Persoalan Warna dan Merek Rokok

Lampung Post: Rabu, 16 November 2016

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

MUNGKIN kita sudah bisa membedakan banyak warna; merah, kuning, hitam, hijau, cokelat, jingga, ungu, kelabu, oranye, putih, dan bening, serta warna-warna lainnya. Cuma perlu diketahui, masyarakat Madura tidak menyebut warna hijau. Hijau dan biru hampir mirip warnanya. Ada bahasa lain yang dimiliki oleh masyarakat Madura, bungo untuk sebutan warna biru. Jangan salah paham, sampai mengatakan bahwa masyarakat Madura buta warna, hanya karena beda bahasa pengucapan warna biru dan hijau.

Dalam bahasa masyarakat Madura, warna hijau disebut bhiru dengan pengucapakan logat yang khas. Sementara untuk warna biru disebut bungo sebagaimana dijelaskan sebelumnya. Persoalan pengucapan nama warna bahasa nasional Indonesia dengan bahasa lokal masyarakat Madura memang berbeda. Tapi bukan serta merta masyarakat Madura buta warna sebagaimana anggapan orang banyak.

Karena saya beretnis Madura, maka saya sering ditanya oleh teman yang beretnis Jawa ketika berhenti di traffic-light. “Coba, warna apa setelah warna merah menyala?” Tanyanya begitu. Kadang saya menjawab menggunakan bahasa daerah, kadang pula menggunakan bahasa nasional. “Bhiru.” Jawabku sekenanya. Lalu saya ditertawakan, karena dianggap buta warna. Lalu saya jawab lagi menggunakan bahasa nasional dengan sebuah penjelasan. Bhiru (bhs. Madura) sama dengan hijau (bhs. Indonesia), sementara biru (bhs. Indonesia) dalam bahasa lokal saya adalah bungo (bhs. Madura).

Mungkin terasa aneh. Tapi begitulah kenyataannya bahasa digunakan oleh masyarakat Madura, termasuk saya pribadi. Masyarakat Madura, tidak perlu disalahartikan sebagai masyarakat yang buta warna. Tapi, cuma pengucapan warna dalam bahasa daerahnya yang berbeda dengan bahasa nasionalnya.

Putih dan Bening

Lain halnya lagi dengan bahasa warna yang sudah lumrah dan dijadikan salah kaprah, yaitu salah yang dipahami sebagai kebenaran. Misalkan rupa air. Air minum biasa dari sumber alam atau pegunungan murni, masyarakat menyebutnya sebagai air putih. “Anda mau minum apa? Kopi, teh, susu, atau air putih saja?” Mungkin kita sudah pernah mendengar tawaran semacam itu ketika bertamu, sementara kita damai dan setuju saja. Padahal ada penggunaan bahasa yang telah jauh dari kenyataannya. Maksud sebenarnya dari kata “air putih” dalam percakapan tersebut tak lain adalah air bening. Begitulah bahasa yang digunakan oleh masyarakat.

Terkait penggunaan bahasa untuk ‘air bening’ sebagai ‘air putih’ juga dituturkan oleh Redy Kuswanto dalam karyanya yang berjudul “Karena Aku Tak Buta” (2015). Pada awal karyanya, Redy memang mengkritisi tentang penggunaan kata ‘putih’ untuk ‘air bening’. Tapi, tanpa disadari di bagian akhir karyanya, dia seakan lupa, atau memang sengaja untuk menggunakan kesempatan salah kaprah tersebut. Dia tetap menggunakan bahasa ‘air putih’ untuk menyebut ‘air bening’.

Jika kita amati lebih kritis, sebenarnya kita lalai dan tidak menguasai tentang warna. Di dunia ini, kita mengenal beberapa warna. Setiap sesuatu memiliki warna. Namun, tidak semua benda di muka bumi ini memiliki pigmen (zat warna). Sebut saja seperti air bening. Bening bukan bagian dari warna. Pada hakikatnya, air tidak memiliki zat warna. Seandainya, kita meneliti lebih ilmiah, maka di dalam zat air murni alami tidak akan ditemukan pigmen. Meskipun demikian, mungkin ada yang tidak setuju dengan teori tersebut dengan mengatakan bahwa bening termasuk warna.

Bahkan dalam menyebut rokok saja masyarakat Indonesia masih tergolong tidak bisa membedakan antara rokok kretek, non-kretek, filter, dan non-filter. Lumrahnya, jika kita ke toko dan bilang mau beli rokok kretek, maka kita akan diberikan rokok non-filter. Padahal rokok kretek merupakan rokok khas produk Indonesia yang ada campuran cengkehnya. Sehingga ketika dibakar bebunyi “kretek, kretek”. Bebeda dengan rokok non-kretek, seperti rokok produk luar negeri (putihan, istilahnya) yang tanpa campuran cengkeh. Rokok produk luar negeri jika dibakar, maka tidak akan menimbulkan bunyi “kretek, kretek” karena memang tidak ada campuran cengkehnya.

Penggunaan bahasa memang sangat unik dan menarik. Kita tidak perlu menyalahkan siapa pun. Tapi harus dengan jernih menelaah perkembangannya. Jangan sampai tertipu oleh bahasa yang digunakan sebagai identitas diri dan alat komunikasi oleh kelompok tertentu. Kridalaksana (dalam Abdul Chaer, 2007:32) mengatakan bahwa bahasa adalah sistem fonetik yang mudah berubah yang digunakan oleh anggota kelompok sosial untuk bekerjasama dan berkomunikasi, serta sebagai identitas diri. Meskipun demikian, kekeliruan lumrah – yang kita sebut salah kaprah – terjadi dalam lingkungan masyarakat dalam menggunakan bahasa sehari-hari. (*)

* Penulis Akademisi asal Sumenep-Madura, lulusan Sastra Inggris Konsentrasi Studi Sosiolinguistik, Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: