Obat Penghalau Galau

Kabar Madura: Selasa, 15 Maret 2016

Sejenak Hening (dok. Junaidi Khab)

Sejenak Hening (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Sejenak Hening

Penulis             : Adjie Silarus

Penerbit           : Metagraf (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : II, Januari 2014

Tebal               : xviii, 310 hlm.; 21 cm

ISBN               : 978-602-9212-85-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Membaca karya Adji Silarus ini – Sejenak Hening – akan menyadarkan kita tentang hakikat dari sebuah kebahagiaan. Kita membayangkan menjadi bahagia, damai, dan memiliki pikiran tenang kelak. Suatu hari nanti. Di masa depan. Sementara saat ini merasa tidak sempurna. Kita beranggapan bahwa bahagia hanya di masa mendatang dan pada momen-momen tertentu. Padahal tidak, bahagia bisa kapan saja asal kita memahami substansi dan hakikat kebahagiaan itu sendiri.

Ada banyak harapan dan angan-angan seseorang akan merasa bahagia. Misalkan, jika sekarang tidak memiliki mobil, suatu saat nanti jika kita memiliki mobil akan hidup bahagia. Padahal jika kita sudah memiliki mobil, tidak tentu bisa bahagia. Bahkan ada rencana lain yang kita yakini bisa membuat hidup kita bahagia (hlm. 20).

Begitu seterusnya, kebahagiaan seseorang kadang digantungkan pada materi atau situasi tertentu. Anggapan atau pandangan demikian sebenarnya telah memenjarakan dan mempersempit makna sebuah kebahagiaan yang seharusnya mudah didapatkan oleh setiap orang. Bahagia bukan diukur dengan materi atau pun situasi dan kondisi, tapi kesadaran kita untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri yang perlu disadari.

 Jika kita perhatikan, anak-anak lebih sering tersenyum, bahkan tertawa dibanding dengan orang dewasa. Kita (orang dewasa) jarang tersenyum karena begitu banyak masalah yang dipikirkan. Padahal, kalau kita sadar, tidak ada cara yang lebih baik untuk memulai hari baru selain dengan tersenyum (hlm. 47). Itu secercah gambaran tentang bahagia. Anak-anak yang tidak memiliki banyak materi bisa saja bahagia, karena memang bahagia berada dalam diri manusia, tidak ada dalam materi atau situasi tertentu. Selain itu, bahagia dan membahagiakan bisa diciptakan oleh manusia sendiri salah satunya dengan senyuman serta menikmati segala bentuk kehidupan yang ada.

Selain melaui terapi senyum, bahagia juga bsia diraih dengan cara lain, yaitu membangun relasi dengan orang lain. Memiliki hubungan baik dengan banyak orang bisa jadi kondisi yang dibutuhkan supaya hidup bahagia. Uang bisa membeli kebahagiaan, jika uang itu kita gunakan untuk membahagiakan orang lain (hlm. 148). Bukan hanya senyuman saja, tapi kesadaran berbagi dengan orang lain melalu hubungan yang baik akan mengurangi rasa sedih yang bersemayam dalam jiwa. Jadi, tidak heran jika semakin banyak orang yang kita kenal dengan baik, maka kemungkinan hidup murung akan berkurang.

Sebenarnya ada banyak cara agar hidup ini tidak monoton, sedih, dan penuh duka-lara terselubung. Ingat, hidup bahagia tidak bisa diukur dengan materi atau pun kondisi serta situasi tertentu. Tertawa adalah cara indah nan menawan untuk melepaskan emosi-emosi yang membuat kita tidak nyaman, seperti sedih, marah, dan takut. Penelitian membuktikan bahwa tertawa dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mengurangi tekanan darah, dan meningkatkan tingkat serotonin. Hal inilah yang membantu penyembuhan (hlm. 189).

Konsep-konsep sejenak hening di dalam buku ini memang tergolong sedikit penglaman pribadi yang sudah klise. Namun, penerapannya sangat tetap relevan di era yang semakin hari semakin modern dan penuh dengan perubahan dalam hidup. Kelahiran teknologi ke dalam kehidupan manusia tidak dapat menyangkal kemurungan dan rasa resah dalam hidup ini. Melalui terapi sejenak hening ini, kita akan sadar tentang hakikat hidup yang tujuannya untuk bahagia dan cara-cara menciptakan kebahagiaan itu sendiri tanpa harus menunggu waktu dan materi yang tidak menjamin atas kebahagiaan manusia.

Buku ini akan mengajak kita agar sejenak hening dari keriuhan yang menjadikan pikiran stres dan hati penuh dengan kebimbangan. Dengan melakukan sejenak hening seperti yang diajarakan di dalam buku ini, kita akan menemukan hakikat kebahagiaan melalui peneyadaran diri dengan konsep merenung. Tentu dari cara kita menyikapi hari yang kita lalui dengan segala problematika yang menyertainya. Dengan cara yang diajarkan di dalam buku ini, kita tidak akan dilanda rasa stres, galau, sedih, dan psimis dalam menjalani perputara roda kehidupan yang dinamis ini. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: