Sisi Lain Sejarah Bangsa

Harian Nasional: Sabtu-Minggu, 19-20 November 2016 Nomor 1036 Tahun IV

Indonesia Poenja Tjerita (dok. Junaidi Khab)

Indonesia Poenja Tjerita (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Indonesia Poenja Tjerita

Pengantar        : Zaenuddin H.M

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : II, Mei 2016

Tebal               : xviii + 226 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-238-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Buku ini merupakan sekumpulan catatan sejarah Indonesia yang hampir hilang. Bahkan hampir tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Di Indonesia memang banyak orang yang belajar sejarah. Tapi, banyak pula orang yang tidak mau belajar dari sejarah. Itulah kesalahan kita tentang konsep sejarah. Sejarah seharusnya menjadi cermin bagi kita untuk memperbaiki segala kesalahan dan kekurangan bangsa yang pernah terjadi pada masa lalu.

Dengan ulasan yang santai dan ringan, buku ini menyajikan kisah-kisah – sejarah – perjalanan bangsa Indonesia yang hampir hilang dan terlupakan. Sejak beberapa tahun ini, bangsa kita diajarkan sejarah perjuangan dengan harus mengingat catatan tahun-tahun yang begitu rumit dan sulit dipahami. Tapi, melalui buku ini, pembaca akan menemukan keunikan dalam memahami sejarah perjalanan bangsa Indonesia bahkan bisa tertawa dan tersenyum ketika mengetahui beberapa rentetetan sejarah yang disajikan di dalamnya.

Misalkan, dalam rangking kepemilikan mobil, bangsa Indonesia bukan tertinggal dibanding bangsa-bangsa yang lain di Asia, seperti Thailand. Orang Indonesia pertama yang memiliki mobil yaitu Pakubuwono X atau Raja Kesunanan Surakarta pada tahun 1894 (hlm. 3). Mobil yang dibeli dari Eropa karya Karl Benz. Dengan kata lain, Pakubuwono X satu-satu orang Asia pada tahun 1894 sudah memiliki mobil bermerek Benz (karya Karl Benz) dari Eropa.

Mungkin, mayoritas masyarakat Indonesia – khususnya generasi muda – banyak yang buta tentang sejarah bangsanya sendiri. Sehingga, mereka hanyut oleh budaya luar yang menurut mereka lebih maju. Padahal, kemajuan bangsa kita sudah terlihat sejak abad XVIII dari faktor kepemilikan mobil pertama oleh Pakubuwono X di Kesunanan Surakarta. Pakubowono X membeli mobil melalui perantara John C. Potter untuk mengurus pengiriman dari Eropa.

Bukan hanya di bidang gaya hidup bangsa Indonesia mengalami kemajuan sejak abad XVIII yang tidak diketahui oleh bangsa kita, tapi beberapa sektor lainnya pun tak begitu dihiraukan. Sehingga, bangsa Indonesia yang alamnya kaya-raya bisa dikuasai oleh pihak asing. Tak heran, bangsa kita dibuat terlena dengan budaya asing dan melupakan hakikat dirinya yang sebenarnya memiliki potensi dibanding negara-negara lain di dunia.

Bangsa kita juga melupakan – bahkan tidak mau tahu – para pejuang kemerdekaan Indonesia yang menjadikan kita – secara lahir – terlepas dari tangan-tangan asing. Seperti halnya sosok Wikana (hlm. 123) yang juga merupakan pahlawan proklamator Republik Indonesia. Tapi, sosok Wikana tak begitu dikenal semangat perjuangannya dalam membela tanah air. Hingga perjuangan Wikana tertelan oleh bangsa kita sendiri yang terlena dengan budaya dari luar.

Tidak hanya itu, serentetan sejarah yang hampir hilang disajikan dengan menarik di dalam buku ini. Dari persoalan gaya hidup masyarakat Indonesia sejak abad XVI hingga abad XX bisa dibaca dan dijadikan bahan introspeksi diri. Sejarah perfilman, sepakbola, sosok pahlawan, sekolah, surat kabar dan perbukuan, dan hingga persoalan presiden sebagaimana kita tahu hingga kini ada tujuh presiden di Indonesia, padahal ada sembilan kepresidenan yang menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Buku ini mengingatkan bangsa Indonesia tentang perjalanan nusantara dan mengajak generasi muda kita untuk belajar dari sejarah para pendahulu dengan kegigihan perjuangan hidupnya. Dari buku ini, bangsa Indonesia dan para generasi muda diharapkan untuk mengetahui serentetan sejarah Republik indonesia, lalu mengambil pelajaran untuk membangun negara yang kaya-raya ini. Bangsa kita sebenarnya kaya dengan budaya dan tradisi, bahkan kuliner dalam negeri banyak yang diminati oleh masyarakat internasional. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: