Menyikapi Arti Sebuah Perpisahan dan Kehilangan

Kabar Madura: Jumat, 7 Oktober 2016

Selamat Berpisah Calon Imamku (doc: Junaidi Khab)

Selamat Berpisah Calon Imamku (doc: Junaidi Khab)

Judul               : Selamat Berpisah Calon Imamku

Penulis             : Ririn Astutiningrum

Penerbit           : mizania

Cetakan           : I, 2016

Tebal               : 162 hlm

ISBN               : 978-602-1337-99-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Perpisahan memang sangat menyakitkan. Apalagi jika perpisahan itu terjadi di antara dua insan yang saling mencintai dan rasa sayang melekat di lubuk hatinya. Seorang pun di dunia ini memang kadang sulit untuk menerima kenyataan tentang perpisahan dalam hidupnya. Namun, apalah daya kita sebagai manusia hanya bisa berusaha. Sementara garis-garis tangan kita, Tuhan yang menentukan. Jika kita bisa menentukan garis-garis tangan sendiri, mungkin segala sesuatu yang kita harapkan bisa kita tentukan sendiri pula. Tetapi, hal itu mustahil terjadi, karena Tuhan yang memiliki kuasa atas seluruh makhluknya.

Karya ini merupakan sekumpulan kisah-kisah sedih dan menyakitkan tentang perpisahan calon pendamping hidup. Di antara kisah-kisah dalam buku ini, ada yang harus terjatuh sekian kali ke jurang kesedihan. Seakan waktu berbalik seratus delapan derajat dari kenyataan yang diinginkan. Jodoh sudah ada di ambang mata, kuasa Tuhan dengan begitu singkat harus memisahkannya (hlm. 7). Luka memang. Sakit iya. Hingga sakit dalam perasaan itu sebagian sampai menjalar menjadi penyakit fisik.

Kita tidak tahu rahasia dan hikmah di balik perpisahan yang kadang datang tiba-tiba di dalam kehidupan. Tentu ada nilai baik dan positifnya bagi perjalan hidup kita untuk selanjutnya. Kisah-kisah di dalam buku ini mengingatkan pada kita semua agar berprasangka positif dan mengambil hikmah dari sebuah perpisahan. Tentu, rahasia Tuhan di balik suatu perpisahan yang menyakitkan itu bisa kita temukan jika bersabar.

Mencintai seseorang yang telah pergi dari kehidupan kita – berpisah – tidak harus menjadikan diri kita terpuruk sepanjang masa. Hingga membawa kematian. Hal itu bukan cinta yang sebenarnya. Cinta antara laki-laki dan perempuan akan menjadi indah dan berkah ketika dibingkai dalam syariat (hlm. 12). Ajaran Islam telah mengajarkan tentang cinta cinta agar dikelola supaya tidak membabi buta.

Kehilangan atau perpisahan pasti dialami oleh setiap manusia tanpa terkecuali. Sangat wajar jika kita bersedih. Namun, jangan sampai berlebihan hingga menghambat langkah untuk menuju masa depan (hlm. 33). Dari sebuah kehilangan atau perpisahan kita harus belajar banyak hal; sabar, sabah, dan ikhlas. Seperti halnya kita ikhlas menerima pertemuan. Keduanya ibarat sisi mata uang, tak terpisahkan.

Kisah Hikmah

Perjalanan hidup Dina untuk membangun keluarga sudah di ujung mata. Namun, kejadian tak terduga menimpa Deddi karena kecelakaan harus menimpa (hlm. 16). Pernikahannya pun gagal. Dina terpuruk. Namun, ia kembali bangkit. Karena cinta bukan menjadikan orang harus sedih, tapi kebahagiaan yang menjadi bukti sebuah rasa cinta dan berdoa untuk orang yang terkasih. Begitu tipis tirai kehidupan dan kematian. Namun, orang besar memandang masalah besar menjadi kecil. Sedangkan orang kecil, memandang masalah kecil menjadi besar. Itu prinsip hidup yang dipegang oleh Dina di kemudian hari setelah ia gagal untuk menikah yang hanya tinggal hitungan hari.

Kisah lain. Ratih akan menikah dengan Sopiaan. Namun, ia harus merelakan kepergian Sopiaan. Setelah orangtua Sopiaan tahu keadaan Ibu Ratih yang kena penyakit gila tiba-tiba mereka menggagalkan pernikahan Ratih dan Sopiaan. Ratih pun harus menerima dengan lega demi kehormatan ibu dan keluarganya (hlm. 113). Rasa sabar dan menerima atas ketentuan yang digariskan oleh Tuhan akan membawa pada kehidupan yang lebih baik. Begitu yang dijadikan pegangan hidup oleh Ratih untuk membuka tabir rahasia di balik kegagalannya menikah dengan lelaki yang ia cintai.

Dua kisah tersebut merupakan segelintir kegamangan hidup. Pembaca bisa menemukan kisah-kisah sedih, haru, dan menyakitkan yang dipenuhi kesabaran di dalam buku ini. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang mampu bangkit dari kesedihan karena calon imamnya – suami – yang sudah berada di ambang pernikahan harus meningglakannya. Mereka mampu move on dari rasa sedihnya.

Kehadiran karya ini bukan sedang mengajarkan tentang perpisahan yang memilukan, menyedihkan, dan mentisakan kenangan pahit. Tapi, kisah-kisah nyata nan indah tentang sebuah perpisahan tetap membuat mereka yang mengalaminya bisa tersenyum kal rindu tak tertepikan kepada kekasih, saat cinta tak berlabuh pada muaranya, saat hati tak menemukan tempat kembali. Kisah-kisahnya menyiratkan sebuah perpisahan yang selalu menepikan keindahan. Selamat membaca! (*)

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku asal Sumenep, lulusan UIN Sunan Ampel Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: