Puasa Bisa Menyehatkan

Harian Analisa: Jumat, 17 Juni 2016

Fakta Ilmiah tentang Puasa Bisa Menyehatkan (dok. Junaidi Khab)

Fakta Ilmiah tentang Puasa Bisa Menyehatkan (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Keajaiban Enzim Awet Muda

Penulis             : Hiromi Shinya. M.D.

Penerbit           : Qanita

Cetakan           : Ed/Baru/I, November 2015

Tebal               : 180 h.; 19 cm

ISBN               : 978-602-1637-91-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Mungkin di antara kita – khususnya umat Islam – pernah mendengar suatu hadis, entah itu shahih atau tidak. Tapi mendekati pada hadis shahih yang berbunyi; “Berpuasalah kalian, maka kalian akan sehat.” Dari hadis tersebut ada banyak penafsiran dan penelitian bahwa berpuasa memang benar-benar menjadikan seseorang menjadi sehat. Ada banyak pengaruh positif berkat berpuasa. Seseorang yang akan menjalani operasi dianjurkan tidak makan (berpuasa) dalam tanda kutip. Alias mengurangi makan dan minum demi kelancaran proses operasi.

Melalui karya ini, Hiromi Shinya berusaha untuk menyingkap rahasia di balik puasa bagi kesehatan dan menjadi awet muda. Ada beberapa penjelasan yang lebih rasional dibanding dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengatakan berpuasa sehat karena terjadi pembakaran lemak bagi mereka yang kelebihan lemak. Padahal alasan tersebut tidak berlaku bagi orang yang tidak memiliki lemak – kurus.

Namun, Shinya lebih jeli, teliti, dan logis dalam memaparkan tentang puasa yang bisa membuat seseorang menjadi sehat. Bahkan bisa menjadikan seseorang awet muda. Kita sudah tahu, bahwa melewatkan satu atau dua kali makan tidak akan menyebabkan kematian dengan segera. Yang kita tahu sekarang adalah sedikit kelaparan akan memicu aktivitas pabrik daur ulang dalam sel-sel tubuh kita (hlm. 37).

Dengan kata lain, tubuh memiliki kemampuan melakukan regenerasi sel selama kita tidak makan, berpuasa. Salah satu hasil proses ini adalah protein cacat diubah dan digunakan sebagai bahan bakar untuk membuat protein baru. Ini merupakan sistem yang bagus. Sel kemudian didetokfikasi dan diisi oleh energi yang lebih baik secara berkelanjutan.

Selain itu, demi menjaga kesehatan tubuh dan perbaikan sel-sel tubuh secara optimal, Shinya menyarankan agar mengonsumsi bahan makanan yang bersifat nabati – dari tumbuh-tumubuhan alami dan mengurangi bahan makanan yang bersifat hewani. Karena makanan berbasis hewani memang memiliki protein dan menghasilkan energi untuk tubuh, tetapi pada saat yang sama mengandung lemak dan kolestrol hewani yang tidak baik bagi tubuh (hlm. 68).

Selain itu, makanan yang berbasis hewani – seperti susu, yagurt, dan keju – tidak mudah dicerna oleh usus. Sehingga, jangan heran jika feses masyarakat yang mengonsumsi makanan berbasis nabati lebih baik dibanding masyarakat yang mengonsumsi makanan berbasis hewani. Hal dikarenakan proses pencernaan lebih mudah makanan yang berbasis nabati dibanding hewani.

Vegetarian belakangan ini benar-benar diminati. Hal tersebut bukan tanpa alasan yang logis. Karena memang makanan yang berbahan nabati lebih sehat. Sementara makanan yang berbasis hewani seperti susu dan daging merupakan kontributor terhadap kejadian sembelit – buang air besar tidak lancar (hlm. 88). Terutama karena makanan ini tidak memiliki kandungan serat makanan, sehingga sulit di usus tidak mudah berjalan dengan licin.

Shinya berhasil mengkombinasikan dua pola cara agar masyarakat tetap sehat dan awet muda, yaitu berpuasa (ala Shinya) dan mengonsumsi makanan berbasis nabati. Dengan kata lain, agar masyarakat menjaga pola makan yang sehat dengan mengonsumsi bahan makanan yang berbasis nabati dan diselingi dengan puasa yang akan menjadikan sebagai terapi awet muda dan gerbang kesehatan tubuh.

Kehadiran karya ini sebenarnya kontribusi yang positif bagi perjalanan hidup kita sebagai umat manusia yang membutuhkan ksehatan. Namun, karena redaksi penulisan buku ini merupakan sebuah terjemahan, maka pembaca diharuskan lebih peka dalam memahami setiap kata dan kalimatnya. Ketidakpekaan dalam unsur memahami kata dan kalimat akan membuat pembaca salah paham dalam mengaplikasikan berbagai teori dan saran yang disajikan.

Di dalam buku ini ada banyak hal yang dibicarakan oleh Hiromi Shinya terkait dunia kesehatan. Khususnya tentang menjaga pola makan yang sehat dan terapi puasa sebagai penunjang kesehatan tubuh. Karena ketika perut tidak diisi makanan (berpuasa), tubuh terus melakukan daur-ulang dan produksi yang ada di dalamnya, maka tubuh akan mendaur-ulang sel-sel mati dan yang rusak. Kemudian, ketika makan makanan yang sehat, maka sel yang mati dan rusak akan diganti oleh sel baru yang berasal dari makanan yang sehat. Sehingga, tubuh terasa sehat dan bugar kembali, bahkan akan lebih awet muda. Selamat membaca dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: