Mengimbangi Perlawanan Feminisme

Koran Sindo: Minggu, 28 Februari 2016

Super Father (dok. Junaidi Khab)

Super Father (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Super Father

Penulis             : Amanda Ratih Pratiwi dan Tim FLP Bekasi

Penerbit           : Metagraf (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Januari 2015

Tebal               : xii, 252 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-257-109-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Peran penting seorang ayah kepada anak dan istrinya dengan tanggung jawab penuh harus benar-benar diberikan. Seorang ibu dengan kehalusan perangainya jangan sampai menelantarkan anak-anaknya, juga tanggung jawabnya kepada suami. Begitu pula dengan anak-anak, mereka harus tetap berbakti dan berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ayah dan ibu. Dengan demikian, feminisme tidak akan menjadi penentang berat atas keberadaan maskulinisme di era modern saat ini.

Membaca kumpulan esai tentang seorang ayah dalam buku yang berjudul “Super Father” ini akan memantik kehidupan rumah tangga yang lebih rukun dan harmonis. Ada banyak kisah di balik sikap keras dan dingin seorang ayah. Sebagaimana lumrah dalam lingkungan keluarga, ayah selalu dipandang sebagai sosok yang sangat menakutkan. Padahal, itu semua hanya sebatas sikap dan bentuk luarnya saja. Di balik sikap keras dan dingin seorang ayah, ada sisi kearifan atau nilai-nilai kasih sayang serta pendidikan yang tersirat di dalamnya.

Seperti yang dikisahkan oleh Suci Rachmawati Yusuf. Seorang ayah yang dipandang sebagai sosok dingin dan keras, pada hakikatnya dia adalah seorang pahlawan yang berjuang untuk kehidupan anak-anaknya. Seorang ayah rela melakukan banyak hal, memeras keringat dan membanting tulang untuk biaya hidup anak dan keluarganya di rumah (hlm.1).

Sebenarnya, peran dan jasa seorang ayah tidak kalah jauh berbeda dengan seorang ibu. Tapi, kadang karena secuil sikap kerasnya, seorang ayah dipandang sebagai orang yang berwatak kurang bijak dan tidak menghargai anak-anak dan keluarganya. Di sini kekeliruan yang perlu diperbaiki kembali. Jangan hanya melihat secuil sikap keras seorang ayah ketika mendidik anak-anaknya, tapi lihatlah perannya yang begitu besar bagi kehidupan rumah tangga.

Atap dan Tiang

Jika pepatah mengatakan bahwa seorang ibu adalah fondasi kehidupan rumah tangga, maka ayah adalah atap dan tiangnya. Begitulah hubungan timbal balik antara seorang ibu dan ayah dalam bahtera kehidupan rumah tangga. Mereka tidak bisa dipetak-petakkan satu sama lain. Jika salah satu di antara mereka – ayah dan ibu – mengalami goncangan, maka anak-anaknya akan menjadi korbannya. Ibarat tiang dan atap roboh karena fondasinya tidak kuat, maka di tengah-tengah bangunan itulah yang akan tertimpa reruntuhan bangunan tersebut. Tiada lain, anak-anak juga akan mengalami kegoncangan jiwa. Bahkan bisa lebih parah dari hubungan ayah-ibu yang sedang tidak akur.

Maka dari itu, buku ini akan mengajak para pembaca dan para keluarga agar tetap membangun kehidupan keluarga yang utuh antara ayah-ibu-anak. Karya ini sangat membantu untuk melihat kembali tentang peran dan fungsi sebuah keluarga agar tetap utuh dan bersatu untuk menggapai pantai yang penuh dengan kebahagiaan.

Kisah-kisah dalam karya ini ditulis oleh banyak kalangan dengan sudut pandang yang berbeda, sehingga akan memperkaya pemahaman tentang hakikat seorang ayah dalam kehidupan berkeluarga. Sayang, karya ini tidak fokus pada kisah-kisah tentang sosok ayah, di dalamnya juga diulas tentang sosok seorang ibu yang diibaratkan sebagai fondasi keluarga. Tapi, hal tersebut bukan menjadi cela bagi karya ini, pembahasan sosok seorang ibu dalam karya ini akan memperkaya khazanah keilmuan kita untuk memandang sebuah rumah tangga atau keluarga dari sudut pandang yang berbeda dan lebih luas.

Sebagaimana kita tahu bahwa ayah adalah sosok yang jarang dibicarakan, bahkan mungkin jarang dirindukan. Tegas, keras, dan kaku, itulah karakter yang mungkin selama ini melekat pada sosoknya. Padahal, ketahuilah bahwa di balik sikap kerasnya, ada hati yang sangat sensitif dan penyayang. Di balik sifat dinginnya, ada jiwa yang hangat dan rindu kehangatan. Di balik sosok tegarnya, ada kerapuhan yang tertahan. Maka dari itu, seorang anak jangan sampai membeda-bedakan antara ayah dan ibu untuk berbakti. Begitu juga dengan seorang ayah dan ibu harus memberikan dan mengarahkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Melalui karya ini diharapkan tumbuh subur seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya, begitu pula sebaliknya. Amin. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: