Puasa dalam Pandangan Cak Nun

Kabar Madura: Senin, 13 Juni 2016

Puasa dalam Pandangan Cak Nun (dok. Junaidi Khab)

Puasa dalam Pandangan Cak Nun (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Zaman Gendheng 444 Kutipan Penuh Makna Emha Ainun Nadjib

Penulis             : Agus Nur Cahyo

Penerbit           : IRCiSoD (DIVA Press)

Cetakan           : I, Januari 2016

Tebal               : 212 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-391-082-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Memahami makna puasa tidak hanya dilihat dari sudut pandang tertentu; lapar dan haus. Namun, lebih dari itu. Puasa memiliki beragam dimensi bagi kehidupan umat manusia. Memahami puasa harus dilihat dari dimensi dan sudut pandang universal. Agama Islam, tidak serta-merta memerintahkan umatnya menderita kelaparan. Tapi, berlapar di bulan Ramadan merupakan suatu kewajiban. Tentu, di balik anjuran wajib melaksanakan ibadah puasa Ramadan, ada banyak makna yang perlu kita gali.

Karya ini merupakan sebuah kumpulan pemikiran Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang dikemas oleh Agus Nur Cahyo. Cak Nun dalam beberapa forum pernah mengutarakan idenya tentang hakikat puasa Ramadan. Kata Cak Nun, puasa Ramadan hanya simbol utama dari sekian model puasa (hlm. 73). Karena, puasa Ramadan secara substansial tidak hanya dilakukan sebatas satu bulan. Namun, makna dan hakikat perintahnya harus dikerjakan sepanjang hidup.

Berpuasa, belajar berlapar-lapar ria. Namun, bukan untuk main-main. Tapi, agar kita mengetahui dan merasakan derita orang yang kelaparan. Dengandemikian, hati kita bisa lembut dan mau berbagi dengan orang-orang yang hidupnya selalu dilanda kelaparan. Kata Cak Nun, semkian kita lapar, maka sel-sel dalam tubu semakin kuat (hlm. 103). Tak heran, jika Rasullah Saw. menganjurkan puasa, khsusnya puasa wajib bulan Ramadan yang kini sedang dijalani oleh umat Islam.

Bagi Cak Nun, puasa tak lain sebagai media untuk menaklukkan nafsu yang lebih cenderung untuk melenakan diri kita sendiri. Jika nafsu tidak bisa ditaklukkan, hal itu melupkan kewajiban dan hak orang lain. Kita menyadari, bahwa segala sesuatu yang menyenangkan dan bersumber nafsu, belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Nah, dengan puasa, insya Allah nafsu bisa dikendalikan.

Sebuah karya dengan sekumpulan kata-kata dan pepatah penuh makna. Karya ini menyajikan beberapa pemikiran Cak Nun dalam berbagai dimensi dan lini kehidupan sosal, khususnya tentang hakikat berpuasa di bulan Ramadan. Membaca karya ini sedikit banyak hati kita akan tergugah dan merasakan tentang realitas sosial yang sedang kita jalani sepanjang masa. Selamat membaca dan berpuasa di bulan Ramadan! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: