Berkunjung ke Penerbit Bentang di Yogyakarta

Junaidi Khab

Junaidi Khab

PADA Jumat, 9 September 2016 resensiku dimuat di koran Harian Bhirawa Jawa Timur atas buku Adonis terbitan Bentang, Yogyakarta. Lama sekali resensiku yang dari penerbit Bentang tidak dimuat di koran. Buku Adonis merupakan buku terbitan tahun 2015 yang dimuat pada tahun 2016. Tidak begitu jauh masanya – masa buku terbit dengan resensi yang dimuat di koran. Aku pun senang. Aku bisa mengajukan surat permohonan buku pada penerbit Bentang.

Sebagaimana biasa, surat permohonan buku kepada penerbit Bentang pun kukirim via e-mail. Tapi, sedikit lama respons dari pihak marketting dan promosi (Markom). Dalam balasannya via e-mail, pihak Markom meminta maaf atas keterlambatannya dalam merespons surat permohonan dari para resensor. Baik, itu bukan persoalan. Tapi, aku punya inisiatif – karena aku tinggal di Jogja – untuk berkunjung langsung ke sana untuk mengambil reward buku yang memang dikhususkan bagi resensor.

Tepat hari ini – Rabu, 21 September 2016 – aku mengajak Marsus untuk berkunjung ke penerbit Bentang sambil mau mengirimkan paket via pos. Ia setuju. Aku pun berangkat mengendari motor Jupiter miliknya ber-letter AB (Jogja). Aku yang diminta mengemudi. Di tengah perjalanan, sempat berhenti di SPBU terdekat dari tempatku. Aku memberi anggaran uang bensin delapan ribu rupiah (Rp.8000). Sementara Marsus, berencana akan beli bensin sepuluh ribu rupiah (Rp.10.000). Jadi, aku beli bensi Rp.18.000. Setelah itu berangkat. Karena Marsus yang lebih berpengalaman jalan di Jogja – aku kan masih tergolong bar – jadi ia yang menjadi guide di jok belakang.

Aku melewati kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Universitas Gajah Mada (UGM). Arah ke Penerbit Bentang sebenarnya sedikit tahu. Tapi, agar tidak sesat arah jalan, Marsus di belakang menggunakan GPS – aku masih belum tahu kepanjangan singkatan itu. Dengan mengikuti petunjuk dari Marsus, aku pun tiba di kantor penerbit Bentang.

Di sana, aku melihat brand Mizan – karena penerbit Bentang, asetnya dibeli oleh Mizan – jadi tidak heran. Pintu gerbang kantornya, ada di sebelah timur. Di sisi bagian utara, ada toko penerbit Mizan. Di sana ada seorang lelaki. Pada mulanya Marsus memintaku agar bertanya pada orang itu. Tapi, aku memberanikan diri untuk memencet bel di dinding. Setelah dipencet, kata lelaki itu aku keliru. Itu kantor Mizan, katanya. Lalu, aku bilang mau ke Markom Bentang untuk mengambil reward resensi. Lelaki itu pun mengantarku hingga ke pintu kantor Bentang.

Ditemui Mas Sholahuddin

Aku masuk dengan mengucap selamat pagi, karena waktu itu masih belum lewat pukul 12 siang. Di sana ada seorang perempuan (mungkin resepsionis – penerima tamu). Aku buka pembicaraan padanya kalau mau ambil reward resensi buku terbitan Bentang. Lalu, perempuan itu menanyakan perihal pengajuan via e-mail. Aku pun mengiyakan dan mendapat balasan. Perempuan itu menanyakan surat yang kuajukan. “Atas nama siapa?” tanyanya. Aku jawab atas nama ‘Junaidi Khab’. Kemudian perempuan itu memintaku agar duduk-menunggu.

Di tempat duduk – tepatnya di meja – ada koran KOMPAS Aku membuka dan membolak-balik koran. Hingga setelah agak lama aku menunggu, seorang lelaki datang dengan membawa dua buah buku berikut dengan amplop – yang dalam dugaanku itu surat pengantarnya. Benar, itu surat pengantar atas pengajuan surat resensiku. Pada mulanya saat lelaki itu akan menyerahkan dua buku itu, aku ingin berjabat tangan. Tapi, sepertinya ia bingung karena memegang buku. Buku itu kuterima, lalu bersalaman.

Kami duduk berdua. Ada sedikit perbincangan. Di tengah perbincangan, ia masuk lagi. Ternyata, ia membawa tas yang terbuat dari kertas – entah aku tak tahu itu disebut apa namanya. Dua buku itu dimasukkan ke dalam tas kertas. Lalu, perbincangan pun berlanjut. Dia menyebut namaku, Junaidi Khab – ia tahu dari surat resensi yang kuajukan tentunya. Kemudian, aku balik tanya namanya. Sholahuddin, jawabnya. Kami berbincang hangat berbagai hal terkait kepenulisan dan dunia buku serta acara-acara yang kemungkinan akan dilaksanakan – baik oleh penerbit Bentang atau Mizan.

Di tengah pembicaraan, ia mau menebak asalku. Aku mengiyakan saja. Aku katanya dari Tegal. Eh, keliru. Aku dari Sumenep. Mungkin karena logat ngapak – dalam bahasa Jawa. Kemudian aku menanyakan perihal asal kota Mas Sholahuddin, ia dari Rembang. “Rumah Gus Mus,” kataku menyela. Di saat itu pula, ada seorang perempuan yang datang. Aku tak mengenal. Perempuan itu tampak bingung di luar pintu. Lalu, Mas Sholahuddin membukakan pintunya. Setelah itu, Mas Sholahuddin duduk kembali dengan obrolan ringan.

Perempuan Cantik di Toko Buku

Pada saat pembicaraan sedikit reda, aku segera menyudahi untuk pamit pulang pada Mas Sholahuddin. Di luar ada Marsus yang menunggu sambil melihat-lihat buku di toko buku Mizan. Aku keluar dari pintu dengan sedikit diantar – cuma sampai di pintu sisi dalam. Aku menghampiri Marsus yang matanya sedang nikmat menyapu buku-buku di sana. Aku bilang punya buku ini dan itu – dengan menunjuk pada buku-buku tertentu. Setelah agak lama, Marsus – dan aku tentunya – ada inisiatif untuk pulang.

Sebelum itu, aku melihat lelaki – sepertinya, lelaki itu yang memberi petunjuk kantor Bentang – di toko buku Mizan, tapi pada saat itu tidak ada. Di ruang tunggu – anggaplah kasir  toko buku – ada seorang perempuan dengan kacamata dan alisnya seperti diukir (tepatnya ditulis) di pojok sebelah barat laut. Saat aku akan keluar, dia melihatku. Aku pun melihatnya juga. Lalu, ia menunduk. Mungkin asik bermain dengan ponsel pintarnya. Sambil berjalan untuk keluar, aku menoleh ke kanan – tepatnya ke perempuan tadi. Aku memerhatikan wajah cantik di balik kacamatanya. Eh, tanpa disangka di depanku yang kukira pintu, ternyata bukan pintu – kaca bening. Aku menabraknya dengan keras – karena pada saat itu, aku menoleh ke arah kanan sambil berjalan menuju motor.

Perempuan itu refleks berseru – entah, aku lupa seru keterkejutannya yang ia ucapkan. Kemudian, ia menunduk lagi. Mungkin tak mau menertawakan aku. Sementara aku tertawa geli atas kejadian itu. Dalam hatiku, tak ada rasa malu – seperti orang-orang jika terbentur kaca bening karena tidak tahu. Aku malah merasa itu lucu dan membuatku senang bisa tertawa-terkekeh hingga ke halaman depan toko Mizan – tempat motor diparkir. Aku pikir, perempuan itu ingin tertawa juga. Tapi, ia menahannya karena tak kenal denganku. Ia memilih diam.

Dalam tebakanku, perempuan itu ingin segera melepas rasa geli untuk tertawa atas peristiwa itu dengan menceritakannya kepada orang lain – teman-temannya. Atau bisa saja menulis status di facebook atau media sosial lainnya atas kejadian itu. Begitu dugaanku yang masih tetap tertawa dengan Marsus hingga ke parkir motor di halaman toko buku Mizan. Kata Marsus, ia mengira kacanya akan pecah karena aku membenturnya sangat cepat, hingga bergetar. Bagaimana tidak? Waktu itu aku sebenarnya kan ingin keluar. Tapi, mata malah melihat wajah cantik di balik kacamata. Lumayan, mumpung perempuan itu tidak melihatku. Aku tak berani memerhatikannya, jika perempuan itu tetap melihatku atau tidak menunduk main ponsel pintarnya. Ini kesempatan pikirku begitu.

Di tengah jalan saat mengendari motor, rasa geli untuk tertawa tetap menggelitik hati dan pikiranku. Aku tertawa saja teringat kejadian lucu itu. Lalu, aku sedikit melupakan untuk fokus mengendarai motor. Agenda terakhir aku ingin ke kantor pos. Saat aku tiba di kantor pos – langganan Marsus katanya – untuk mengirimkan berkas, aku tanya pada Marsus – yang kubuat dengan sebuah pernyataan. “Apa di kaca tadi ada bekas wajahku, utamanya minyak wajah?” tanyaku. “Ada,” katanya. Andaikan aku memakai gincu, mungkin kaca itu bercap gincu – merah. Aku tertawa lagi mengenang kejadian itu sambil keluar dari kantor pos. (*)

Yogyakarta, 21 September 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: