seperti Sari Roti, sebuah komentar anak SMA dari Banyuwangi kembali menjadi sorotan media. Pada mulanya, aku tidak begitu menggubris. Namun, setelah salah satu teman di media sosial membagikan tulisannya dan aku meminta situsnya, akhirnya aku memastikan untuk menemukan profil anak SMA tersebut. Akhirnya, aku menemukan profilnya dari salah satu media sosial. Ia – Afi Nihaya Faradisa – kelahiran 23 Juli 1998. Usia yang sangat muda telah memiliki logika berpikir yang cukup dewasa.

Dalam sebuah status akun media sosialnya, ia menulis tentang peristiwa yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, khususnya terkait isu-isu yang tampak ingin memecah-belah pikiran bangsa Indonesia. Tulisan yang dibagikan di media sosial oleh salah temanku tidak memiliki judul. Namun, tulisan itu perlu kita jadikan bahan reflektif tentang pengaruh buruk berita negatif (yang tampak berisi propaganda politis) dan ponsel pintar yang kita miliki (baca: Tulisan Inspiratif Afi Nihaya Faradisa).

Bagi aku, Faradisa ini merupakan korban ponsel pintar dari berita-berita yang sering diakses. Sehingga, ide-gagasan berupa pemikiran cemerlang hidup melalui suara hatinya yang merasa jengah dengan kondisi yang dihadapi oleh dirinya dan pada umumnya oleh bangsa Indonesia terkait isu SARA yang selalu menjadi hidangan surat kabar online dan cetak.

Sekelas anak SMA kelahiran 1998 ini sudah merasa jengah membaca isu-isu, berita, dan komentar di internet. Apalagi orang dewasa yang pikirannya lebih matang dibanding Faradisa. Tentu mereka seharusnya lebih dewasa lagi dalam berpikir. Bukan malah ke sana-sini menebar komentar berbau permusuhan. Baik, berkomentar sah-sah saja dan hak setiap masing-masing individu. Tapi, setidaknya kita harus melihat dampaknya. Satu hal yang perlu diingat di saat membuat komentar, jangan sampai menebar ide-ide yang memecah-belah masyarakat kita sendiri.

Beberapa kali aku membuat sebuah gagasan agar bangsa Indonesia dan khususnya umat Islam tidak terbawa oleh emosi dalam menghadapi segala macam persoalan. Tapi, sepertinya tidak ada pengaruh sedikit pun. Atau mungkin bangsa kita ini tidak tertarik membaca tulisan-tulisan yang berbau nasihat dan mereka memilih berita yang meracuni pikirannya sendiri. Seharusnya, bangsa kita lebih cerdas daripada anak belum lulusan SMA ini dalam menyikapi segala berita yang beredar.

Aku dibuat kagum oleh status-status di akun Facebook-nya. Tulisannya ringan, namun mencerahkan. Tidak heran jika ada sebagian wartawan media online mendatanginya untuk melakukan wawancara. Ia terbuka dan tidak merasa takut jika diwawancarai dan diterbitkan secara online. Ia yakin dengan pendiriannya untuk kebaikan bersama. Begitu salah satu cuplikan dari status di akun Facebook-nya.

Bangsa Indonesia harus banyak belajar secara aktif, bukan hanya belajar, tapi harus tahu dan memahami secara dalam dengan hati damai serta pikiran tenang. Itu salah satu kunci kemenangan. Dalam situasi penuh emosi, kita tidak sulit untuk berpikir dengan nalar sehat. Kita sudah tentu tahu tentang imbauan dalam mengambil keputusan harus tanpa emosi (marah), karena hasilnya lebih mengarah pada hal-hal yang sifatnya meledak. Lalu, kemudian hari hanya penyesalan yang terjadi.

Persoalan bangsa kita tidak akan mudah diselesaikan jika masyarakat kita sendiri berpikir dangkal penuh emosi (marah) dalam menghadapinya. Mari selamatkan bangsa kita dari berita-berita dan komentar berbau SARA yang mengadu-singa. (*)

Yogyakarta, 11 Desember 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: