Remaja dan Ajakan Mecintai Buku

Koran Madura: Jumat, 20 Mei 2016

The Magic Library (dok. Junaidi Khab)

The Magic Library (dok. Junaidi Khab)

Judul               : The Magic Library

Penulis             : Jostein Gaarder

Penerjemah      : Ridwan Saleh

Penerbit           : mizan

Cetakan           : I, Januari 2016

Tebal               : 284 hlm;, 20,5 cm

ISBN               : 978-979-433-924-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Karya-karya Jostein Gaarder hadir selalu dengan kata-kata dan kalimat yang memerlukan daya pikir jenius. Kisah-kisahnya memang penuh dengan misteri dan teka-teki. Ciri khasnya tersebut merupakan skema berpikir yang rumit, tapi penuh makna dan arti. Para pembaca kadang pun merasa jenuh, tapi jika proses membaca dilakukan hingga selesai, maka pembaca akan dengan mudah untuk memahami maksud Jostein.

Salah satu karya Jostein yang berjudul “The Magic Library” atau “Perpustakaan Ajaib” ini merupakan sebuah kisah yang menceritakan tentang dunia buku dan literer. Dua anak remaja yang menjadi tokoh utama berperan aktif sebagai penulis buku-surat yang dikirim bolak-balik antara kota Oslo dan Fjærland (hlm. 9). Mereka sekaligus bertindak sebagai detektif pribadi bagi buku-suratnya. Mereka adalah Berit dan Nils, dua sepupu yang melakukan korespondensi dalam melakukan penyelidikan. Pada usianya masih seumuran jagung, mereka sudah membaca banyak buku dan menjadi inspirasi dalam hidupnya.

Penulisan buku-surat yang dilakukan oleh Nils dan Berit bermula dari sosok perempuan tua yang merokok. Di kemudian hari perempuan itu dikenal sebagai Bibbi Bokken, Sang Pemilik Perpustakaan Ajaib. Mereka lebih sering menuliskan kisah-kisah kehidupannya yang selalu dibayangi sosok perempuan tua (hlm. 48). Mulai saat itu, mereka melakukan penyelidikan tentang sosok perempuan tua yang merokok dan penuh misteri (hlm. 57). Lebih-lebih ketika Norwegia akan menyelenggarakan Tahun Buku.

Menjelang perayaan Tahun Buku itu, muncul beberapa dugaan bahwa akan ada buku baru yang akan terbit pada perayaan tersebut. Hal tersebut juga diungkap oleh Berit tentang karya Staalesen (hlm. 114). Dugaan-dugaan mereka semakin kuat untuk menyingkap misteri Bibbi Bokken yang selalu hadir di setiap celah hidup mereka.

Penulisan buku-surat yang dilakukan oleh Berit dan Nils, hakikatnya merupakan strategi Bibbi Bokken agar ada orang yang menulis bibliografi dirinya dan Perpustakaan Ajaib. Pada akhirnya, Berit dan Nils mengenal dengan baik tentang sosok Bibbi Bokken dan orang-orang yang terlibat dalam penulisan buku-surat. Pada Tahun Buku itu, buku-surat Berit dan Nils sebenarnya yang juga ingin diterbitkan sebagai buku baru di Norwegia. Dramatisasi yang dilakukan oleh Bibbi Bokken cukup cerdas dengan menjadi sosok misterius pada mulanya di hadapan Berit dan Nils, hingga lahir buku baru tentang sosok dirinya dan Perpustakaan Ajaib.

Membaca dan Menulis

Dari kisah yang disodorkan oleh Jostein melalui tokoh Berit dan Nils, ada banyak pesan yang tersirat bagi kehidupan umat manusia. Membaca dan menulis tak lain cara membangun peradaban. Membaca bisa dilakukan dengan membuka buku, entah buku anak-anak atau buku apa pun. Dari buku itu, kita bisa menemukan arti sebuah kehidupan dan mengingatkan pada hal-hal yang terlupakan (hlm. 145). Baru, kita menyadari bahwa kita ini benar-benar hidup.

Hal yang sangat mengagumkan, bahwa buku merupakan jendela dunia yang ditulis untuk mengabadikan ide kehidupan. Kemudian, buku dibaca untuk melihat seluruh perjalan hidup. Sebuah gudang kecil akan menjadi perwakilan untuk melihat seluruh isi dunia (hlm. 200). Itulah Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken yang berada di bawah terowongan rumahnya.

Bibi Bokken merupakan gambaran manusia yang hidup dari buku-buku yang dimilikinya. Ia merupakan pecinta buku tulen. Karya-karya monumental penulis terkenal dimiliki, mulai dari buku-buku lawas hingga buku-buku terbaru menjadi bahan bacaan di Perpustakaan Ajaibnya. Karena bagi siapa pun, seperti yang disadari oleh Bibbi Bokken bahwa buku adalah teman terbaik (hlm. 226). Atau, barang siapa yang menemukan buku yang tepat, ia akan berada di tengah-tengah teman terbaik. Di sana kita akan berbaur dengan karakter paling pintar, paling intelek, dan paling luhur; di sana kebanggaan serta keluhuran menudia bersemayam.

Karya Jostein Gaarder ini meskipun tergolong karya rumit untuk dipahami, namun memiliki pesan moral yang sangat agung. Ia menyerukan bagi kita semua supaya gemar membaca banyak buku agar wawasan bertambah dan menulis agar ide yang kita miliki bisa abadi serta dijadikan inspirasi bagi kehidupan generasi berikutnya. Ingat, membaca karya Jostein Gaarder yang rumit dan penuh teka-teki harus runut dan tamat agar mudah untuk menemukan ide cemerlangnya dan gagasan briliannya. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: