Memandang Kehidupan di Kota

Harian Analisa: Rabu, 2 November 2016

Kota Ini Kembang Api (dok. Junaidi Khab)

Kota Ini Kembang Api (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Kota Ini Kembang Api

Penulis             : Gratiagusti Chananya Rompas

Penerbit           : Gramedia

Cetakan           : I, September 2016

Tebal               : 89 halaman

ISBN               : 978-602-03-3404-2

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kota dipandang sebagai magnet kehidupan. Orang-orang dari kampung-pedesaan berbondong datang ke kota. Mereka ingin mengubah hidup. Di kota, harapan mereka akan hidup lebih sejahtera dibanding kehidupan di desa yang dipandang sebagai daerah tertinggal. Tak mengherankan kota-kota menjadi pusat perhatian banyak orang dan kalangan untuk memulai hidup baru. Di sana ada glamor yang indah dalam pikiran. Tapi, bisa menjadi bencana jika salah mengartikannya.

Buku “Kota Ini Kembang Api” karya Gratiagusti Chananya Rompas  merupakan kumpulan puisi yang dicipta sejak tahun 2003 hingga 2007. Dalam kembang (api) hujan (hlm. 6), Grati menggambarkan kota sebagai tempat yang indah dan memukau. Sebuah metafor yang indah; /memecah bulan/ menjadi bintang/ pecah,/ runtuh/ hanyutkan malam. Meminjam bahasa Komaruddin Hidayat dalam bukunya – Piskologi Kematian – bahwa manusia akan merasa nyaman dengan zona yang dianggapnya menenangkan, padahal melenakan dan melupakan segala hakikat yang dimilikinya. Begitu kira-kira gambaran kota.

Beberapa baris bait puisi di dalam buku sudah menjadi cermin kehidupan di kota. Keindahannya bagai rembulan atau bintang-bintang yang pecah, runtuh, dan menuai impian-impian. Kehidupan di kota yang dipandang glamor dan mewah sebenarnya dari sudut pandang tertentu. Padahal, kota bisa menjadi ikon sebuah keterasingan diri manusia. Semua harapan bisa punah oleh glamor yang kadang melenakan dan melupakan jati diri kita yang sebenarnya.

Sebagaimana pada bait puisi yang menggambarkan kota. KotaIniKembangApi/ KembangnyaPecahDiPucukLangit/ SekejapSaja/ (hlm. 31). Sebuah makna yang kadang mudah terlupakan bahwa kota akan mengubah kehidupan seseorang. Pribadi yang biasanya hidup bersosial dan gotongroyong, di kota lenyap. Kembang-kembang kehidupan hakiki seseorang bisa lenyap dalam hitungan menit. Karena segalanya diukur dengan materi.

Buku ini berisi 64 judul puisi yang menyiratkan tentang hakikat kota. Situasi kehidupan politik, tradisi, dan sosial yang dibalut dengan sebuah rasa rindu yang kadang menyayat, melenakan, atau bahkan mengiris-iris naluri kehidupan. Tak heran, bila ada seseorang yang merasa kesepian di keramaian kota karena hakikat hidup mereka dibuang jauh dan melupakannya. Seperti dalam puisi /suara dan tubuh/ (hlm. 35), dimana pribadi yang memiliki keluarga dan rumah merasa hampa. Rasa tidak puas dengan yang kita miliki tumbuh subur. Itulah hidup hedonis. Buku ini akan mengantarkan kita melalui bait-bait indah tentang kota dan kehidupannya. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku. Sekarang Bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: