Kisah dan Hikmah untuk Kultum Ramadan

Harian Analisa: Jumat, 24 Juni 2016

Kisah dan Hikmah untuk Kultum Ramadan (dok. Junaidi Khab)

Kisah dan Hikmah untuk Kultum Ramadan (dok. Junaidi Khab)

Judul               : 150 Kisah Abu Bakar al-Shiddiq dan 150 Kisah ‘Umar ibn Khattab

Penulis             : Ahmad ‘Abdul ‘Al Al-Thahthawi

Penerbit           : Mizania

Cetakan           : I, April 2016

Tebal               : 161 dan 173 halaman

ISBN               : 978-602-418-011-9 dan 978-602-418-013-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Pada bulan Ramadan di tiap-tiap masjid, langgar (surau), atau musolla lainnya sebelum berbuka puasa tentu diisi dengan kuliah tujuh menit (Kultum). Di dalam Kultum biasanya disampaikan berbagai kisah berikut hikmah-hikmah yang bisa dipetik untuk menjadi pijakan dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Kita menyadari bahwa dakwah dengan bercerita tentang kisah-kisah inspiratif lebih mudah diterima oleh masyarakat. Namun, kadang para pembicara (da’i) pada waktu Kultum sebelum buka puasa menyampaikan kisah klise dan kadang tak menarik para pendengar.

Maka dari itu, kehadiran dua karya Ahmad ‘Abdul ‘Al Al-Thahthawi tentang perjalanan hidup Abu Bakar dan ‘Umar menjadi bahan bacaan wajib bagi para da’i atau pembicara di depan umum pada saat Kultum Ramadan. Ada banyak kisah dua sahabat Nabi Muhammad Saw. ini yang bisa dipetik hikmahnya demi menjaga stabilitas kehidupan umat manusia agar rukun dan damai penuh keberkahan.

Seperti nama Abu Bakar al-Shiddiq. Abu Bakar tidak serta-merta dengan mudah mendapat julukan al-Shiddiq jika bukan karena memang perangai dan sifatnya yang menjadi orang dewasa pertama yang memercayai kerasulan Nabi Muhammad Saw. pada masa itu. Sehingga, julukun mulia al-Shiddiq menjadi milik Abu Bakar (hlm. 15). Julukan al-Shiddiq bukan sembarang julukan. Namun, di balik itu ada sebuah nilai kemuliaan yang melekat.

Kisah tentang julukan Abu Bakar ini tentu harus menjadi sebuah topik pembicaraan dalam Kultum Ramadan dan dunia era modern saat ini. Para pemuda dan kaum dewasa jangan sampai memiliki julukan hina. Misalkan Preman Hitam karena kejahatan yang dilakukan di kota atau di kampung tak mampu dilawan oleh siapa pun, termasuk polisi. Sebuah julukan setidaknya harus mulia. Sehingga dengan julukan tersebut mendekatkan kita dengan masyarakat dan kita tidak dibenci oleh masyarakat akibat perilaku yang selalu meresahkan.

Begitu pula ‘Umar al-Faruq. ‘Umar mendapat julukan al-Faruq bukan karena pandai memenggal kepala manusia pada masanya. Namun, hal itu diberikan kepadanya, karena ‘Umar dengan tegas mengatakan antara yang benar dan yang batil (hlm. 24). Ketegasan ‘Umar dalam menegakkan syari’at Islam itu yang menjadikannya memiliki julukan al-Faruq, sang pemisah antara kebenaran dan kebatilan.

‘Umar masuk Islam dengan kesungguhan yang tidak ada batasnya, dan membela Islam sekuat dia memerangi Islam sebelumnya. Hingga suatu ketika ‘Umar tak tahan melihat kebatilan yang dilakukan kaum kafir, sehingga ia memberanikan diri untuk tetap membela yang baik dan benar. Begitulah ‘Umar yang juga tak kalah sangar dibanding Abu Bakar yang setia kepada Nabi Muhammad Saw. sehingga mereka berdua mendapat julukan yang mulia.

Itu dua contoh gamblang kisah yang bisa dipetik hikmahnya dari kehidupan Abu Bakar dan ‘Umar. Lebih dari itu, ada banyak kisah perjalanan hidup Abu Bakar dan ‘Umar yang bisa dijadikan teladan serta sangat tepat jika disampaikan saat Kultum Ramadan sebelum berbuka puasa. Misalkan Abu Bakar banyak berderma demi membebaskan budak-budak yang disiksa oleh tuannya (hlm. 40).

Begitu juga ‘Umar yang menjunjung tinggi toleransi dalam beragama. Budaknya yang beragama Nasrani tak pernah dipaksa masuk Islam meski suatu ketika ‘Umar memintanya agar masuk Islam (hlm. 151). Tak ada paksaan dalam beragama. Begitu prinsip ‘Umar demi mejaga kerukunan di antara kaumnya yang tak hanya menganut agama Islam.

Baik Abu Bakar atau Umar, keduanya memiliki persamaan dan perbedaan yang mencolok. Namun, perbedaan di antara mereka tak pernah menelantarkan rakyatnya dan selalu menjunjung tinggi kebenaran di atas segalanya. Mereka berdua sama-sama berjuang di jalan kebenaran dan mencegah segala kemungkaran. Mereka selalu mengutakan kepentingan rakyatnya di saat menjadi khalifah.

Dua karya ini masing-masing menceritakan tentang perjalanan hidup Abu Bakar al-Shiddiq dan ‘Umar al-Faruq. Masing-masing karya memuat sekitar 150 kisah dua sahabat Nabi Muhammad Saw. sekaligus sebagai khalifah setelah beliatu wafat. Dengan berbagai kisah tersebut kita bisa memetik hikmah mulia sebagai pegangan dalam menjalani kehidupan di dunia. Selamat membaca dan menjalankan ibadah puasa dengan penuh kelapangan dan perdamaian! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: