Merayu Tuhan dengan Doa dan Ibadah

Harian Analisa: Jumat, 20 Mei 2016

Diguyur Cinta dan Pertolongan Allah (dok. Junaidi Khab)

Diguyur Cinta dan Pertolongan Allah (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Diguyur Cinta dan Pertolongan Allah

Penulis             : Abdul Hamid

Penerbit           : Saufa (DIVA Press)

Cetakan           : I, Maret 2016

Tebal               : 114 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-296-204-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Membaca karya ini, hampir sama dengan berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan metode-metode yang dijelaskan di dalam karya ini kita akan menemukan benang merah dari suatu keinginan yang kadang merasa tak kesampaian. Salah satu kunci untuk menemukan benang merah harapan yang kita inginkan agar mudah dirajut dengan baik, tentu kita harus mendekat kepada Allah Swt. dengan melakukan doa dan ibadah.

Hakikat penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah Swt. Dengan demikian, beribadah menjadi kewajiban yang wajib dilaksanakan. Baik yang wajib atau yang sunnah. Kita tidak tahu tentang ibadah wajib yang kita kerjakan itu diterima atau tidak oleh Allah Swt. Maka dari itu, ibadah sunnah bisa menjadi penunjang segala kekurangan yang terdapat dalam ibadah wajib yang kita kerjakan (hlm. 5).

Namun, ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar ibadah yang kita kerjakan memiliki peluang diterima oleh Allah Swt. Di antara langkah tersebut yaitu; beriman kepada Allah Swt. (hlm. 12), niat ikhlas (hlm. 13), dan mengikuti ajaran Rasulullah Saw. (hlm 16). Mungkin perlu menjadi semacam tamparan bagi kita. Bersedekah, beribadah, dan berdoa harus disertai dengan niata-niat mulia. Tanpa melakukan niat mulia tersebut, kemungkinan besar apa yang kita lakukan tidak akan maksimal hasilnya.

Ada banyak ibadah sunnah yang menjadi media atau sarana untuk memperoleh kasih sayang dari Allah Swt. Karya ini hanya memaparkan sebagian dari sekian banyak ibadah sunnah yang sifatnya vertikal. Yaitu, ibadah yang berhubungan dengan Tuhan. Meskipun juga secara eksplisit juga disinggung mengenai ibadah horizontal. Yaitu, ibadah yang berkaitan dengan sesama manusia. Sedangkan amal ibadah sunnah vertikal yang sering menjadi amalan rutin sehari-hari di antaranya yaitu; shalat Dhuha (hlm. 33), shalat Tahajjud (hlm. 44), dan shalat berjamah (hlm. 61), serta beberapa shalat sunnah yang bisa dijadikan bahan rujukan oleh pembaca.

Pada hakikatnya, antara ibadah sunnah vertikal dan ibadah horizontal ada saling keterkaitan sau sama lain. Dua model ibadah tidak dapat dipisahkan. Beribadah kepada Allah Swt. tak menutup kemungkinan juga memiliki peran penting bagi kehidupan umat manusia. Begitu pula sebaliknya. Ibadah horizontal juga bisa menjadi ibadah sunnah vertikal ketika cara mengerjakannya benar. Yaitu melalui niat yang digetarkan di dalam hati kita masing-masing.

Bahkan, ada ibadah yang menyimpan banyak misteri antara rahasia kekuasaan Tuhan dan secara tersirat juga menyimpan rahasia mulai bagi kehidupan sesama manusia. Misalkan puasa. Puasa bukan semata memenuhi kewajiban atau sunnah karena Allah Swt. Di balik itu semua, ada nilai-nilai sosial yang perlu digali secara mendalam oleh yang melaksanakannya. Dengan kata lain, ibadah sunnah vertikal juga harus ditunjang dengan beberapa puasa sunnah yang lumrah dilakukan oleh umat Islam, seperti puasa Senin-Kamis (hlm. 65), puasa ‘Asyura (hlm. 69), dan puasa Syawal (hlm. 78), serta beberapa puasa sunnah lainnya yang bisa ditemukan di dalam buku ini.

Secara terurat, puasa memang tidak memiliki dampak bagi kehidupan umat manusia lainnya. Hanya ketentuan pahala antara yang mengerjakan dengan Tuhan. Padahal, bukan hanya itu. Di balik misteri puasa, ada nilai-nilai ibadah kemanusiaan yang tersirat di dalamnya. Misalkan, berpuasa dengan menahan lapar. Cara demikian sebenarnya mengajarkan umat Islam agar juga merasa penderitaan orang yang tidak punya dan dilanda lapar. Dengan demikian, hati mereka bisa tergerak dan dengan ikhlas untuk membantu mereka yang tidak mampu hingga perutnya harus ditimpa rasa lapar.

Karya ini hadir sebagai pedoman dalam menjalankan ibadah sunnah bagi umat Islam, sebagai pelengkap ibadah wajib yang dikerjakan. Dengan ibadah-ibadah tambahahn tersebut, jalan mendapat kasih sayang dan pertolongan Tuhan pun menjadi cahaya bening. Bukan hanya mengandung pahala, tapi amalan-amalan tersebut juga menyimpat makna tersirat berupa rayuan yang dipersuasi dengan doa dan ibadah menjadi media untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. serta meminta kepada-Nya. Selamat membaca dan mengamalkannya! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: