Memperbanyak Doa di Bulan Ramadan

Harian Nasional – Sabtu-Minggu, 25-26 Juni 2016

Doa Menembus Langit (dok. Junaidi Khab)

Doa Menembus Langit (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Doa Menembus Langit

Penulis             : Hj. Fadillah Ulfa, Lc., M.A.

Penerbit           : Tinta Medina (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : xvi, 216 hlm.; 21 cm

ISBN               : 978-602-0894-03-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Karya ini merupakan suatu usaha untuk memberi panduan bagi umat manusia (Islam) agar menemukan pencerahan dan doa-doanya supaya mudah dan cepat dikabulkan oleh Tuhan. Memang, kita menyadari bahwa bekerja dalam menjalani kehidupan di dunia ini merupakan usaha yang harus dilakukan oleh umat manusia. Namun, usaha bukan satu-satunya cara yang harus dilakukan oleh mereka. Selain itu, berdoa menjadi ikhtiar mereka setelah sungguh-sungguh berusaha. Tuhan yang akan menentukan segala usaha yang dilakukannya. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kadang sebagian manusia kurang menyadari tentang hakikat doa dan bekerja. Mereka terkadang hanya berdoa tanpa melakukan usaha, atau sebaliknya.

Hakikatnya, bekerja harus disertai dengan doa, begitu pula berdoa harus disertai dengan usaha. Itu merupakan hukum alam, toh meskipun berdoa dirasa cukup tetapi Tuhan tidak serta merta melihat mereka yang berdoa saja. Namun, Tuhan lebih melihat pada mereka yang berusaha dan berdoa. Doa akan menjadi senjata bagi mereka yang berusaha dalam menjalani perputaran roda kehidupan, terlebih di bulan Ramadan ini.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw. bersabda: “Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit serta bumi.” (HR. Hakim).

Jika seorang hamba Allah, berdoa kepada-Nya dengan tulus dan ikhlas, betapa pun besar musibah dan cobaan yang menimpanya, maka Allah akan meringankan beban (penderitaan) dirinya yang disebabkan oleh bencana yang menderanya meskipun dia termasuk seorang yang suka berbuat maksiat (hlm. 15-16).

Bagi umat Islam, juga umat-umat yang beragama selain Islam setelah masa nabi Muhammad Saw., doa merupakan kekuatan tiada terkira yang menjadi senjata atau pegangan hidup. Melalui doa-doa yang dipanjatkan oleh umat manusia, khususnya yang berimana akan menjadi cahaya bagi jalan kehidupannya. Hal itu sudah menjadi rahasia umum yang bisa kita lihat bagi mereka yang tertimpa musibah, dengan tanpa diminta mereka akan berdoa. Itu naluriah, sebuah keyakinan bahwa doa adalah satu-satunya senjata dan tameng untuk melindungi dirinya. Bahkan,  dalam sebuah hadits disebutkan bahwa doa adalah inti dari ibadah yang dilakukan oleh umat manusia.

Rasulullah Saw. bersabda: “Doa adalah inti ibadah.” (HR. Turmudzi) (hlm. 27). Jika kita cermati hadits yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi tersebut, doa adalah sebagai inti ibadah, memang sangat benar sekali. Mungkin sebagai umat Islam kurang menyadari bahwa ketika kita melaksanakan ibadah shalat, seluruh bacaan mulai permulaan hingga penutupan shalat berisi bacaan-bacaan doa. Surah al-Fatihah saja segalanya merupakan doa. Apalagi bacaan-bacaan ketika duduk waktu melakukan ibadah shalat, baik shalat wajib atau sunnah.

Sebagai orang yang berimana kepada Allah, kita yakin akan berdoa kepada Allah. Akan tetapi, kita harus mengetahui ekspresi dan cara-cara dalam berdoa. Pastinya kita harus berdoa dengan khusyu’, tunduk, dan sesekali meneteskan air mata mengharap agar Allah memberikan belas-kasihnya pada diri kita. Selain itu, kita juga jangan melewatkan suasana khusyu’ dalam doa kita dengan mencari tempat yang sepi (hening), jauh dari keramaian, di tengah malam, ketika seisi rumah sedang tertidur lelap.

Begitulah sebenarnya hakikat ibadah. Ibadah yang benar akan menumbuhkan kesadaran bahwa ternyata manusia itu lemah, hina, miskin, dan tidak berdaya di hadapan Allah, Tuhan Yang Mahakuat, Mahamulia, dan Mahakuasa. Hakikat ibadah akan benar-benar tampak sempurna ketika kita sedang berdoa. Maka dari itu, doa menjadi kendali atas perjalanan hidup manusia yang beriman. Berdoa akan memberikan hakikat nilai kehidupan yang menjadi kebutuhan dan keinginan manusia yang beriman.

Buku ini hadir di tengah-tengah kita sebagai upaya untuk menyadarkan dan meyakinkan kembali tentang substansi doa bagi jalan hidup umat manusia. Jika manusia berdoa dengan sungguh-sungguh dan penuh keyakikan, khususnya pada bulan Ramadan ini, niscaya Tuhan akan mengabulkannya. Sebagaimana janji Tuhan dalam surah al-Ghafir, bahwa hambanya yang berdoa atau meminta kepada-Nya, Allah akan mengabulkan. Di dalam buku ini kita akan menemukan cara agar doa kita mudah dikabulkan. Salah satunya, kita harus benar-benar yakin dan bersungguh-sungguh dalam berdoa. Selamat membaca dan menunaikan ibadah puasa Ramadan! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: