Sebuah Pelajaran dari Konflik Keluarga

Harian Bhirawa: Jumat, 09 September 2016

Adonis Berhenti mengagumiku dalam diam (dok. Junaidi Khab)

Adonis Berhenti mengagumiku dalam diam (dok. Junaidi Khab)

Judul               : Adonis Berhenti mengagumiku dalam diam

Penulis             : Ambhita Dhyaningrum

Penerbit           : Pustaka Populer (PT Bentang Pustaka)

Cetakan           : I, 2015

Tebal               : vi + 218 hlm.; 20,5 cm

ISBN               : 978-602-291-075-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Melalui karya ini, Ambhita mengemas sebuah kisah perjalanan rumah tangga Kalea dan Alfa. Mereka berdua sudah jatuh cinta sejak masih duduk di bangku kuliah. Hingga pada akhirnya mereka menikah dengan restu kedua orang tuanya atas dasar cinta sama cinta dan sayang sama sayang. Tidak ada paksaan. Kehadiran rasa cinta dan sayang dalam hidup Kalea dan Alfa cukup memukau, perjalanannya panjang dan penuh kebahagiaan dalam rumah tangganya. Hingga mereka dikaruniai seorang putri bernama Kira. Hidup mereka bertambah teduh dan bahagia dengan kahadiran sosok Kira.

Sayangnya, ketika Kira menginjak usia dua tahun, Alfa yang sejak awal sangat setia dan perhatian pada Kalea lamat-lamat sudah mulai menampakkan pribadi yang berbeda. Alfa bukan seperti yang dikenal oleh Kalea sebelum Kira menginjak usia dua tahun. Alfa sudah bukan Alfa yang dulu lagi. Dia menjadi sosok yang peselingkuh. Dia tiba-tiba menjadi playboy. Bermain perempuan, Wanda namanya. Hingga akhirnya, Kalea menggugat cerai pada Alfa (hlm. 4).

Hancur sudah kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh Kalea dan Alfa. Kira dibawa oleh Kalea kerumah orang tuanya di Bogor. Sesekali Alfa menjenguknya, itu pun atas ijin dari Kalea jika memberikan ijin. Sementara Kalea yang tinggal di Jakarta rutin menjenguk putrinya setiap akhir pekan. Tepatnya hari Sabtu hingga Minggu sebagai hari libur kerja. Konflik keluarga mereka ditutupi sangat rapat dari pengetahuan putrinya. Mereka benar-benar lihai dan pandai menutupi konflik keluarganya. Satu alasan yang membuat mereka menutupi konflik dari putrinya, yaitu agar psikologi dan kejiwaan Kira tidak terbawa arus konflik juga. Sehingga bisa tenang.

Namun, suatu ketika Alfa memita ijin pada Kalea untuk menjenguk putrinya. Waktu itu Alfa bukan hanya minta ijin untuk menjenguknya, tapi Alfa sebagai ayah Kira ingin merayakan ulang tahunnya yang kelima untuk berlibur ke Bali selama sepekan. Kalea dilanda keraguan hingga dia memberikan jeda selama tiga hari untuk memberikan keputusan pada Alfa. Namun atas pertimbangan demi kebahagiaan Kira pada hari ulang tahunnya, Kalea mengijinkan Alfa untuk diajak berlibur ke Bali. Karena sebelum perceraian itu mereka berjanji akan berlibur ke Bali pada Kira (hlm. 71).

Beban Moral dan Mental

Manusia akan tetap sebagai manusia tidak bisa berubah menjadi malaikat. Segala macam sikap kemanusiaan akan berubah seiring waktu berputar untuk mengantarkannya. Manusia yang awalnya baik, di kemudian hari pasti mengalami pergeseran. Begitu pula sebaliknya. Tak jauh berbeda dengan sikap seorang suami, pada mulanya memang setia, suatu ketika pasti akan menemukan persoalan lain yang bisa menyebabkan pengkhianatan. Seperti halnya yang dialami oleh Alfa. Dia orangnya baik dan setia pada mulanya pada Kalea. Namun seiring waktu mengantar masa-masa pernikahannya, Alfa menampakkan jati dirinya sebagai seorang manusia. Hingga atas sifat kemanusiaannya mengantar pada perceraian.

Bercerai dalam kehidupan rumah tangga menjadi beban moral yang harus ditanggun oleh pasangan suami istri. Bahkan, bukan hanya beban moral, tapi beban mental yang harus mereka tanggung. Jika tidak bisa mengendalikan perihal perceraian dalam rumah tangga, anak-anak mereka juga bisa menanggung beban moral dan mental meski tidak ikut-ikutan dalam masalah keluarga. Anak-anak yang akan menjadi korban suatu perceraian suami-istri. Maka dari itu, Kalea tidak pernah mengikut-campurkan urusan dirinya dan Alfa dengan Kira. Selama itu pula dia dan Alfa menutupi dari pengetahuan anaknya (hlm. 99). Beban bental yang paling dikhawtirkan oleh mereka berdua.

Kisah dan alur dalam novel ini memiliki nuansa penulisan novel tahun 70-an dengan latar atau setting kota serta tokoh yang berkarir-bekerja kantoran. Tidak jauh berbeda dengan novel-novel terbitan tahun 70-an. Bahasa-bahasanya unik dan menarik seperti halnya penulisan bahasa yang digunakan oleh Marga T. yang lihai dalam bermain kata-kata. Apalagi tentang wanita karir dan kantoran. Sehingga, ceritanya enak dibaca dan renyah untuk dipahami.

Karya ini hadir sebagai upaya untuk menunjukkan tindakan sebagai orang tua harus bersikap kepada anak-anaknya. Anak-anak jangan sampai dilibatkan dalam konflik keluarga, suami-istri. Kadang pasangan suami-istri kurang memahami dan tidak menyadari, konflik yang terjadi di antara mereka diumbar kepada anak-anaknya. Jangan heran jika jiwa anak-anaknya temperamental dan arogan pertumbuhannya. Maka dari itu, dari kisah-kisah dalam novel ini, kita bisa belajar dan introspeksi diri. (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Bisa diakses di: Harian Bhirawa Jawa Timur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: