Prof. Berthold Damshäuser dan Sastra Indonesia

Junaidi Khab dan Prof. Berthold Damshäuser

Junaidi Khab dan Prof. Berthold Damshäuser

YOGYAKARTA – Hari ini, tepatnya sore hari setelah asar, sekitar pukul setengah empat aku menghadiri sebuah acara diskusi atau berbincang ringan dengan seorang lelaki berkebangsaan Jerman. Di saat aku tiba di salah satu rumah – tempat diskusi itu – aku bersalaman satu per satu kepada orang-orang yang hadir. Kecuali seorang perempuan yang berjilbab, aku tidak bersalaman, hanya sungkem sebagai tanpa menghormatinya. Orang pertama yang kusalamani, itu yang kuyakini lelaki Eropa. Itu dia, Prof. Berthold Damshäuser – yang akrab dipanggil Mr. Trum, Om Trum panggilku.

Pada mulanya, aku ingin bersalaman dengan mencium tangannya. Tapi kuurungkan niat itu. Dorongan itu untuk menunjukkan agar Trum juga tahu bahwa di Indonesia, khususnya di daerah-daerah anak yang lebih muda ketika bersalaman ada kebiasaan mencium tangan orang yang lebih dewasa atau tua. Setelah satu per satu peserta yang hadir kusalamani, aku duduk dengan khidmat.

Di tengah obrolan masih hangat membicarakan tentang aliran Islam radikal yang – katanya seakan merasa paling benar sendiri. Khususnya, di Indonesia sebaga bangsa dengan mayoritas umat Islam, gerakan orang-orang radikal memanfaatkan Islam sebagai kendaraan politiknya. Pembicaraan sedikit banyak mengulas kehadiaran Wahabi, HTI, Syia’ah, dan aliran-aliran Islam radikal lainnya mulai di negara Asia seperti Indonesia, Eropa di Jerman, dan di Timur Tengah. Bukan hanya itu, NU dan Islam moderat pun menjadi topik hangat pada saat itu. Hingga aku menanyakan tentang keislaman Pak Soeharto. Aku menanyakan hal ini, karena Mas Joni – yang kuyakini itu Mas Joni – menceritakan tentang sosok Mr. Trum bahwa dia pernah menjadi jubir-penerjemah bahasa Jerman Pak Soeharto.

Satu kunci yang kuperoleh dari perbincangan bersama Mr. Trum yaitu tentang kekuatan aliran Islam radikal. Mereka menggunakan strategi pendanaan dalam berbagai hal. Sebut saja aliran X, jika mengikuti aliran X ini, kucuran dana cukup begitu deras untuk menggerakkan masyarakat agar mendukung misi yang dibawanya. Serta beberapa aliran Islam radikal lainnya. Tak berselang lama, seorang peserta diskusi ringan langsung menarik pembicaraan tentang Islam dan aliran Islam radikal ke ruang topik pokok diskusi sore itu, yaitu tentang perkembangan sastra di Indonesia.

Mr. Trum pun memulai pembicaraan seputara dirinya hingga masuk ke dunia sastra. Di Jerman, dia tertarik kepada dunia sastra karena di sana dia diberi didikan yang baik oleh orangtuanya. Dia sering membaca buku, buku-buku pilihan, katanya dengan penegasan yang cukup kuat. Bahkan, dia tidak hanya berkutat dengan dunia buku, tapi dunia musik pun ia gemari. Dia tidak bercerita tentang penyebab kehadirannya ke Indonesia – aku lupa, apa aku yang tidak mendengar penjelasannya – entahlah.

Tapi, yang jelas, Mr. Trum itu tertarik pada dunia sastra – sastra Jerman dan Sastra Indonesia. Namun, dia lebih tertarik dengan sastra Indonesia. Terlebih saat datang ke Jawa dengan kehidupan yang menurutnya sangat menarik. Hingga dia menjadi jurus bicara-penerjmah bahasa Jerman Pak Soeharto. Ada banyak hal dibicarakan oleh Mr. Trum yang tak segalanya mampu kuingat dengan rinci. Tapi, sebagian banyak yang kupahamai dan kuingat dengan baik. Khususnya terkait dengan beberapa pertanyaan yang kulontarkan terkait kesusasteraan, baik di Jerman dan Indonesia. Sungguh menarik jawaban yang diberikan oleh Mr. Trum.

Dalam persoalan Islam radikal, aku mengajukan dua pertanyaan. Pertama, pertanyaan tentang keislaman Pak Soeharto karena dia cukup dekat begitu lama sebagai penerjemah bahasa Jerman-Indonesia atau sebaliknya untuk Pak Soeharto. Sebelum bertanya, aku memberikan beberapa pengantar tentang sosok Pak Soeharto yang abangan dalam beragama Islam dan oportunis dalam persoalan politik. Dengan pernyataan yang kusampaikan, Mr. Trum banyak menyetujui – membenarkan – apa yang kusampaikan tentang sosok Pak Soeharto. Kedua, pertanyaanku tentang karakter Wahabi dan Syiah. Wahabi mengenakan busana hitam, entah Syiah versi pengetahuan Mr. Trum. Tapi, seperti yang kuketahui, Syiah juga mengenakan busana serba hitam.

Dalam persoalan kesusasteraan, aku mengajukan dua pertanyaan pokok kepada Mr. Trum. Pertama, aku menanyakan relevansi atau perbedaan antara sastrawan Jerman dan Indonesia atau sebut saja gaya hidupnya. Sebelumnya, aku mengawali dengan pertanyaan bahwa seperti kita ketahui sastrawan Indonesia memiliki gaya atau karakter awut-awutan, tidak karuan, rambut panjang, kumal, dan gambaran fisik kumuh. Nah, yang kutanyakan kepada Mr. Trum, bagaimana dengan sastrawan di Jerman?

Mr. Trum mulai menjawab dengan ringan dan santai. Beberapa penjelasan yang kutangkap, penampilan sastrawan di sana (Jerman) sebenarnya beragam. Ada yang tampak seperti borjusi, juga tidak jauh seperti yang sastrawan yang ada di Indonesia. Namun, lumrahnya mereka berpenampilan borjuis. Dia juga menyebutkan bahwa rambut panjang – seperti di Indonesia – identik dengan seorang sastrawan atau dengan berbagai atribut lainnya yang tujuannya kata Trum agar nyentrik – menarik perhatian orang lain. Eh, aku malah berpikir bahwa sastrawan Indonesia itu Ba-per. Aku ingin tertawa dan meminta maaf pada Selendang Sulaiman. Saat bicara tentang sastrawan dengan atribut atau gaya tertentu dikatakan sebagai bentuk untuk menarik perhatian publik oleh Mr. Trum, Selendang Sulaiman itulah teman seniorku yang selalu mengenakan selendang. Dia penyair – penyuka puisi.

Setelah itu, mengalir beberapa pertanyaan lain dengan obrolan yang lebih jauh tentang dunia kesusasteraan Jerman-Indonesia. Entah, aku tak begitu banyak merespons dengan baik setelah jawaban atas pertanyaan yang kuajukan menemukan kata kuncinya. Tapi, aku tetap mendengarkan. Aku tak mau melewatkan kesempatan berbagi pengetahuan – ini bukan berbagai, tapi menimba pengetahuan dari orang Jerman.

Kedua, setelah perbicangan panjang aku menemukan pertanyaan baru. Aku berniat untuk menanyakan suatu hal tentang puisi antara di Jerman dan Indonesia. Dalam pertanyaan itu, aku mengaitkan pengetahuan tentang konsep membuat puisi atau sajak yang sebagaimana lumrahnya kuketahui – bebas – dengan konsep yang diajarkan oleh dosen Poetry-ku saat masih duduk di bangku kuliah jurusan Sastra Inggris fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabya. Dosenku itu, Kate Ellizabeth Burril dari California, Amerika Serikat.

Seperti yang diajarkan oleh Miss Kate tentang cara membuat puisi, yaitu boleh bersajak a-b, a-b, atau a-a, b-b, dan seterusnya dengan mengikuti kaedah yang berlaku, seperti setelah ‘titik’ haru huruf kapital dan setelah ‘koma’ huruf kecil. Kecuali nama-nama tertentu yang harus menggunakan huruf kapital. Aku pun menerapkan yang diajarkan oleh Miss Kate. Aku membuat puisi dengan metode tersebut. Bahkan, Kate menambahkan agar menggunakan tanda ‘koma’ dan ‘titik’ di akhir kalimatnya.

Misalkan:

Ke Jakarta naik kereta api,

saat pulang naik pesawat terbang.

Kalau pemerintah hanya pandai bicara berapi-api,

tapi kenyataannya seperti hutan yang gersang. (Ini hanya contoh).

Setelah pelajaran dari Kate itu kuperoleh dan kupahami, aku pun membuat beberapa baris puisi-pantun dengan mengikuti intrulsi dari Miss Kate. Lalu, hasil karyaku itu kuposting di media sosial, facebook. Kemudian, karyaku itu dikomentari oleh seorang teman senior. Katanya, titik dan komanya tidak perlu diikutkan dalam puisi. Aku pun memberikan komentar-penjelasan bahwa itu seperti yang diajarkan oleh dosen puisiku di jurusan Sastra Inggris dari California, Kate Ellizabeth Burril. Dia pun tidak berkomentar lagi. Entahlah. Aku tidak paham alasan dia tidak berkomentar lagi. Tapi, dalam pikiranku bertanya-tanya, katanya puisi itu karya prosa yang sifatnya bebas dan tidak mengikat. Entahlah.

Kemudian, Mr. Trum memberikan sebuah komentar bahwa puisi itu termasuk prosa. Benar. Puisi itu karangn bebas. Mau ikut aliran yang mana saja boleh. Tapi, ada sebuah pernyataan dari Mr. Trum bahwa puisi dan sajak ada perbedaan. Yang aku tangkap dari pernyataan tersebut, puisi karangan bebas. Sementara sajak merupakan karangan yang masih berlaku aturan seperti halnya pantun. Kalau boleh aku katakan, pantun termasuk puisi sajak. Tapi, lebih tepatnya sajak karena dalam pantun ada rima a-b a-b, a-a b-b, dan seterusnya.

Lebih jauh lagi, Mr. Trum menyebutkan bahwa menerjemah pantun itu tidak mudah dari makna aslinya. Jawaban demikian sebelum Mr. Trum menjawab, dalam pikiranku sudah muncul. Memang benar, kata-kata yang berirama itu harus menyesuaikan dengan makna aslinya. Sementara, jika suatau pantun diterjemah ke bahasa lain tidak akan menemukan rima yang tentunya akan sama dengan makna yang juga tidak sama. Begitu, kesulitan menerjmah sajak-pantun seperti yang kuingat dari paparan Mr. Trum berkebangsaan Jerman.

Acara diskusi dan share belum usai, hingga isyak. Sementara itu, aku harus pulang. Ya, aku harus pulang duluan dengan anggota diskusi yang ada di sana. Aku pun bersalaman satu per satu dan yang terakhir kusalamani adalah Mr. Trum. Kuciaum tangannya karena dia lebih tua. Eh, di antara peserta diksui ada yang tertawa melihat aku mencium tangan Mr. Trum. “Biasa, bagian budaya orang Indonesia,” kataku santai dan menoleh kepada peserta yang sedikit tertawa saat aku mencium tangan Mr. Trum.

Yogyakarta, 2-3 Oktober 2016

Baca juga: Bermasa Prof. Berthold Damshäuser di UAD Yogyakarta

One Response to Prof. Berthold Damshäuser dan Sastra Indonesia

  1. Pingback: Bermasa Prof. Berthold Damshäuser di UAD Yogyakarta | junaidikhab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: