Puasa Ramadan dan Substansi Rasa Lapar

Harian Analisa: Rabu, 15 Juni 2016

Puasa dalam Pandangan Cak Nun (dok. Junaidi Khab)

Puasa dalam Pandangan Cak Nun (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Zaman Gendheng 444 Kutipan Penuh Makna Emha Ainun Nadjib

Penulis             : Agus Nur Cahyo

Penerbit           : IRCiSoD (DIVA Press)

Cetakan           : I, Januari 2016

Tebal               : 212 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-391-082-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kini sudah tiba di bulan suci Ramadan. Di bulan ini, umat Islam yang akil-baligh dan mampu tanpa udzur diwajibkan untuk melaksanakan ibadah puasa selama satu bulan. Agama Islam mewajibkan umatnya untuk melaksanakan ibadah puasa bukan semata hanya sekuat tenaga menahwa lapar dan dahaga. Namun, di balik puasa ada nilai-nilai sosio-religiositas yang sangat tinggi.

Melalui karya ini, Agus Nur Cahyo menyuguhkan beberapa pandangan atau pemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun), khususnya tentang puasa di bulan Ramadan. Pada hakikatnya, puasa Ramadan tak lain puasa sepanjang kehidupan. Puasa tak berhenti sesudah Ramadan, sebulan penuh, kita memasuki camp pelatihan. Sesudah itu, menjadi lebih siap bertandan, menepis tipu daya dunia sepanjang kehidupan (hlm. 73).

Segala amal ibadah kebaikan yang dilakukan di bulan Ramadan tidak serta-merta sebatas dilaksanakan pada bulan tersebut. Namun, segala spirit ritual dan ibadah harus digali maknanya sedalam mungkin sepanjang hayat. Terlebih dalam hal memaknai arti zakat atau memberi sebagian harta bagi merak yang miskin.

Kekuatan sebuah rasa lapar dalam berpuasa Ramadan perlu kita temukan makna dan substansinya. Kalau berbicara fisik, lapar itu lebih baik daripada kenyang. Semakin banyak kita lapar, semakin kuat sel-sel dalam tubuh. Itulah mengapa Rasulullah Saw. mengajarkan untuk jangan makan sebelum lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Tetapi, jangan sampai menabrak garis kelaparan. Kelaparan itu sudah mulai tidak sehat, tidak benar, maka anda wajib makan. (hlm. 103-104).

Satu pelajaran yang bisa diambil dari rasa lapar dengan puasa di bulan Ramadan, yaitu sebagai renungan dan bahan refleksi bagi kita tentang rasa sebuah lapar. Jika kita bisa merasakan pedihnya lapar, tentu hati akan tergerak untuk terus mau berbagi dengan mereka yang selalu dilanda kelaparan akibat miskin. Di sinilah, akan tumbuh rasa sosial dan solidaritas yang tinggi untuk berbagi dengan niat sedekah karena Allah Swt. Lapar di bulan Ramadan bukan sekadar mengosongkan perut, namun sebagai tamparan bagi ktia agar juga merasakan pahitnya lapar yang dirasakan oleh mereka yang papa.

Bahkan, Cak Nun mengartikan puasa sebagai media untuk menaklukkan kesenangan. Itulah manfaat puasa. Melatih kita menjadi manusia yang mampu menaklukkan kesenangan. Mampu lebih besar dan mengatasi kesenangan. Mampu minum jamu pahit yang tidak enak. Mampu lapar dan haus. Mampu mengorbankan kesenangan demi kewajiban dari Allah Swt. dan kebaikan sesama umat manusia. Syukur kalau kita memproses batin sedemikian rupa, sehingga kesenangan dan kewajiaban atau kebaikan bisa menyatu (hlm. 123).

Melalui media puasa, kita akan belajar dan berlatih untuk menguasai nafsu. Kita perlu menyadari bahwa, jika nafsu yang suka terhadap hal-hal yang menyenangkan akan melenakan hingga menjerumuskan pada jurang-jurang perilaku negatif. Dengan media puasa di bulan Ramadan sebagai langkah awal untuk mengatur nafsu. Jangan sampai nafsu yang mengatur kita, jika kita ingin menjadi pirbadi yang kuat dan mulai. Tapi, kitalah yang sepatutnya mengatur nafsu kita sendiri.

Dalam pandangan yang lain, Cak Nun juga menyinggung hakikat makanan sejati orang berpuasa. Jika orang menjalankan puasa dengan pengetahuan, ilmu, cinta, dan ketakwaan, dia akan terlatih untuk bertahan pada ‘makanan yang sejati’, yakni terlatih mengambil jarak dan nafsu, tidak melakukan penumpukan kuasa dan milik, tidak melakukan monopoli, ketidakadilan, serta penindasan karena telah diketahui dan dialami bahwa bahwa itu semua adalah ‘makanan palsu’ (hlm. 155). Dengan demikian, kita memahami, sepiring nasi dan segelas air bukan substansi makanan bagi orang yang berpuasa, namun ilmu atau pengetahuan hakikat makanannya.

Buku molek ini merupakan kumpulan berbagai pemikiran Cak Nun. Khususnya terkait keislaman. Selain dikenal sebagai seniman, buadayawan, kiai, dan sebutan lainnya, Cak Nun sangat kritis dan dinamis dalam memaknai segala aspek serta ini kehiudupan. Pemikrian-pemikirannya patut kita jadikan sebagai kontemplasi untuk merenung tentang hakikat kehidupan dan tentunya mengenai substansi puasa di bulan suci Ramadan ini. Selamat membaca dan menjalankan ibadah puasa! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: