Kontemplasi Kebangsaan

Kedaulatan Rakyat: Minggu, 28 Februari 2016

Demokrasi Ala Tukang Copet (dok. Junaidi Khab)

Demokrasi Ala Tukang Copet (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Demokrasi Ala Tukang Copet Sekumpulan Sindiran dan Renungan untuk Indonesia

Penulis             : Mohamad Shobary

Penerbit           : mizan

Cetakan           : I, Oktober 2015

Tebal               : 124 hlm

ISBN               : 978-979-433-836-0

Peresensi         : Junaidi Khab*

Buku ini hadir di tengah pergolakan politik yang memanas dalam menghadapi era reformasi-globalisasi yang terus menggeliat. Dengan segala ketangkasannya, Mohamad Shobary berusaha untuk membuka mata batin dan kesadaran kita – bangsa Indonesia – agar melihat dan jernih dalam memandang segala aspek kehidupan. Ada banyak persoalan-kebangsaan yang ironis. Fakta tak mencerminkan kebenaran di lapangan. Degradasi birokrasi, sosial, budaya, hingga keagamaan menjadi fenomena hangat yang terus bergulir dengan segala problematika yang rumit.

Shobary dalam buku ini menyebut republik ini sebagai negeri yang berhaluan pada demokrasi tukang copet. Dipandang dari sisi kejahatan birokrasi, memang layak seperti jika Shobary mengatakan sebuah adagium demokrasi tukang copet. Karena di negeri ini kasus pencurian yang dikenal dengan korupsi seakan sudah menjadi ideologi turun temurun. Bangsa Indonesia jangan terburu-buru percaya pada orang tertentu yang manis tutur sapanya dan baik budi pekertinya. Karena di balik itu masih tersimpan niat jahat yang akan segera keluar tanpa kita sadari.

Orang yang tampil dalam bahasa rohaniawan, dan menggunakan idiom-idiom para kiai, jangan buru-buru dianggap kiai. Persoalannya, kita akan hanya manggut-manggut jika di kemudian hari dia ternyata korupsi. Orang bijak – orang zaman dulu – berkata: bahasa menunjukkan bangsa. Maksudnya, orang yang berbahasa baik, dijamin orang baik. Sebenarnya sudah lama hal itu salah. Orang bijak dahulu juga mengatakan “serigala berbulu domba” (hlm. 54).

Ada tiga bagian kritik-permenungan yang dipaparkan oleh Shobary dengan menggunakan bahasa yang lugas agar mudah dipahami. Bagian pertama, demokrasi tukang copet, mengulas tentang sindiran-sindiran sosial. Kedua, panggung kosong Indonesia, mengulas tentang sindiran-sindiran kekuasaan. Ketiga, berguru pada kebenaran, membahas mengenai renungan-renungan batin yang harus dilakukan oleh segenap elemen bangsa Indonesia. Kritik-kritik yang dilontarkan oleh Shobary memang sangat pedas, namun jika direnungi akan memberikan sebuah kesadaran dari segala aspek dalam hidup berbangsa dan bernegara demi ketenteraman serta kesejahteraan rakyat Indonesia. Selamat membaca dan merenungi! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: