Menghormati Ayah Kita

Tribun Timur: Minggu, 14 Agustus 2016

Menghormati Ayah Kita (dok. Junaidi Khab)

Menghormati Ayah Kita (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Super Father

Penulis             : Amanda Ratih Pratiwi dan Tim FLP Bekasi

Penerbit           : Metagraf (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Januari 2015

Tebal               : xii, 252 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-257-109-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Menghormati kedua orang tua adalah kewajiban anak-anak dalam sebuah keluarga. Sebagaimana digambarkan dalam al-Quran surat al-Isra’ ayat 23 Allah Swt. berfirman: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua (ibu-bapak). Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.

Tapi, kadang-kadang seorang anak lebih menaruh hormat dan perhatian hanya kepada sosok ibu yang dipandang sebagai perempuan penuh kasih sayang dan kelembutan sikap. Sering seorang anak kadang tidak suka kepada sosok ayahnya yang memang kita tahu bahwa ayah berkarakter keras dan kaku bagi anak-anaknya. Sehingga, tidak heran jika sosok ayah kadang dinomorduakan oleh anak-anaknya. Di sinilah terjadi diskriminasi rasa hormat dalam lingkungan keluarga, anak-anak lebih menaruh hormat kepada sosok ibu dibanding kepada ayahnya.

Kehadiran kumpulan esai tentang sosok ayah yang termaktub dalam buku berjudul “Super Father” ini akan mencoba menghilangkan diskriminasi sosok ayah yang kadang dinomorduakan oleh anak-anaknya dalam memberikan hormat. Karya ini mengingatkan kita tentang peran seorang ayah dalam membangun keluarga, sehingga pembaca sadar bahwa orang yang memiliki banyak peran bukan hanya seorang ibu, tapi keduanya – ayah dan ibu. Misalkan Ardani dalam satu ungkapannya menyatakan bahwa ayahnya yang mengubah rumah sederhananya menjadi istana tempat mendidik dan membimbing dirinya (hlm. 130). Tidak jauh dari peran seorang ayah, rumah tangga bisa berdiri karenanya selain memang seorang ibu yang menjadi fondasinya.

Sebagai Pahlawan

Meminjam bahasa Majid Sulaiman Daudin (2014:1), dia mengatakan bahwa kehidupan keluarga (rumah tangga) pada hakikatnya adalah sebuah kerajaan iman. Dalam artian, seorang ayah (suami) adalah rajanya, dan seorang ibu (istri) adalah ratunya. Suami adalah raja yang memimpin kerajaan dan mengendalikan semua urusannya, karena dialah yang menerima beban dan tanggung jawab serta amanat (baca: al-Nisa’ [34]).

Dengan bahasa lain, seorang ayah berperan dan bertanggung jawab atas segala urusan yang bersifat eksternal. Sementara seorang ibu berperan dan bertugas untuk mengurus segala hal yang bersifat internal. Kadang, di antara mereka mengerjakan tugas masing-masing secara berkelindan untuk saling bahu-membahu satu sama lain, sehingga urusan lebih ringan dan mudah. Karya ini seakan tak ingin melupakan sosok ayah sebagai pahlawan keluarga, sehingga tampak pula menomorduakan seorang ibu meski sebagian ada yang menceritakan tentang sosoknya, tapi tidak begitu banyak ulasan tentang sosok ibu.

Sebenarnya kehadiran karya ini mengundang dilema antara menghormati ayah atau ibu saja, karena karya ini secara umum hanya menomorsatukan sosok ayah dan seakan menomorduakan ibu. Maka dari itu, sebuah antologi baru yang membahas tentang sosok ibu diperlukan. Sehingga kedua orang tua – ayah dan ibu – tidak dipandang sebelah mata dalam kehidupan keluarga.

Umumnya, karya ini menobatkan seorang ayah sebagai pahlawan sebuah keluarga tanpa mengingat banyak tentang sosok ibu yang semestinya juga mendapat tempat di dalamnya. Dengan bahasa sederhana, Fitta Astriyani menyebut ayahnya sebagai pahlawan kalpataru (hlm. 226). Seperti yang kita tahu, bahwa pahlawan kalpataru utama dalam keluarga adalah ibu yang melahirkan anak-anaknya dengan segenap jiwa dan raganya sebagai taruhan hidupnya.

Kisah menakjubkan bersama ayah akan membangkitkan kenangan indah tentang memiliki orang tua. Pun, mengingatkan bahwa cinta seorang ayah yang sering kali tak tersampaikan selembut ibu. Namun, kasih ayah yang berpeluh, berdebu, dan berkeringat mengantarkan kita kisa bisa menjadi orang yang berdiri dengan tegak seperti sekarang. Buku ini merupakan antologi tentang ayah yang sangat mengesankan. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: