Mengenal Sejarah untuk Menguatkan Bangsa Indonesia

Harian Analisa: Rabu, 9 November 2016

Indonesia Poenja Tjerita - (dok. Junaidi Khab)

Indonesia Poenja Tjerita – (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Indonesia Poenja Tjerita

Pengantar        : Zaenuddin H.M

Penerbit           : Bentang

Cetakan           : II, Mei 2016

Tebal               : xviii + 226 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-238-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Secara perlahan, bangsa kita berusaha diajak untuk melupakan sejarah dan hakikat jati dirinya. Hal itu terlihat dari berbagai budaya luar yang masuk dan menjadi gaya hidup generasi muda. Dengan begitu, bangsa kita akan mudah diperdaya oleh bangsa asing yang ingin mengeruk keuntungan besar dari kekayaan Indonesia.

Maka dari itu, mempelajari dan belajar dari sejarah sangat penting. Melalui buku ini, pembaca akan disajikan beberapa menu sejarah yang  jarang disampaikan atau tak pernah diketahui oleh bangsa kita. Memang banyak orang yang belajar sejarah, tapi tak sedikit pula yang enggan belajar dari sejarah. Ada banyak sejarah bangsa Indonesia yang dikonversi menjadi cerita menarik di dalam buku ini yang perlu diketahui oleh masyarakat umum, dan khususnya generasi muda dengan tujuan demi menghidupkan kembali jati diri bangsa Indonesia serta agar tidak mudah ditipu oleh bangsa asing.

Misalkan, nama-nama tertentu dan daerah di nusantara tidak hadir begitu saja. Ada beberapa rentetan yang mendampinginya. Misalkan, istilah “hidung belang” yang disematkan kepada lelaki yang suka bermain perempuan meski sudah memiliki istri. Hal itu berangkat dari kisah seorang berkebangsaan Belanda, Pieter Cortenhoeff (hlm. 29). Pieter yang sudah punya istri tapi masih bermain dengan perempuan lain, lalu ketahuan dan diberi hukuman mati (gantung). Sebelum digantung, hidungnya dicoret dengan arang hingga hitam, hitam keputih-putihan. Sejak saat itu, semua orang yang tertangkap basah sedang berzina (bermain perempuan) akan ditangkap dan dicorengi arang pada hidungnya, lalu dijuluki Si Hidung Belang.

Lain halnya lagi tentang sepakbola. Masyarakat kita, dari tingkat kampung hingga nasional menggemari dunia olahraga sepak bola. Tapi, barang tentu mereka tidak banyak tahu tentang asal mula perjalanan sepak bola di Indonesia. Pada tahun 1958 Indonesia masuk dalam penyisihan Piala Dunia (hlm. 72). Pada tahun 1956 Tim Nasional (Timnas) sepak bola Indonesia sempat mencicipi babak perempat final Olimpiade. Sejak saat itu, hingga hari ini, kita seolah vakum dari panggung sepak bola tingkat dunia.

Kuliner dan Pancasila

Begitu pula dalam persoalan kuliner, bangsa Indonesia memiliki rentetan sejarah yang sangat unik dan menarik untuk dijadikan sebagai bahan introspeksi diri. Masakan sate merupakan masakan khas Indonesia. Tapi pernah diklaim Thaildan dan Malaysia. Bukan hanya sate, tapi Reog Ponorogo juga pernah diklaim Malaysia. Banyak hal dari kreasi sejarah Indonesia perlahan diambil oleh bangsa lain, karena bangsa kita tidak begitu peduli. Maka dari itu, masyarakat dan generasi muda perlu mengenal lebih jauh tentang sejarah perjalanan Indonesia.

Menurut Jennifer Brennan (1988), walaupun Thailand dan Malaysia mengklaim sate sebagai budaya kuliner mereka, sebenarnya ini makanan asli Indonesia. Justru dua negara tersebut yang terpengaruh hidangan Indonesia. Sejak zaman dulu, sate digemari banyak orang (hlm. 73).

Indonesia memang kaya raya, baik dari sektor alam, budaya, tradisi, sejarah, peradaban, dan kreasi lainnya. Tapi, bangsa kita tak tahu diri. Mereka tidak mau mempelajari dan belajar dari sejarah kita. Mereka lebih memilih budaya-sejarah bangsa lain yang dianggap lebih maju. Padahal, di belakang itu semua, bangsa kita perlahan diperangkap dalam kolonialisme modern. Kekayaan bangsa Indonesia diambil tanpa dirasakan oleh bangsa kita sendiri. Di suatu hari, jika bangsa dan generasi muda Indonesia tidak peduli dengan sejarah dan kekayaan nusantara, kelak kita akan telanjang dan mengemis di negeri sendiri.

Jauh lebih penting lagi, bangsa Indonesia harus mengetahui sejarah kehadiran lambang negara Indonesia – Pancasila. Banyak masyarakat dan generasi muda yang tidak mengetahui sejarahnya. Sehingga, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila tidak menjadi cermin kebangsaan kita. Perlu diketahui bahwa lambang garuda Pancasila merupakan karya Sultan Hamid II melalui proses kreasi yang universal untuk mencerminkan keberagaman masyarakat Indonesia (hlm. 144). Spirit Pancasila itu harus dikenal agar bisa diamalkan oleh seluruh bangsa dan generasi muda Indonesia.

Kehadiran buku ini merupakan cakrawala baru dalam menghadirkan serentetan sejarah perjalanan bangsa Indonesia dengan cara yang unik agar generasi mudah tidak menjadi bangsa lain, lalu melupakan hakikat jati dirinya. Ada beberapa sejarah bangsa Indonesia di dalam buku ini yang tidak sempat diajarkan di sekolah atau buku-buku sejarah pada umumnya. Ulasan-ulasannya pun sangat menarik meski bernuansa sejarah, sehingga para pembaca akan mudah untuk mengenal sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Selamat membaca dan menjaga keutuhan negara kita! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: