Cermin Bening Ajaran Akhlak Islami

Harian Analisa: Jumat, 25 November 2016

Fatimah az-Zahra Belahan Jiwa Rasulullah Saw. (dok. (Junaidi Khab)

Fatimah az-Zahra Belahan Jiwa Rasulullah Saw. (dok. (Junaidi Khab)

Judul               : Fatimah az-Zahra Belahan Jiwa Rasulullah Saw.

Penulis             : Hj. Siti Zumratus Sa’adah, M.A.

Penerbit           : Tinta Medina (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : xiv, 226 hlm.; 21 cm

ISBN               : 978-602-72129-8-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Membaca sejarah masa lalu tidak akan ada habisnya jika kita melihat sosok perempuan kecintaan Nabi Muhammad Saw. Dia itu putri beliau dari ibu Siti Khadijah janda tajir yang dipersunting dengan bimbingan Tuhan. Melalui pernikahan tersebut, beliau dikaruniai seorang putri yang cantik nan jelita dengan akhlak mulia. Patut kiranya kaum perempuan – khususnya umat Islam – di dunia ini mengaca pada cara hidup putri Nabi Muhammad Saw. yang penuh dengan tatakrama dan kemulian dalam lingkungan sosialnya.

Melalui karya ini, Zumratus Sa’adah berusaha menyingkap kembali tabir kemuliaan akhlak Fatimah az-Zahra. Ada banyak kisah kemuliaan yang dicerminkan dari cara hidupnya. Sehingga, tak heran jika Fatimah patut menjadi teladan kaum perempuan di dunia ini karena memang akhlaknya jauh dari sifat tercela. Di sadari atau tidak, dia adalah sosok yang penuh berkah dalam hidupnya, karena kehidupannya selalu bersentuhan dengan manusia pilihan Tuhan.

Ketika wahyu turun agar Nabi Muhammad Saw. melakukan dakwah secara terang-terangan, Allah juga memerintahkan beliau agar menghancurkan kebatilan dan berhala-berhala dengan lembut dan peringatan yang baik. Sejak saat itu, Fatimah berusia delapan tahun. Dia mulai menemukan guncangan hebat dalam jiwa dan hatinya, hingga memaksanya untuk meninggalkan kebiasaan sehari-harinya sebagai anak kecil. Ia menemukan dalam jiwanya guncangan hebat berupa cacian, makian, dan ancaman telah ia lihat dengan mata kepalanya sendiri pada diri sang ayah (hlm. 78).

Uji coba kematangan mental dan kepribadian Fatimah bukan dimulai ketika dia sudah dewasa. Namun, sejak usianya masih seumuran jagung hidupnya sudah diperkenalkan dengan berbagai persoalan yang rumit. Namun, jiwanya yang sudah kuat dan tangguh tidak mudah menyerah begitu saja dengan keadaan yang menyertai kehidupannya. Hal itu tidak jauh dari pengaruh ayahandanya yang selalu memberi nasihat baik dan mulia tentang hidup serta segala persoalan yang mengikutinya.

Sebelum Fatimah memiliki rumah yang dekat dengan ayahandanya, ia tinggal bersama suami di rumah yang agak jauh dari rumah ayahandanya. Sebuah rumha yang disewa oleh Ali. Beberapa lama kemudian Rasullah Saw. membangunkan rumah dekat dengan rumahnya agar setiap saat bisa mengetahui kabar puterinya (hlm. 150).

Kehidupan yang selama ini dilalui oleh Fatimah lebih cenderung pada keserisan dan kesungguh-sungguhan, jauh dari canda tawa. Seangat wajar karena dari kecil ia telah dibesarkan dalam kondisi yang begitu mencekam. Yang tergambar dalam berbagai peperangan, pemboikotan, dan permusuahan antara kafir dan keimanan (hlm. 158). Meskipun demikian, karakteristi tersebut bukanlah suatu yang negatif karena didukung oleh didikan sang ayah yang begitu dekat dengannya.

Partisipasi pertama yang diikuti oleh Sayyidah Fatima yaitu perang Uhud, perang yang merupakan hasil kobaran api kedengkian dalam hati musuh-musuh Allah atas kekalahannya dalam perang Badar (baca: perang). Kedengkian yang menghanguskan rasa hormat yang dahulu mereka miliki terhadap kaum perempuan, yang tercermin dalam kisah penghinaan mereka terhadap putri Rasulullah Saw. – Zainab – hingga membuat unta yang ditungganginya melompat dan membuat Zainab jatuh terjerembab dari rengga-nya, dan pengorbanan janin yang ada di dalam rahimnya.

Kedekatannya dengan baginda Nabi telah membuat akhlak dan karakternya begitu mulia nan jernih. Membuatnya berakhlak mulia tak jauh dari akhlak sang ayahanda. Jiwa yang begitu bersih telah ia dapatkan dari kedua sosok yang paling ia cintai, yaitu Rasullah dan ibunda Khadijah. Ia berpikiran jernih serta jauh dari sifat sombong dan memebanggakan diri. Karakternya penuh dengan sopan santun, berjiwa lapang, pemaaf, dan baik hati (hlm. 208).

Dalam buku ini penulis mencoba untuk menghadirkan perihal sosok putri Rasulullah Saw. yang sangat beliau cintai. Disebabkan masa hidupnya berada di masa kenabian sang ayahanda, otomatis pembahasannya berkaitan dengan Rasulullah Saw. Penulis mengupasnya mulai dari masa kelahiran Fatimah hingga wafatnya. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari sosok Fatimah ini. Hanya dia lah sosok wanita yang mengungguli semua wanita di dunia ini. sebab, nasabnya yang suci, kedudukannya yang tinggi di sisi Allah Swt. dan dia pula tian putri wanita alam semesta. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: