Kontekstualisasi dan Universalitas Tafsir al-Quran

Harian Analisa: Jumat, 01 April 2016

Al-Quran Abad 21 Tafsir Kontekstual (dok. Junaidi Khab)

Al-Quran Abad 21 Tafsir Kontekstual (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Al-Quran Abad 21 Tafsir Kontekstual

Penulis             : Abdullah Saeed

Penerbit           : mizan

Cetakan           : I, Januari 2016

Tebal               : 315 hlm

ISBN               : 978-979-433-921-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Umat Islam di seluruh dunia, bahkan umat manusia yang mengenal al-Quran mengakui bahwa teks al-Quran bersifat universal. Segala kandungan ayat-ayat dan hukumnya memerlukan penalaran dan penafsiran yang benar-benar harus melihat berbagai bidang serta aspek kehidupan. Namun, sebagian umat Islam hanya menafsirkan ayat al-Quran secara dangkal dan tekstual belaka. Padahal, model penafsiran tersebut bukan metode yang tepat untuk menyingkap pesan dan kandungan moral serta sosio-kultural di dalamnya.

Kehadiran karya ini merupakan sebuah penyajian metodologi penafsiran al-Quran secara kontekstual. Dengan kata lain, segala ayat yang terkandung di dalam al-Quran bukan sekadar ditafsrikan dengan mata telanjang, tetapi dilihat dari berbagai aspek kehidupan untuk disesuaikan dengan kondisi zaman, baik dari sisi politik, sosio-kultural, agama, dan budaya. Sebagaimana dijelaskan bahwa al-Quran cenderung menjauhi penuturan yang terperinci. Cerita-cerita (ayat) disajikan untuk menyampaikan pelbagai gagasan dan nilai-nilai universal (hlm. 16).

Melalui penyampaian secara universal tersebut, sehingga al-Quran mampu menjangkau segala zaman dan aspek kehidupan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Maka dari itu, sebuah penafsiran kontekstual sangat dibutuhkan karena memang keberadaan teks al-Quran yang bersifat universal yang bisa diaplikasikan menurut zaman yang mengiringinya. Namun, perlu kita ketahui bahwa teks al-Quran tidak secara keseluruhan harus menggunakan pendekatan kontekstual untuk menggali maknanya. Karena di dalam al-Quran juga ada ayat yang secara langsung relevan dengan beragam konteks. Seperti ayat-ayat yang menceritakan tentang sejarah kehidupan umat manusia.

Salah satu contoh pendekatan kontekstual pernah dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab tentang hukuman mencuri dan jumlah cambuk. Dalam memandang kasus pencurian dan hukumannya, Umar tidak serta-merta memerintahkan untuk memotong tangan pencuri di baitul mal sebagaimana tergambar dalam surat al-Maidah ayat 38. Tetapi, Umar membebaskannya karena konteks pada saat itu masyarakat dilanda kelaparan dan orang yang mencuri tersebut memiliki hak atas harta negara yang ada di baitul mal (hlm. 61).

Dari metode pendekatan tersebut, ada pula yang menafsirkan tentang ayat potong tangan tersebut dengan pendekatan sosio-finansial. Misalkan, seorang maling mencuri mencapai pada batas potong tangan sebagaimana ukuran dalam hadis Nabi Muhammad Saw. Namun, di era modern saat ini jika potong tangan diberlakukan akan banyak penentang terkait dengan hak asasi manusia. Maka dari itu, pendekatan kontekstual dan sosio-finansial dibutuhkan. Melihat fenomena demikian, yang dipotong bukan tangannya, tapi persoalan yang menimpa pencuri yang dipotong alias dicarikan solusi dan alternatif. Misal yang mencuri pengangguran, maka pemerintah dan masyarakat harus membuka lapangan pekerjaan dan lain sebagainya sesuai konteks yang mengiringi.

Beberapa tafsir pra-modern yang digunakan oleh umat Islam sepanjang masa milenium akhir ini umumnya sudah tidak dianggap normatif dalam pemahamannya atas isu-isu perempuan. Hal tersebut dengan mempertimbangkan berbagai perubahan radikal yang terjadi dalam berbagai istilah kontekstual, yaitu antara konteks ketika tafsir-tafsir tersebut dibuat dan konteks kontemporer dari masa terakhir modernitas mutakhir. Dengan kata lain, tafsir-tafsir al-Quran dengan pendekatan historis tidak mencakup semua hal yang mungkin untuk menjadi alternatif penafsiran; adanya tafsir-tafsir lain tetap dimungkinkan, sebagian karena latar belakang sosio-kultural dan intelektual; yang berbeda yang dialami oleh para penafsir masa kontemporer (hlm. 69-70).

Buku ini hadir sebagai jalan terang untuk menemukan nilai-nilai universal kemanusiaan yang tersimpan pada tiap-tiap ayat di dalam al-Quran dengan metode pendekatan tafsir kontekstual. Pada hakikatnya, model atau metode penafsiran al-Quran tidak terbatas pada gaya penafsiran kontekstual, tapi juga historis dan linguistik.

Dalam melakukan penafsiran dengan pendekatan kontekstual, buku ini berusaha memahami tujuan dan spirit utama al-Quran, dan karena itu menekankan relevansi al-Quran dengan zaman kita sekarang. Tafsir kontekstual sama sekali tidak bermaksud mengurangi signifikansi ajaran al-Quran bagi kontemporer, bahkan berusaha untuk memperluas cakupannya. Selamat membaca dan menemukan hakikat universalitas di dalam al-Quran dari nilai-nilai kemanusiaannya! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep, Lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: