Ketentuan Hukum bagi Jessica

Jessica Kumala

Jessica Kumala

JAKARTA. – Terdakwa kasus kematian Wayan Mirna Salihin di Kafé Olivier, Grand Indonesia Jakarta, Jessica Kumala Wongso, dituntut 20 tahun penjara oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU).

“Menjatuhkan pidana kepada Jessica Kumala alias Jessica Kumala Wongso alias Jess dengan pidana penjara selama 20 tahun dikurangi selama masa tahanan,” ujar Jaksa Meylany Wuwung saat membacakan surat tuntutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (5/10) malam.

Sebelumnya, Jaksa menyebut dari alat bukti berupa keterangan saksi, ahli, surat, dan terdakwa yang saling berkesesuaian, diperoleh fakta-fakta hukum yang tidak bisa disangkal kebenarannya.

Jaksa menuntut Jessica dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Jessica dianggap telah memenuhi tiga unsur dalam pembunuhan berencana, yakni disengaja, direncanakan, dan merampas nyawa orang lain.

Hal-hal yang memberatkan, perencanaan dilakukan secara matang sehingga terlihat keteguhan, perbuatan sangat keji, perbuatan sangat sadis karena menyiksa terlebih dahulu sebelum meninggal, berbelit-belit dan tidak mengakui perbuatannya, memberikan informasi menyesatkan.

“Sementara hal-hal yang meringankan tidak ada,” kata Jaksa. Usai dituntut 20 tahun penjara, Jessica tampak diam. Penasihat hukumnya terlihat berusaha memberikan masukan untuk sidang lanjutan, Rabu (12/10), dengan agenda nota pembelaan.

Kepada wartawan, pengacara Jessica, Otto Hasibuan, mengaku keberatan dengan tuntatan tersebut. Alasannya, karena tidak ada fakta persidangan yang membuktikan Jessica menaruh racun di kopi Mirna. “Mau 20 tahun atau satu tahun penjara sama saja, karena bukti belum cukup,” katanya.

Otto menilai JPU mencoba memanipulasi keterangan. Otto juga terkejut ketika JPU mengatakan Jessica positif memasukan 5 gram sianida ke kopi korban Wayan Mirna Salihin.

“Tadi saya kaget aja, ada hal-hal yang tidak benar. Dikatakan, Jessica memasukan 1 – 5 gram (sianida). Pertanyaan saya, kapan itu. Di tayangan videonya kan tidak ada,” ujarnya.

Ia menganggap Jaksa mencoba memutarbalikkan fakta atas perbuatan yang tidak dilakukan kliennya itu. Sikap Jaksa pun dinilai terlalu memaksakan diri agar Jessica mengakui perbuatannya.

“Seakan keterangan kok diputar-putar ya, kalau saya bilang dimanipulasi kan tidak enak. Intinya tidak benarlah keterangan jaksa, termasuk dari saksi,” paparnya.

Wayan Mirna Salihin tewas pada Rabu, 6 Januari 2016, di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta. Korban diduga meregang nyawa akibat minum kopi es vietnam yang dipesan oleh temannya, terdakwa Jessica Kumala Wongso. pik/AR-2. (*)

Berita ini diambil dari: Koran Jakarta.

Gambar foto diambil dari: Tribun Jateng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: