Cara Kita Mencintai Indonesia

Radar Sampit: Minggu, 06 Maret 2016

Cara Kita Mencintai Indonesia (dok. Junaidi Khab)

Cara Kita Mencintai Indonesia (dok. Junaidi Khab)

Judul               : How to Love Indonesia

Penulis             : Duma M. Sembiring

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, November 2014

Tebal               : vi, 274 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-979-045-774-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Indonesia terlalu besar dan agung untuk kita cintai. Tapi tanpa Indonesia bangsa ini tak akan memiliki jatidiri nusantara. Sejarah panjang Indonesia telah mampu membawa kita semua pada kemerdekaan yang bisa dikata masih secara fisik, tapi budaya masih tak mampu dibebaskan dari tangan-tangan kaum kolonialisme. Namun, kita patut bersyukur bisa hidup di Indonesia yang tanahnya subur ini. Tak salah jika kita mencintai Indonesia. Nasionalisme. Ya, nasionalisme dalam bahasa populernya.

Berjuang dan berperang salah satu cara strategis dalam mempertahankan Indonesia. Dari perjuangan tersebut tampak rasa cinta para pejuang terhadap Indonesia dan bangsanya. Namun, untuk saat ini, berjuang seperti para founding fathers kita sudah bukan zamannya lagi. Seperti apakah cara kita mencintai Indonesia di era modern yang serba maju ini?

Sebenarnya tidak sulit jika kita mau mencintai Indonesia sepenuhnya. Cukup mudah dan sederhana, tapi cukup luar biasa untuk menunjukkan bahwa kita ini benar-benar mencintai Indonesia sebagai tanah air nusantara kita. Tak sia-sia kiranya kehadiran karya Duma M. Sembiring “How to Love Indonesia” di tengah-tengah kita. Sebuah novel yang menceritakan tentang hakikat cinta tanah air Indonesia yang kadang disepelekan dan  jarang kita sadari.

Novel ini menghadirkan tokoh utama yang berperan memulai langkah mencintai tanah air Indonesia merupakan seorang cewek yang serampangan dan keadaan fisiknya apa adanya. Sesuka hatinya. Ya, begitu gambarannya. Emosi para pembaca tentu akan tersulut oleh tingkahnya. Sungguh membosankan. Mirip Masha dalam film kartun “Masha and The Bear” produk Rusia . Tapi orangnya mudah bergaul dan berbicara. Dia cerdas sekaligus bodoh karena tidak bisa menceritakan kampung halamannya sendiri ketika ujian, sehingga dia mendapat nilai E pada materi Sejarah Amerika.

Dalam salah satu kutipan karya ini yang menokohkan Pak Doan sebagai dosen pengajar Sejarah Amerika, penulis menegaskan bahwa hanya anak durhaka yang menjelekkan ibunya sendiri. Kata Pak Doan, “Kalian tahu? Tidak ada anak yang bersedia mengakui pada dunia bahwa ibunya adalah orang bodoh, bahkan pada dirinya sendiri, kecuali anak durhaka” (hlm. 24).

Itulah cerminan salah satu bentuk cinta tanah air Indonesia dari perumpamaan seorang ibu. Seorang anak yang berani mengatakan ibunya itu bodoh, maka dia termasuk anak yang durhaka. Begitu juga dengan anak bangsa Indonesia. Menghina Indonesia, dia sudah berdosa dan durhaka pada negerinya sendiri yang dijadikan kakinya untuk berpijak dan numpang mencari makan untuk bertahan hidup.

Bahkan tanah air Indonesia disebut sebagai tanah ibu pertiwi. Sebuah ungkapan tepat untuk mencintai Indonesia sebagaimana kita mencintai seorang ibu. Kita lahir dari seorang ibu, dia memberikan kasih sayang sepenuh hatinya. Begitu juga Indonesia telah memberikan banyak hal pada diri kita. Namun, kita kadang tak menyadari telah menyudutkan Indonesia dengan kata-kata karena tatanan bangsa yanga kadang kurang baik. Maka, “Cintailah negaramu seperti kau mencintai ibumu” (hlm. 271).

Seorang anak tidak akan rela ibunya disakiti oleh orang lain. Tentu dia akan melindunginya dari berbagai kemungkinan disakiti atau dianiaya. Seharusnya bangsa Indonesia juga seperti itu. Mencintai tanah air Indonesia disamakan dengan kita telah mencintai ibu kita masing-masing. Jangan biarkan orang lain menyakitinya. Jika Indonesia terkena bencana, kita jangan hanya duduk terpaku menontonnya. Jadikanlah Indonesia sebagai seorang ibu yang terjatuh, cepat-cepat kita menolongnya, bukan malah berkomentar agar orang lain menolongnya.

Kisah dalam novel yang menjadi pemenang juara ketiga ini dalam lomba bertema “Seberapa Indonesiakah Dirimu?” oleh PT Tiga Serangkai mampu meramu nasionalisme dalam bentuk fiksi. Isinya sangat inspiratif dan memukau dengan bahasa yang mudah dicerna, sehingga mudah dipahami untuk memantapkan rasa cinta kepada tanah air Indonesia. Selamat menikmati kisah romantika nasionalisme untuk Indonesia. Semoga menyadarkan kita semua untuk terus mencintai negara kita, Indonesia. Amin. (*)

* Peresensi adalah  Pecinta Baca Buku asal Sumenep Tinggal di Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: