Di Balik Kekuasaan Orba

Harian Nasional: Sabtu-Minggu, 5-6 November 2016

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (dok. Junaidi Khab)

Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto

Penulis             : Salim Haji Said

Penerbit           : Mizan

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 292 hlm.; 23,5 cm

ISBN               : 978-979-433-952-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kita bisa menyebut masa jabatan Soeharto dalam memangku kursi kekuasaan kepresidenan Republik Indonesia penuh dengan misteri. Dalam hal ini, Orde Baru (Orba) yang ada di bawah kekuasaannya mampu bertahan cukup begitu lama, tiga puluh dua tahun. Sudah barang tentu, di balik itu semua karena politik Soeharto benar-benar sangat kuat dalam memertahankan posisinya sebagai orang nomor satu di Republik ini.

Buku ini mencatat kasus-kasus yang menunjukkan tentang cara Soeharto menguasai tentara. Jenderal Ahmad Kemal Idris, H.R. Dahrsono, Sarwo Edhi Wibowo, Sumitro, Ali Murtopo, Benny Moerdani, dan banyak lagi lainnya, adalah tokoh-tokoh yang pada suatu titik dalam perjalanan karir militer mereka dipersepsikan Soeharto sebagai potensi yang mengancam kekuasaan sang Presiden. Oleh karena itu, sesegera mungkin mereka disingkirkan dari pendopo kekuasaan (hlm. 11).

Pada mulanya, Soeharto memang menggunakan tangan-tangan dan otak orang yang ada di dekatnya. Segala kekuatan mereka dikerahkan sebaik mungkin guna memperoleh kekuasaan mutlak. Tetapi, perlahan namun pasti, satu persatu di antara mereka disentil. Bukan karena persoalan remeh, hal itu berangkat dari ketakutan Soeharto terhadap orang-orang kepercayaannya yang mulai sudah tidak loyal lagi.

Jadi, segala bentuk macam kemungkinan yang akan mengancam kekuasaannya, maka harus segera dilenyapkan. Termasuk Kemal Idris, Ali Murtopo, dan Benny Moerdani merupakan orang-orang terdekatnya di kalangan militer yang disingkirkan. Politik ‘lepas-tempel’ jabatan merupakan langkah Soeharto untuk menjaga keutuhan kursi kekuasaannya. Secara tidak langsung, politik ini menggeser orang-orang yang dicurigai mengancam kekuasaan Soeharto yang kemudian tidak memiliki kekuatan.

Tokoh yang banyak diulas di dalam buku ini sebagai tangan kanan Soeharto yaitu Benny Moerdani. Namun, berselang beberapa kurun waktu, kecurigaan Soeharto kepada Benny muncul. Kecurigaan tersebut berdasarakan pengamatan Soeharto atas Benny yang memang sangat tidak percaya pada politisi sipil. Ini ada kaitannya dengan Sudharmono. Padahal, salah satu tugas Sudharmono sebagai Ketua Umum Golkar adalah melaksanakan perintah Soeharto merekrut tokoh-tokoh sipil untuk mengisi jajaran pimpinan organisasi tersebut (hlm. 95).

Bukan hanya itu, kecurigaan-kecurigaan Soeharto kepada orang terdekatnya selalu membayangi pikirannya. Sehingga, sikap mawasdiri sebagai usaha antisipasi dari orang-orang yang menginginkan jabatan Soeharto lengser, ia selalu melakukan tindakan otoriter atas kehendaknya sendiri. Sehingga, tidak heran jika Soeharto bertahan sekian lamanya di atas tampuk kekuasaan Republik ini.

Jika kita amati secara mendalam, buku ini mengulas mengenai dua politik Soeharto dalam memertahankan kursi kekuasaan Orba. Pertama, politik ‘lepas-tempel’, dalam artian, orang-orang yang dicurigai akan mengancam kekuasaannya akan segera dilengserkan atau pindah jabatan dan digantikan dengan orang-orang yang menurutnya lebih loyal. Kedua, politik pendekatan kultur sosial. Di mana ada kelompok yang akan menjadi kekuatan politik bagi Soeharto dan tidak menjadi ancaman, hal itu akan didekati baik secara persuasif atau dengan meniru ‘bunglon’.

Lebih dari itu, Soeharto juga membangun kekuatan politiknya melalui kekuatan-kekuatan kelompok dan organisasi tertentu. Hal itu dilakukan demi stabilisasi dan dukungan penuh atas kekuasaannya. Seperti halnya komando jihad pada mulanya diciptakan, tapi kemudian dihancurkan (hlm. 118). Ini adalah salah satu cara Ali Murtopo – tulang punggung Soeharto – untuk “meneror” kekuatan Islam politik, terutama menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1971. Waktu itu kubu Soeharto masih belum yakin pada kesanggupan Golkar – kendaraan politik tentara – mengumpulkan suara secara signifikan dalam Pemilu umum pertama pada masa Orde Baru.

Buku ini merupakan sebuah kesaksian sejarah atas perjalanan politik kekuasaan Soeharto sehingga bisa bertahan selama kurun waktu tiga puluh dua tahun. Segala bentuk monopoli kekuasaan – diktator dan otoriter – di bawah kepemimpinan Soeharto bisa dibaca dengan rinci di dalam buku ini. Kilasan sejarah yang – sebut saja –melampaui zaman kekuasaan, akan memberikan pelajaran dan cara pandang kita terhadap kekuasaan dalam era atau masa tertentu. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: