Menyingkap Rahasia Orde Baru

Solopos: Minggu, 16 Oktober 2016

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (dok. Junaidi Khab)

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Penulis             : Salim Haji Said

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 292 hlm.; 23,5 cm

ISBN               : 978-979-433-952-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Dalam rentetan perjalanan sejarah bangsa Indonesia, Soeharto merupakan salah satu pemegang tampuk kekuasaan-kepresidenan yang paling lama. Masa kekuasaan pemerintahan Soeharto melebihi seperempat abad, tiga puluh dua tahun lamanya. Bukan waktu yang singkat. Tidak heran, jika ia benar-benra menjadi sosok pemimpin yang otoriter karena keberlangsungan kekuasaannya yang begitu lama. Namun, seiring roda perjalanan hidup pemerintahan Indonesia berputar, Soeharto pun pada akhirnya harus lengser dari jabatannya.

Buku ini merupakan salah satu karya Salim Haji Said yang menelusuri perjalanan politik pemerintahan Orde Baru yang dikuasai oleh Soeharto. Dengan analisis yang sangat teliti dan tajam, Said berusaha menyajikan data-data dan sumber tentang politik Soeharto dalam memegang tampuk kepresidenan. Dengan ulasan yang sangat kritis, Said sedikit-banyak berhasil menyingkap rahasia di balik kekuatan Soeharto yang bisa menguasai Indonesia lebih dari seperempat abad itu.

Soeharto menjadi presiden Indonesia dalam kurun waktu yang lama bukan hanya hasil usahanya sendiri. Tapi, orang-orang di sekitarnya yang menjadi tulang punggung atas tonggak kekuasaannya. Kenaikan Soeharto ke kursi kepresidenan tak lepas dari peran Tiga “King Maker”, di antaranya; Letnan Jenderal TNI (Purn.) Ahmad Kemal Idris, Hartono Rekso (H.R.) Dharsono, dan Sarwo Edhi Wibowo (hlm. 25). Pada awal pasca-Orde Lama, mereka bertiga secara bersama telah bekerja keras menyingkirkan Sukarno agar terbuka jalan kekuasaan bagi Soeharto.

Bisa dikatakan bahwa Soeharto duduk ke tampuk kepresidenan tak lepas dari tangan-tangan orang di sekitarnya. Sebagian ahli sejarah menyebutkan, Soeharto adalah sosok pribadi yang oportunis. Di mana ada jalan senggang, ia akan segera memasukinya. Melalui Surat Perintah Sepuluh Maret (Supersemar), akhirnya Soeharto menjadikan kuasa presiden Sukarno itu sebagai jimat untuk melakukan kudeta kepemimpinan Orde Lama. Tentunya, dengan tangan-tangan orang yang ada di sekitarnya yang menjadi penopang kursi kekuasaannya pada masa Orde Baru.

Soeharto bisa dikatakan sebagai pemimpin yang sakti karena bisa menguasai Republik ini cukup begitu lama. Jalur politik yang ditempuh Soeharto sebagaimana diulas oleh Salim Haji Said, ia selalu waspada terhadap segala macam ancaman yang menjadi lawan politik kekuasaannya. Hal itu terbukti di saat untuk menguatkan posisi politik kepemimpinannya, orang-orang kiri dan Sukarnois dibersihkan. Bahkan setelah itu, baru tiba giliran teman seiring, para pendukung disingkirkan (hlm. 28). Jadi, tidak heran jika kekuasaan kepresidenan Soeharto selama tiga puluh dua tahun sulit digeser oleh kalangan tertentu dari lawan atau kawan politiknya.

Sungguh luar biasa strategi politik yang dibangun oleh Soeharto demi memertahankan tampuk kekuasaannya. Segala macam ancaman yang disinyalir terdengar dari intel-intel yang disebar harus segera disingkirkan. Bahkan, orang-orang kepercayaan dan yang menjadi tulang punggung kekuasaannya sendiri pun menjadi korban atas otoritarianisme Soeharto.

Selain itu, Soeharto juga membangun tembok-tembok politik untuk mengontrol gerakan lawan-lawan politiknya. Seperti Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) buatan Soeharto. Sementara untuk mengontrol orang-orang di dalamnya, ia menempatkan BJ Habibie di dalamnya (hlm. 110). Lebih dari itu, sebagai pemeluk Islam abangan, Soeharto di saat kekuatan politiknya sudah tampak rapuh, ia melakukan persuasi dengan orang-orang Islam. Tujuannya untuk mendapat posisi di kalangan umat Islam. Sementara pada mulanya Soeharto sangat tidak suka dengan golongan Islam.

Buku ini menjadi sebuah referensi untuk menyaksikan, menelusuri, dan menganalisis tentang perjalanan politik kekuasaan Soeharto pada masa Orde Baru. Dengan analisis dan sumber sejarah yang kompatibel, Salim Haji Said berhasil merekam jejak perjalanan politik kekuasaan Soeharto dengan ulasan ilmiah yang bisa dipertanggung-jawabkan. Kisah-kisah dan sumber sejarah yang dipadukan dengan pengalaman pribadi menambah eksotisme karya ini dalam menelusuri sejauh tiga puluh tahun masa pemerintahan Orde Baru. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: