Sebuah Perjuangan untuk Menikah

Junaidi Khab

Junaidi Khab

BUKU “Orang Miskin Dilarang Kawin” ini merupakan sekumpulan artikel cerita pendek yang dikemas sedemikian rupa – sedih, bahagia, bangga, dan kecewa. Ada delapan kisah seorang lelaki miskin yang berani menikah dan mereka mampu menopang kehidupan rumah tangganya. Bukan karena apa-apa, tapi karena cinta mereka bisa menjalani hidup penuh semangat dan bahagia. Kisah-kisahnya memang kocak dan keren. Jika dilihat dari cara penggunaan bahasanya, kisah-kisah di dalam buku ini merupakan kisah-kisah yang benar terjadi tentang orang miskin yang ingin menikah dan mendapat kendala karena statusnya sebagai orang miskin. Memang begitu, nyata. Kadang kita memang minder dan tidak percaya diri saat akan melamar seorang wanita. Satu hal yang kita perhitungkan, materi. Bukan cinta lagi.

Memang begitu kenyataannya. Banyak orangtua anak gadis yang menginginkan seorang menantu yang mapan, kaya, seorang pegawai negeri sipil, dan serba berkecukupan. Lumrah, itu manusia. Sehingga tak heran para orangtua kadang was-was dan tentunya dengan tangan besi menentukan jodoh pilihannya bagi anak gadis yang mereka miliki. Itu lumrah terjadi. Itu sebuah egoisitas orangtua meski niatnya baik – ingin membahagiakan anak agar berkecukupan. Mengapa orangtua tidak memikirkan tentang cinta dan kesetiaan?

Kadang orangtua memang egois. Pilihannya sendiri ingin diikuti oleh anak-anaknya. Biasa, itu manusiawi. Di saat anak gadisnya menentukan dambaan hatinya, orangtua dengan pilihannya tetap akan tidak merestui jika bukan pilihannya sendiri yang dipandang mapan secara ekonomi. Mereka punya pilihan yang dipaksakan. “Kamu jangan menikah dengan Si A. Hidupnya tak menjanjikan. Nanti kamu mau makan apa? Mending kamu menikah dengan Si B. Dia sudah mapan dan masa depanmu dijamin.” Begitu biasanya orangtua dengan kata-katanya. Nah, memang orangtua itu Tuhan yang bisa menebak masa depan anaknya seperti apa?

Menikah bukan persoalan materi. Tapi persoalan cinta kasih di antara suami dan istri. Materi tidak akan abadi. Coba kalau jatuh miskin menantunya. Lalu, orangtua mau berkata apa? Takdir? Halah, percuma! Toh sebelumnya mereka memaksakan kehendaknya. Kadang anak gadis mengeluarkan kata-kata andalannya, “Yang mau menikah itu bukan bapak atau ibu. Tapi saya. Susah-senang saya dan suami yang akan menjalaninya.” Begitu biasanya senjata seorang anak gadis jika dipaksa menikah dengan pilihan orangtuanya.

Tak masalah menikah dengan pilihan orangtua jika sama-sama bisa saling mencintai. Mencintai bukan karena materi. Cinta harus tulus, bukan karena materi. Jika cinta dipaksakan, suatu hari nanti keutuhan rumah tangga bisa hancur. Ini cuma asumsi. Jika materi habis, hilang biasanya rasa cinta. Orangtua anak seorang gadis memang kadang bertangan besi, bahkan bisa dikatakan bertangan Tuhan. Menentukan nasib anaknya menurut pandangannya sendiri.

Memang ada, anak gadis yang menikah atas pilihan orangtuanya dan hidup sejahtera serta langgeng. Nah, mungkin di situ ada rasa cinta yang dibangun. Tapi, sulit untuk membangun rasa cinta kepada orang yang tidak kita cintai. Tapi, ada pula yang hidupnya berantakan karena pernikahan mereka tidak dilandasi rasa cinta. Hal ini yang rumit. Orangtua harus toleran intinya jika membaca buku “Orang Miskin Dilarang Kawin” ini.

Kadang orangtua lupa daratan. Begitu kira-kira bahasanya meski mereka mempunyai niat baik untuk membahagiakan anaknya. Lha, tapi mereka membahagiakan anaknya dengan ukuran materi. Itu tidak baik. Padahal, orangtua juga tentu mengalami rasa yang juga sama. Pernah melarat. Pernah jatuh cinta dan cintanya tidak boleh dihalangi untuk menikah dengan lelaki atau gadis pujaannya. Mereka kadang egonya tinggi, ingin segala keinginannnya dituruti. Ya, sebagai anak gadis, untuk menikah juga harus pilih-pilih lelaki yang baik, bukan asal-asalan. Lelaki baik di sini sebenarnya subjektif. Tapi bisa dikategorikan dalam beberapa hal. Misalkan, lelaki baik itu bisa bertanggungjawab seperti kisah-kisah yang disajikan di dalam buku “Orang Miskin Dilarang Kawin”.

Intinya, kalau kita sudah bulat dengan tekad yang kuat ingin menikah, maka harus menikah. Tidak usah melihat materi yang kita miliki. Materi itu bisa dicari dengan pasangan kita. Susah-senang diemban berdua. Di sanalah kenikmatan hidup. Tidak mungkin orang merasakan bahagia kalau tidak pernah sedih. Misalkan seorang anak gadis dipaksa menikah dengan lelaki kaya dan serba memiliki segalanya. Lalu, dari mana anak gadis itu akan mengetahui kenikmatan hidup jika segalanya sudah tersedia tanpa harus berjuang? Hidup itu akan indah kalau kita pernah mengalami hal-hal yang sulit. Istilahnya, seperti pelangi yang berwarna-warni, tapi indah, enak dan nikmat dipandang.

Orangtua harus diplomatik, ya tentunya harus melihat kebahagiaan anaknya bukan karena materi belaka. Sebenarnya, jika orangtua yang menentukan pilihan suami anak gadisnya, itu hakikatnya orangtuanya sendiri yang ingin hidup berada di bawah naungan menantunya. Kadang begitu. Tapi, kadang orangtua juga melihat calon menantunya dari segi moral, pengetahuan, dan status sosialnya. Itu masih lumayan. Tapi, itu masih kurang baik jika dilihat dari status sosialnya.

Sudah banyak terbukti, kita hanya tinggal melihat orang-orang yang menikah karena cinta bisa hidup dengan bahagia. Materi bukan ukuran kebahagiaan. Kebahagiaan memang kadang bersumber dari materi. Ada banyak orang yang memiliki harta dan materi, tapi hidupnya selalu dirundung sedih dan susah. Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak memiliki materi bisa hidup dengan tenang dan bahagia. Begitulah hati manusia yang tidak bisa diukur dengan materi. Tapi, lapang hati dan jiwa merupakan modal untuk hidup bahagia. Soal materi, bisa dicari. Toh, orangtua kita juga tentunya berjuang mati-matian untuk mendapat materi yang mungkin – mereka lupa – bahwa materi tidak memberikan kebahagiaan secara utuh.

Intinya, menikah itu – tentunya yang bersumber dari rasa cinta – akan menumbuhkan semangat. Ada banyak dalil, pepatah, dan kata-kata bahwa menikah itu menjadi sumber rejeki. Silakan baca dan renungi di dalam al-Quran surah al-Nur ayat 32 tentang menikah. Orang miskin pun jika menikah, Tuhan yang akan menanggung rejekinya. Tentunya, ya berusaha dan bekerja. Dari pernikahan itulah semangat untuk bekerja dan berusaha akan terus meningkat. Ada banyak bukti di lingkungan sekitar kita yang menikah tanpa memiliki harta kekayaan yang melimpah, tapi bersama istrinya mereka bisa memiliki kekayaan yang bisa dikata lebih dari cukup. Begitu. Pernikahan jangan dipandang dari sudut materi, tapi cinta hakiki yang sejati yang harus dipertimbangkan selain harus melihat aspek moral. Satu lagi, orang miskin itu sebenarnya tidak dilarang menikah. Itu intinya.

Yogyakarta, 6 Oktober 2016

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: