Bercerita kepada Allah tentang Jodoh

Harian Analisa: Rabu, 23 November 2016

Ya Allah Dia Bukan Jodohku (dok. Junaidi Khab)

Ya Allah Dia Bukan Jodohku (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Ya Allah Dia Bukan Jodohku

Penulis             : Ahmad Rifa’i Rif’an

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, Agustus 2016

Tebal               : 141 halaman

ISBN               : 978-602-418-045-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Hidup penuh dengan misteri. Manusia harus mampu menyingkap rahasia di balik misteri kehidupan ini. Namun, kemampuan manusia sangat terbatas. Hal itu bisa kita lihat bahwa kematian menjadi peristiwa yang tidak bisa ditebak atas atas kehendak Allah Swt. Maka dari itu, sebuah keimanan sangat diperlukan sebagai penopang keterbatasan kemampuan manusia. Sejatinya, di balik misteri hidup ini ada campur tangan Tuhan yang perlu kita selami di bawah lautan pengetahuan dan keyakinan.

Kehadiran karya ini merupakan salah satu pengantar untuk melihat kehidupan yang penuh misteri ini dari sudut pandang keimanan dan mata batin kebaikan. Ada banyak peristiwa yang kadang terasa janggal dan tidak adil di mata manusia. Padahal, substansinya hal tersebut akan menjadi jalan terbaik bagi manusia sendiri. Cuma kadang kita tidak menyadari dengan melihat dari sudut pandang ketidaktahuan dan egoisme yang terlalu tinggi.

Misalkan suratan takdir tentang persoalan jodoh. Ada seorang perempuan yang mencintai seseorang, tapi dia tidak bisa menikah dengannya. Dia menyalahkan Tuhan di balik kejadian yang menimpanya (hlm. 9). Tidak bisa menikah dengan orang yang kita cintai, mungkin itu jalan terbaik. Kita tidak tahu rahasia hati masing-masing orang. Hanya Tuhan yang tahu dan tiap pribadi masing-masing.

Seorang perempuan yang tidak bisa menikah dengan orang yang dicintainya, bukan berarti Tuhan tidak adil. Tentu Tuhan memiliki kehendak yang lebih baik. Memang, jika dilihat dari sudut pandang egoisme dan kekerdilan jiwa, Tuhan tidak adil. Tapi, jika kita melihat dari sudut pandang mata batin dan jiwa yang jernih, kita akan mampu menemukan rahasia di balik keinginan kita yang selalu gagal. Manusia harus pandai menggali hikmah kebijaksanaan dari setiap peristiwa yang dialaminya di dalam kehidupan dunia yang penuh misteri ini. Karena di luar kita ada kendali Tuhan yang tidak bisa kita rasakan hanya menggunakan kemampuan berpikir dengan otak yang sangat terbatas ini.

Ada seorang lelaki yang sudah melamar seorang wanita. Namun, dia harus meninggalkannya dalam sementara waktu atas pekerjaan yang harus diselesaikan. Tetapi, suatu ketika cincin yang sudah diberikan dikembalikan sebagai tanda perempuan tadi tidak membatalkan lamaran yang sudah terjadi. Sementara perempuan itu menerima lamaran orang lain (hlm. 20). Suatu kisah hidup yang sangat menyedihkan. Bahkan membawa guncangan batin yang sangat mendalam. Orang yang kita cintai untuk menjadi calon pendamping hidup menerima lamaran orang lain dan mengembalikan lamaran pertama dari seorang lelaki yang mencintainya.

Pada mulanya, lelaki itu merasa terpukul dan tentu sedih tiada terkira. Pada saat itu, dia melibatkan Tuhan yang tidak adil. Padahal tidak, Tuhan memang tetap adil. Jika kita lihat dari sudut pandang secara manusiawi, itu memang tidak adil. Namun, kita bisa melihat dari sudut pandang mata batin yang jernih bahwa kejadian itu menjadi bukti bahwa Tuhan tetap adil. Atas kejadian itu, Tuhan sebenarnya ingin menjauhkan lelaki itu dari perempuan yang tidak setia. Sementara kesetiaan akan menjadi penopang kehidupannya di masa depan nanti.

Maka dari itu, manusia dianjurkan untuk memohon kepada Allah Swt. sebagai bentuk bagian dari usaha agar segala yang kita terima menjadi yang terbaik dalam hidup. Sayangnya, kadang kita terburu-buru untuk menagih doa agar terkabul. Banyak di antara yang buruk sangka kepada Allah Swt. karena mengira Dia tak mendengar doa dan permohonan yang kita lakukan (hlm. 100). Tuhan sudah berjanji di dalam al-Quran bagi orang yang berdoa kepad-Nya akan dikabulkan. Tapi, tetap saja kadang kita merasa doa yang kita panjatkan tidak terkabul.

Dari sudut pandang lain, mungkin Tuhan telah mengabulkan doa yang kita panjatkan. Cuma kita tidak tahu cara Tuhan mengabulkannya. Misalkan, kita dilanda kekeringan, berdoa kepada Tuhan agar diberikan air. Usai berdoa, cangkul, linggis, sekop yang ada tak pernah kita gunakan untuk mencari air. Padahal, alat-alat itu sudah diberikan oleh Tuhan untuk menemukan air yang tersimpan di dalam perut bumi. Sebenarnya, kita perlu berpikir kembali bahwa doa kita benar-benar dikabulkan. Hanya karena nafsu dan mata batin kita yang buta, tak bisa menemukan sesuatu yang kita minta kepada Tuhan.

Karya kecil ini jangan sampai kita sepelekan. Isinya mengajak kita untuk bercerita bersama Tuhan agar hidup kita menemukan kebahagiaan sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Sebuah kisah ringan dengan hikmah mendalam bisa kita temukan di dalam buku ini guna mendekatkan diri kepada Allah Swt. – Tuhan semesta alam. Dengan belajar dari buku ini, kita akan menemukan jiwa yang lapang, luas, dan penuh dengan reranting kebahagiaan di balik segala sesuatu yang kita anggap gagal. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: