Belajar dari Penyesalan Umat Terdahulu

Suara Merdeka: Selasa, 20 September 2016

Andai Aku Hidup Sekali Lagi (dok. Junaidi Khab)

Andai Aku Hidup Sekali Lagi (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Andai Aku Hidup Sekali Lagi

Penulis             : Muhammad Widus Sempo

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, 2016

Tebal               : 165 hlm

ISBN               : 978-602-418-019-5

Peresensi         : Junaidi Khab*

Ada sebuah pepatah bahwa tak ada perut betis di sisi bagian depan. Perut betis ada di posisi bagian belakang. Begitulah kiranya penyesalan. Seperti sisi lembut (yang kita bisa sebut perut) betis di sisi bagian belakang. Kita tentu mengalami suatu penyesalan, hal itu terjadi setelah sebuah peristiwa yang tak diinginkan terjadi. Ada banyak kisah dan hikmah di dalam al-Quran dan kitab-kitab lainnya mengenai penyesalan umat terdahulu yang kiranya perlu menjadi bahan introspeksi diri kita.

Buku dengan judul “Andai Aku Hidup Sekali Lagi” ini merupakan sebuah karya yang mengulas tentang penyesalan umat terdahulu. Secara garis besar, karya ini bertujuan agar kita sebagai manusia banyak belajar dari penyesalan orang-orang yang dijadikan contoh di dalam al-Quran. Sebelum menyesal, kita harus mawasdiri dan melakukan introspeksi diri atas segala sesuatu yang akan atau sedang kita lakukan agar suatu hari nanti tidak menjadi manusia nestapa dan rugi.

Seperti halnya kisah Fir’aun yang cukup sangat jelas di dalam al-Quran. Bahkan, sebagai bukti sejarah, jasad Fir’aun sampai saat ini bisa kita lihat di Mesir. Ketika maut sudah berada di ambang mata, ia menyatakan keimanannya (hlm. 25). Percuma penyesalan dilakukan ketika maut sudah dekat mau menjemput.

Dalam persoalan keimanan kepada kekuasaan Tuhan (Allah Swt.) kadang di antara umat manusia memang memercayainya. Namun, mereka angkuh dan sombong, sehingga mereka mengingkarinya. Sebenarnya, tak ada gunanya mengingkari diri sendiri atas kekuasaan dan kesaan Tuhan. Sedikit pun tak mengurangi jatah hidup yang kita miliki. Ibarat saudara kita memiliki kekayaan. Tapi, karena kita benci, maka kesombongan pun membuat kita lupa diri. Orang lain yang kaya dijelek-jelekkan meski pada kenyataannya tak ada yang jelek. Padahal kita tak punya apa-apa dibanding mereka. Sebuah penyesalan akan datang jika kita tak melakukan introspeksi diri.

Anak Nabi Ya’qub

Dalam catatan sejarah banyak yang mengisahkan tentang kehidupan Nabi Ya’qub dengan anak-anaknya. Salah satu hikmah yang bisa kita petik, jangan melakukan tindakan ceroboh agar tidak menyesal di kemudian hari sebagai kekalahan yang terasa sangat merugikan diri kita. Selain itu, segala macam perilaku tercela harus kita hindari agar kita juga tidak menyesal suatu hari nanti atas perbuatan yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Tak jauh berbeda dengan sebelas saudara Yusuf dari seorang ayah Nabi Ya’qub yang sudah tua renta. Akibat dilanda rasa iri dan sombong, sepuluh saudara Yusuf melakukan kejahatan terhadap dirinya. Yusuf dibenci karena ia mendapat kasih sayang dari ayahnya melebihi yang lainnya. Hingga Yusuf dibuang ke salah satu sumur dan diambil oleh sebuah kabilah lalu dijual. Tapi, saudara-saudara Yusuf bercerita bahwa Yusuf dimakan serigala saat mereka berburu (hlm. 74). Penyesalan kembali saat sepuluh saudara Yusuf tak diizinkan membawa Bunyamin (suadara kandung Yusuf) untuk dibawa mengambil sembako. Tapi, pada akhirnya sebelas saudara Yusuf bersujud kepadanya sebagaimana tergambar di dalam al-Quran surah Yusuf.

Dari kisah penyesalan saudara-saudara Yusuf, kita bisa mengambil hikmah bahwa iri hati dan dengki merupakan sumber malapetaka, baik bagi diri sendiri atau bagi orang lain. Maka dari itu, sebuah sifat iri atau dengki harus dijauhi. Di antara kita sudah tentu memercayai bahwa iri atau dengki adalah akhlak tercela dan mendatangkan petaka, namun akibat luapan rasa sombong yang tinggi hingga melupakan serta mengabaikan iri yang bersarang di dalam hati.

Semua orang tentu sudah tahu, bahwa mencuri itu haram dan dilarang. Tapi, masih ada orang yang memercayai hal tersebut, tetap melakukannya. Ketika sudah ditangkap, dipukul oleh massa dan dipenjara, baru mereka menyesalai segala perbuatannya. Ketika sudah demikian, percuma menghindar dari tangan-tangan, batu, atau balok yang menghajarnya. Percuma menyesal ketika sudah penjara menjadi tempat hidup sehari-hari.

Buku ini akan mengajak kita untuk melakukan yang terbaik, baik bagi diri kita sendiri atau bagi orang lain. Maka dari itu, sebelum menyesal, kita harus introspeksi diri sedini mungkin atas perbuatan yang kita lakukan selama ini. Penyesalan sangat menyakitkan, merugikan, dan membuat kita nestapa sebagaimana orang-orang terdahulu menyesal seperti yang digambarkan oleh al-Quran dan juga para nara pidana yang dipenjara saat ini. Mari, belajar dari penyesalan umat terdahulu sebagai cermin dan introspeksi diri bagi kita! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: