Kartu Anggota untuk Ngopi

Junaidi Khab

Junaidi Khab

GELAP malam kota Surabaya sudah menutupi gedung-gedung pencakar langit. Gemuruh kendaraan bermotor dengan sirenenya melengking tiada terkira. Menjelang pukul empat sore macet menjadi ikon menarik bagi penikmatnya di Surabaya sekaligus menjengkelkan bagi para pengendara. Langit kekuningan akibat cahaya lampu kota yang berjejer menyemai di awang-awang. Aku berada tak begitu jauh dari gemuruh kendaraan. Tapi tak begitu dekat. Cukup nikmat untuk mengulum mimpi di malam hari.

“Teh, ayo nanti ngopi,” kata Abdullah Hanini yang berdarah Jember kepada Edi Sugianto – orang Pamekasan, teman luar kos. “Sekalian ngajak Si Jun biar tahu ngopi.”

“Ah, ide bagus,” kata Edi.

“Aku gak mau ikut,” kataku setelah mendengar Edi setuju. Waktu itu, aku memang belum pernah ngopi sama sekali.

“Halah, Jun. Nanti aku yang bayar,” kata Hanani lagi. “Kamu di sana tinggal pesan dan membuat kartu anggota.”

“Iya, Jun. Ayo ikut ngopi,” kata Edi lagi.

“Oke deh. Di mana mau ngopi?” tanyaku pada mereka.

“Di JX Internasional,” kata Edi.

Aku menanti saat-saat keberangkatan untuk ngopi – ngobrol sambil minum kopi. Di JX, tepatnya di depan parkirannya, memang ramai oleh pedagang kaki lima yang menjual kopi siap saji. Masyarakat umum dan mahasiswa – khususnya UIN Sunan Ampel Surabay – mayoritas minum kopi di sana.

“Ayo, Teh,” ajak Hanani pada Edi. Sementara aku sudah sedang siap-siap.

“Aku harus bawa KTP, ya?” tanya Edi.

“Gak usah,” kata Hanani.

“Si Jun itu gimana?” tanya Edi dengan mendongakkan kepala ke arahku.

“Ya, dia harus bawa KTP untuk menjadi anggota,” kata Hanani.

“Jun, bawa KTP ya, nanti buat kartu anggota di sana,” kata Edi padaku.

Aku pun mengiyakan imbauan dari Edi. KTP kubawa di dalam saku. Aku jarang membawa dompet kalau hanya berjalan di lingkungan sekitar tempat aku indekos. Aku, Hanani, dan Edi menyusuri remang-remang malam. Karena memang begitu kota Surabaya pada malam hari. Ya, tidak sama dengan siang hari yang selalu tampak terang dan cerah kalau tidak mendung.

“Sana Jun, pesan kopi sekaligus buat kartu peserta,” kata Hanani.

“Kalian gak mau buat?” tanyaku.

“Aku sudah punya kartu anggota,” kata Hanani dan Edi. Pada mulanya, aku meragukan Edi. Karena sejak semula dia juga bingung apa mau membawa KTP atau tidak ke tempat ngopi. Tapi pada akhirnya dia tidak membawa. Aku pun mendekati salah seorang pedagang kaki lima. Hanani dan Edi sudah memesan terlebih dahulu sebelumku.

“Pak saya pesan kopi,” kataku pada bapak-bapak yang jualan kopi. “Dan saya mau buat kartu anggota,” kataku sembari menyodorkan KTP sebagai pendataan anggota baru untuk ngopi.

“Eh, gak usah, Mas,” kata bapak itu.

“Iya, Pak. Itu mau buat kartu anggota katanya,” kata Edi. “Teman saya katanya sudah buta, Pak.”

“Berapa lama akan jadi kartu anggotanya, Pak?” tanyaku lagi pada bapak itu meski dilanda rasa heran. Aku sebenarnya agak ragu. Masak di tempat ngopi ilegal itu memakai kartu anggota. Lalu, menulis menggunakan apa bapak itu? Dan kartu anggotanya mau dicetak di mana? Kan di pinggir jalan. Sebelum berangkat, aku diminta membuat kartu anggota agar aman saat ada Satpol PP yang merazia para PKL di sana. Waktu itu, aku ngotot ingin membuat kartu anggota. Ya, takut ada razia dari Satpol PP Surabaya, agar aku aman.

“Ya, sudah. Mas letakkan di sini saja dulu KTP-nya,” kata bapak-bapak itu.

“Tapi, kartu anggotanya langsung jadi kan, Pak?” tanyaku tak sabar ingin segera memiliki kartu anggota.

“Iya, gampang saja,” katanya padaku.

“Ayo, ayo, kita cari tempat duduk yang nyaman,” kata Edi yang menungguku. Lalu dia melihat pada Hanani yang sudah duduk manis di atas banner yang dijadikan tempat duduk. Aku pun menikmati kopi pesananku. Malam itu, malam pertama aku ikut nongkrong di pinggir jalan.

Malam sudah semakin kelam. Kendaraan bermotor tetap berlalu lalang. Kadang, beberapa kali kereta mengguyur punggung di bagian belakang. Lha, ya memang di bagian belakang, kok. Kereta berlalu, kendaraan mondar-mandir, kopi atau minuman pesanan kami pun habis.

“Ayo, kita pulang. Ini sudah malam,” kata Hanani beranjak berdiri untuk membayar ke PKL.

“Lha, kartu anggotaku bagaimana ini?” tanyaku tak sabar setelah menunggu sekian lama yang disertai rasa khawatir akan ada Satpol PP.

“Iya, sana nanti tanyakan kepada bapak yang jual kopi,” kata Hanani.

Mereka pun beranjak-beridiri duluan. Hanani segera membayar kopi atau minuman yang kami pesan. Aku pun mengikuti mereka yang mau pulang. Tapi, aku tak berani ngomong sama bapak penjual kopi untuk menanyakan perihal kartu anggota dan KTP yang kutitip sebelumnya.

“KTP dan kartu anggotaku bagaimana?” tanyaku pada Hanani yang sudah mau pulang. Karena aku yakin, tadi pas Hanani bayar uang kopi, dia telah mengambilkannya.

“Oh, iya. Ambil sana dulu sama bapak,” kata Hanani sembari berdiri untuk menungguku yang siap pulang.

“Pak, kartu anggota saya bagaimana?” tanyaku pada bapak penjual kopi itu.

“Sampeyan tadi nitip KTP, ya?” tanyanya.

“Iya, untuk buat kartu anggota,” kataku datar.

“Ini KTP-nya,”

“Lha, kartu anggota saya mana, Pak?” pintaku tetap ngotot.

“Gak usah, Mas,” katanya lagi.

Aku pun berlalu dan pikiran dipenuhi beribu tanda tanya yang menumpuk. Rasa jengkel kadang menyelimuti pikiran karena kartu anggota gak jadi dibuatkan. Dengan begitu, aku khawatir nanti kalau ngopi di sana lagi ditangkap Satpol PP yang merazia pedagang kaki lima ilegal. Kami pun pulang menuju tempat tinggal di Surabaya. Gemerlap cahaya lampu kota menyinari kekecewaanku karena tidak memiliki kartu anggota. Hanani dan Edi buru-buru ingin segera tiba di tempat tinggal. Kulihat cara jalannya yang begitu kencang.

“Hahaha… Si Jun kena!” kata Hanani sambil bergulur dengan tawa terpingkal-pingkal di kamar setelah tiba di tempat tinggal. Aku hanya heran. Memangnya, aku ini kena apa? Sejak perjalanan tadi mereka tidak menggoda atau mengerjaiku.

“Kamu, Teh, tadi itu sebenarnya tak usah membuat kartu anggota. Kamu itu dikerjain. Hahaha…” kata Edi cengingisan lalu ikut bergulur dengan Hanani mengingat kejadian tadi saat aku memesan kartu anggota untuk ngopi di pinggi jalan.

“Hhhh…” kataku mendesah dengan nada kecewa.

Tapi, saat itu aku biasa-biasa saja. Toh tidak ada ruginya padaku. Aku ngopi dibayari oleh Hanani. Dalam keadaanku masih kesal karena dikerjain, Hanani dan Edi tetap tertawa melihatku yang cemberut. Aku tetap diam.

“Huh, andai aku tahu. Tak mungkin tadi membawa KTP,” kataku membuka kemelut pikiran yang masih jengkel.

Aku pun mulai ringan dan tenang setelah mengutarakan kekesalanku atas kejadian itu. Perbincangan ngalor-ngidul gak karuan di dalam kamar. Kami kembali mengulang cerita sejak keberangkatan sebelum ngopi. Canda-tawa mengihiasi kamar. Hanani memang baik, tapi dia iseng. Sementara Edi, berpribadi diplomatik yang kadang menyimpan banyak empati padaku. Aku senang berteman dengan kalian. Sejengkel apa pun aku pada kalian setelah tahu aku dikerjain, aku tetap mengulum senyum dan menebar tawa bersama mereka. Bukan jengkel lagi, tapi lucu dan lugu diriku. (*)

Yogyakarta, 08 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: