Shalat Tahajjud dan Kecerdasan Akademik

Harian Analisa: Jumat, 22 Juli 2016

Aktivasi Tahajjud untuk Kecerdasan Akademikmu (dok. Junaidi Khab)

Aktivasi Tahajjud untuk Kecerdasan Akademikmu (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Aktivasi Tahajjud untuk Kecerdasan Akademikmu

Penulis             : Ustadz Yazid al-Busthomi Lc.

Penerbit           : DIVA Press

Cetakan           : I, Juni 2016

Tebal               : 176 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-391-154-7

Peresensi         : Junaidi Khab*

Tiap masing-masing individu memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi. Namun, secara umum di antara kita mengiginkan agar otak cerdas. Berbagai hal pun dilakukan demi menjadi orang yang cerdas. Mulai dari makan makanan yang sehat dan bergizi, hingga berbagai latihan yang fungsinya merangsang kinerja otak. Dari berbagai usaha yang kita lakukan, memang memberikan hasil, tapi ada pula yang tidak berhasil.

Melalui kehadiran buku spiritual-akademis ini Yazid Busthomi akan menyajikan tentang metode mencerdaskan otak melalui terapi shalat tahajjud. Sebuah kisah seorang perempuan yang pada mulanya hampir putus asa karena ia tergolong yang tidak cerdas. Namun, ketika disarankan agar melakukan shalat tahajjud secara rutin sebagai terapi, ia menemukan hal di luar dugaannya. Dirinya yang merasa bodoh, tiba-tiba sumringah dengan berbagai hal yang dihadapi. Segalanya tampak mudah dan bisa dilakukan dengan baik (hlm. 9).

Shalat tahajjud substansinya bukan sebatas ritual ibadah malam yang sekadar mengharap pahala lebih. Namun, di balik shalat tahajjud ada hikmah dan manfaat di luar itu semua. Shalat tahajjud bisa menjadi terapi untuk meningkatkan kecerdasan otak. Tetapi, sebuah inisiatif yang perlu dibangun oleh kita yaitu agar tetap menjadikan shalat tahajjud sebagai bentuk ibadah sunnah dengan mengharap pahala dan rida dari Allah Swt. Dengan sendirinya, segala hikmah dan berbagai suplemen kekuatan shalat tahajjud lahir tanpa harus kita harapkan.

Shalat tahajjud yang dikerjakan secara khusyuk dan ikhlas, bisa mendatangkan ketenangan sekaligus sebagai terapi kecerdasan pikiran (hlm. 82). Sebuah penelitian ilmiah menyebutkan bahwa ketenangan bisa meningkatkan sirkulasi darah ke otak, memperlancar pernapasan, dan meningkatkan oksigen yang akan melancarkan kinerja organ tubuh, sehingga dapat membantu meningkatkan konsentrasi pada pikiran.

Menjadikan shalat tahajjud sebagai terapi kecerdasan otak tidak bisa langsung dikerjakan begitu saja. Ada beberapa hal atau berbagai aturan yang perlu dilakukan. Ibaratnya, seperti kita akan bermain bola, kita harus melakukan pemanasan terlebih dahulu agar hasilnya maksimal. Begitu pula saat akan menggunakan sepeda motor atau mobil, maka harus dipanasi terlebih dahulu. Melaksanakan shalat tahajjud sebagai terapi pun juga ada prosesi yang tidak boleh ditinggalkan. Hal itu sebagai upaya agar shalat tahajjud yang kita kerjakan terlaksana dengan maksimal dan sempurna.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika melakukan ritual shalat tahajjud (hlm. 60). Di antaranya, yaitu; memperbanyak taubat dan istighfar, tidak berputus asa terhadap rahmat Allah Swt., membaca dan memperhatikan bacaan al-Quran, berbuat baik kepada orang lain, dan berjuang di jalan Allah Swt. Itu lima formula yang harus dipegang teguh bagi siapa pun yang ingin menjalani shalat tahajjud. Lebih-lebih untuk dijadikan sebagai terapi mencerdaskan kekuatan otak.

Namun, ketentuan yang perlu diingat dalam melaksanakan shalat tahajjud yaitu waktu mengerjakannya. Sementara, pada umumnya shalat tahajjud dikerjakan pada malam hari (hlm. 79). Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim pelaksanaan shalat tahajjud yaitu ketika tinggal sepertiga malam, Tuhan turun ke dunia. Dia berfirman bahwa barang siapa yang menyeru dengan berdoa-meminta, maka Tuhan akan mengabulkannya. Siapa pun yang meminta ampunan kepada-Nya, maka Dia akan mengampuninya.

Di era modern saat ini, bukan hanya makanan dan olahraga yang dijadikan sebagai terapi. Namun, segala bentuk aktivitas – termasuk aktivitas spiritual shalat tahajjud – juga menjadi media terapi yang dibuktikan oleh banyak peneliti dan orang-orang yang mengerjakannya secara langsung serta konsisten. Jika kita hanya membaca tanpa mempraktekkannya, maka kita tidak akan menemukan sebuah kenyataan yang dipaparkan oleh para peneliti dan orang-orang yang merasakannya. Maka dari itu, sebagai sebuah pembuktian, kita harus mengerjakannya.

Buku ini mengulas shalat tahajjud dari berbagai sudut pandang. Namun, lebih spesifik dan rinci menggunakan sudut pandang terapi sebagai media meningkatkan kecerdasan otak. Ada banyak hal yang diulas terkait shalat tahajjud agar tidak sekadar berpahala, namun bisa menjadi terapi yang membantu kebutuhan umat manusia melalui laku ibadah spiritual dengan dikaitkan pada urgensitas shalat tahajjud bagi kehidupan sosial. Selamat membaca dan melaksanakannya dengan baik!

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Analisa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: