Mereka Adalah Teman-Temanku

Junaidi Khab

Junaidi Khab

SURABAYA – Waktu aku kuliah, temanku semakin bertambah dan namanya pun macam-macam, alias beragam. Di sini, aku ingin mengingat dan terus mengenang kebersamaan dengan mereka. Aku akan menuliskan tentang mereka tanpa melihat data di catatan buku. Catatan ini akan kutulis sesuai ingatan dalam pikiranku sejauh mana aku mampu mengenang dan mengingat teman-temanku semasa duduk di bangku kuliah dulu, dari tahun 2010 hingga tahun sekitar 2014/2015. Satu per satu akan kutulis dengan baik, sebisaku saja. Aku berharap, catatanku ini bisa menjadikan diriku lebih menyayangi teman-teman dan orang-orang yang pernah kukenal. Berikut nama-nama teman sekelasku ketika masa-masa kuliah di jurusan Sastra Inggris fakultas Adab Institut Agama Islam Negeri (IAIN) hingga menjadi fakultas Adab dan Humaniora Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Ampel Surabaya.

Abdul Wahid (Wahid)

Abdul Wahid (Wahid)

Abdul Wahid – Seorang mantan anak jalanan semasa SMA/ sederajat. Biasa dipanggil “Wahid” atau “Hid”. Dia sempat patah hati dengan seorang gadis karena gadis yang dicintainya meninggal dunia. Dia menurutku sedikit memiliki keangkuhan, tapi suka bergaul denganku juga teman-teman yang lainnya. Dia berasal dari kabupaten Lumajang. Orangnya kadang suka berpenampilan anak punk, tapi aku tetap suka berteman dengannya. Dia bisa berbahasa Madura, meski demikian aku tetap menggunakan bahasa Indonesia ketika bertutur sapa atau saat ngobrol bersama. Pada waktu kuliah, aku pernah sekelompok membuat tugas makalah dengannya. Aku diajak ke kontrakannya, di sana aku bertemu dengan sepupunya (Qusaeri/ jika tidak salah). Ternyata juga bisa bahasa Madura, tapi aku tak bisa menggunakan bahasa Madura padanya meski aku tahu mereka bisa. Dia menikah dengan Fatimatus Sakdiyah, lupa kapan tanggalnya, karena aku tidak hadir. Maaf ya kawan atas ketidakhadiranku.

Ach. Fehrry Z. (Feri)

Ach. Fehrry Z. (Feri)

Ach. Fehrry Z. – Seorang penyuka game, hingga dia pernah berbisnis game online dengan pendapatan yang lumayan untuk mengisi kantong. Dia juga penyuka musik. Awal mula, aku mengira namanya itu kekeliruan yang sempurna oleh administrasi sekolahnya. Mungkin mau ditulis “Ach. Fery Z”, lalu kerena kekeliruan sistem, jadi salah penulisannya. Begitu pikirku waktu baru tahu tentang namanya yang menurutku cukup aneh dalam pikiran. Dia biasa dipanggil “Feri” atau “Fer” oleh teman-teman. Orangnya menurutku pendiam, tapi jika dengan teman yang seide dan seirama dia akrab. Dia berasal dari Sidoarjo Jawa Timur. Dia orangnya baik meski kadang aku di-bully dengan candaan yang menurutku biasa saja, tapi bikin aku kurang enak sebenarnya.

Aminatuz Zahroh (Ami)

Aminatuz Zahroh (Ami)

Aminatuz Zahroh – Seorang perempuan pendiam dan cuek di kelas. Aku kadang berusaha akrab dengannya. Tapi kerena cuek, kadang usaha keakrabanku percuma saja. Untuk perkenalan, aku biasanya bertanya tentang asalnya, juga pengalamannya. Baru dia mau cerita dan sedikit tidak cuek. Sebenarnya bukan hanya padanya aku bertanya tentang asal, tapi kepada teman-temanku yang lain. Karena sebelumnya aku tidak kenal teman-temanku sama sekali. Sedikit pun. Perempuan ini biasa dipanggil “Ami” atau “Mi” oleh teman-teman. Aku juga ikut-ikutan memanggil demikian. Dia perempuan asal Nganjuk, masih lingkup Jawa Timur meski sudah sedikit mendekati Jawa Tengah. Jauh sebenarnya ke Jawa Tengah. Kadang aku mem-bully nya denan kata-kata yang sedikit mendekati kata jorok Suroboyoan, karena dia berasal dari Nganjuk, jadi kadang aku sedikit memelesetkan kata terakhirnya. Tidak usah diucapkan, karena itu kurang baik katanya. Maafkan aku ya, Mi.

Choirun Nisa (Nisa)

Choirun Nisa (Nisa)

Choirun Nisa – Seorang perempuan yang pertama kulihat, juga tampak cuek. Dia bagiku awal-awal kuliah, pendiam dan tak mau bicara. Aku pun tak berani walau hanya bertutur sapa. Namun, ketika tahu dari teman-teman, ternyata dia juga periang cuma mungkin ragu seperti yang kurasakan pada teman-teman yang lain waktu pertama kuliah. Perempuan ini biasa dipanggil dengan sebutan “Nisa” atau “Pink” karena menyukai warna merah muda. Hingga di FB-nya pun nama akunnya diberi nama “Pinky”. Sebagaimana kuingat, dia berasal dari Surabaya dan punya keluarga di Pamekasan Madura, katanya begitu. Aku awal mula jarang bertutur sapa, mungkin sejak semester enam atau tujuh aku sudah sedikit mulai akrab dengannya.

Dian Riesti Ningrum (Risti)

Dian Riesti Ningrum (Risti)

Dian Riesti Ningrum – Perempuan yang cukup aktif dan cerdik di dalam kelas. Hingga jika aku melihat namanya atau bertemu dengannya, aku jadi teringat dengan pak Dzoul Milal. Mengapa? Karena beliau pernah menyebut nama “Dian Riesti Ningrum” di dalam kelas intensif bahasa Inggris. Yang menarik bagiku, ada kata “Ningrum” di bagian akhir namanya. Dia biasa dipanggil “Risti” atau “Res”, keren menurutku seperti nama-nama tokoh di sinetron yang pernah kutonton di televisi. Orangnya tampak periang, selama aku bertemu dengannya, dia sepertinya tidak pernah lupa dengan senyumnya. Pasti senyum, jarang sekali dia menampakkan raut wajah marah atau sewot. Dia selalu semangat. Tapi aku sempat jengkel dengannya. Ini gara-gara (entah tidak ditulis atau apalah) saat membeli buku bahasa Indonesia karya pak Warsiman, dosen bahasa Indonesia seharga Rp. 43.000’- yang bersifat wajib karena buku itu materi pokok dari pak Warsiman. Padahal aku sudah membayar dengan terpaksa, karena memang sering mepet uang di Surabaya. Karena aku sudah membayar, jadi aku tidak merespons. Aku masih ingat, waktu itu aku bayar (beli) dengan terpaksa. Lalu pikirku begini, uang yang sudah kubayarkan itu harus kembali. Aku pun membaca buku itu hingga paham, lalu diulas dan dikirim ke Jawa Pos. Alhamdulillah, dimuat. Kembalilah uang yang kubayarkan untuk buku itu, tapi (katanya) belum terbayar. Aku minta maaf ya Ris. Seingatku, aku sudah membayar uang buku itu. Kembali lagi pada pembicaraan awal, perempuan ini berasal dari Sidoarjo Jawa Timur.

Didin Fitria Andhira (Didin)

Didin Fitria Andhira (Didin)

Didin Andhira Fitria – Perempuan cerewet yang tidak ada putusnya ketika berbicara. Dia selalu riang dan bahagia saat berkumpul. Tapi dia tidak begitu akrab denganku. Mungkin karena memiliki dunia yang berbeda. Entahlah. Tapi dia baik dan suka bercerita jika kutanya tentang dirinya, utamanya tentang asalnya. Dia biasa dipanggil dengan sebutan “Didin”. Ya, itu saja. Dia pernah bilang ingin ke Madura, dia sempat bilang akan  mengajakku jika akan ke Madura lagi. Tapi katanya mau minta ijin dulu (rembuk) dengan keluarganya. Setelah itu aku tidak tahu lagi, dia ke Madura atau tidak. Menurut pandanganku, dia selalu ceria meski kadang-kadang di balik keceriaannya ada duka yang disimpan. Mungkin hanya pandanganku yang melihat dari raut wajahnya saja. Dia awal mula kukenal akrab dengan Hasti Edi Sudrajad, teman sekelas juga. Perempuan ini juga berasala dari Sidoarjo Jawa Timur.

Eva Sulistyawati (Eva)

Eva Sulistyawati (Eva)

Eva Sulistyawati – Tentang perempuan yang satu ini aku tidak banyak kenal. Aku tidak banyak ngobrol dengannya. Sesekali kadang hanya bertutur sapa, atau sekadar bertanya tentang apa saja yang menurutku bisa mengakrabkan dengan dirinya. Setahuku dia tidak banyak bicara, tapi juga punya teman akrab untuk ngobrol. Kadang aku juga bergabung dengannya juga teman-teman yang lainnya. Hingga kadang aku digojlokin seperti perempuan saja. Hal itu terjadi karena secara umum aku berteman dengan teman perempuan sekelasku daripada yang cowok. Karena hobiku dengan mereka tidak sama. Teman cowok rata-rata suka main game, PS (playstation). Aku tidak banyak tahu selain aku memang tidak suka. Jadinya aku berteman dengan teman cewek saja sambil duduk-duduk. Kembali lagi, perempuan ini akrab dipanggil “Eva” oleh teman-teman. Aku juga memanggil Eva. Dia berasal dari Surabaya, seingatku.

Faridatul Mashumah (Mama)

Faridatul Mashumah (Mama)

Faridatul Ma’shumah – Temanku yang satu ini kata teman-temanku memang manis dan cantik. Dia pernah menjadi juara kedua festival Miss Kartini di Fakultas Adab UIN Sunan Ampel Surabaya. Keren menurutku, dan tebakan teman-teman yang menyatakan dia cantik dan manis tidak bisa diragukan. Tapi, sebagian teman-teman ada yang bilang pesek. Tapi dia tidak pernah menunjukkan kekesalan atau kemarahan ketika dibilang seperti itu. Aku perhatikan kadang pas kumpul-kumpul. Iya, benar apa kata teman. Tapi aku tak berani bilang seperti yang dikatakan oleh teman-teman. Ya, dia tetap Miss Kartini Adab UIN Sunan Ampel Surabaya. Teman perempuanku yang satu ini biasa dipanggil “Ida” atau “Mama”. Awalnya aku memanggil Ida, tapi kelamaan aku suka menyebut namanya yang kedua “Mama”. Dia berasal Lamongan.

Fatimatus Sakdiyah (Diyah)

Fatimatus Sakdiyah (Diyah)

Fatimatus Sakdiyah – Perempuan awalnya bukan teman kelas tetapku. Tapi pada akhirnya dia menjadi bagian dari teman kelasku sejak menjalin hubungan hidup dengan teman kelasku, Abdul Wahid – Si Wahid. Aku tidak banyak tahu tentang dia. Tapi aku kadang bercanda dengannya. Kalau aku bertemu dia, aku jadi teringat dengan lagu (entah siapa pengarangnya) yang berlirik begini “Dia, dia, dia…” Mungkin Afgan. Aku kurang paham. Setiap aku bertemu dengannya pasti melagukan lirik itu, meski hanya tiga kata itu. Aku tidak hafal lirik lagu itu, Cuma sebagian saja. Perempuan ini biasa disapa dengan panggilan “Diyah”. Dia berasal dari Sidoarjo. Aduh, sebagian besar teman-temanku banyak yang dari Sidorjo. Tapi tidak masalah bagiku. Aku senang kenal dengan dia dan teman-temanku yang lain. Aku banyak mendapat pengalaman dari mereka meski secara tidak langsung.

Febriyanti Liyan Andriani (Dhene)

Febriyanti Liyan Andriani (Dhene)

Febriyanti Liyan Andriani – Temanku yang ini, dulu aku hampir tidak bisa membedakan dengan salah satu teman yang lainnya. Dalam pandanganku, temanku yang ini ada yang mirip. Sehingga aku kadang tidak langsung menyapanya. Jika tidak salah, dulu menurutku dia itu mirip dengan Ria anak Pasuruan (yang akan diceritakan nanti tentangnya). Ini aneh, aku melihat ada kesamaan di antara mereka. Entahlah. Tapi kata teman-teman yang lain, dia tidak mirip. Sekian lama aku sering berjumpa dengan dia, akhirnya aku bisa membedakan dengan jelas. Teman perempuanku yang satu ini biasa disapa dengan sebutan “Dini”. Awal perkenalan juga seperti itu dia bilang. Aku heran, kok (mungkin) tradisi di rumahnya hampir mirip dengan di rumahku? Nama panggilannya jauh dari nama aslinya. Di rumahku kan kadang seperti itu. Nama “Marzuqi” dipanggil “Ocet”. Jauh kan dari nama panggilan aslinya? Heran, tapi itu kenyataannya hingga aku sering berbagi cerita atau sekadar ngobrol biasa dengan Dini. Dia juga dibilang pesek, meski aku tidak ikut-ikutan bilang seperti itu. Tapi secara otomatis di sini aku juga bilang seperti itu. Aku sempat melihatnya kesal karena di-bully oleh temanku juga. Aku diam saja, tapi dia setelah itu tetap tegar lagi meski kadang di-bully. Orang ini suka senyum sambil ketawa (biasanya cekikikan) dengan penuh bahagia sambil menutup mulutnya kadang. Ingatanku masih lekat saat dia ketawa penuh kebahagiaan. Dia berasal dari kabupaten Gresik.

Fiki Mahmudiyah (Fiki)

Fiki Mahmudiyah (Fiki)

Fiki Mahmudiyah – Teman perempuanku yang satu ini penyuka bisnis. Hidupnya seperti ugal-ugalan, yang penting dia happy dan bisnis tetap berjalan lancar. Aku cuma kadang berbicara dengannya saat bertemu. Tapi tidak begitu lama jika berbincang-bincang denganku. Jika dilihat dari hidupnya dalam pandanganku, dia benar-benar serba sibuk dengan usahanya. Aku sempat kagum dengan semangatnya dalam berbisnis. Entah benar atau tidak dia berbisnis, dalam pikiranku seperti itu. Hingga ada lama di internet yang menjajakan bahan trading-nya, berkaitan dengan fashion-fashion gitu yang dipasarkan. Teman perempuanku yang satu ini biasa dipanggil “Fiki” atau “Mimi” atau kadang “Vici” sebagaimana nama akun FB-nya. Tapi aku memanggilnya dengan sebutan yang pertama “Fiki”. Kadang namanya dipelesetkan oleh teman-teman. “Fikih Mahmudiyah” menjadi “Fikih Muhammadiyah”, jadi bahan ketawaan, tapi tidak begitu miris gojlokannya karena dia kadang cuek. Dia berasal dari Sidoarjo sebagaimana teman-teman kebanyakan di jurusanku, Sastra Inggris.

Hanifah (Hanifah)

Hanifah (Hanifah)

Hanifah – Temanku yang satu ini dalam pandanganku selalu menyendiri dan tidak banyak berbicara. Alias sangat pendiam sekali. Aku lupa kapan berkenalan dengannya. Secuek apa pun teman kelasku, aku berusaha akrab dengan mereka, entah mereka mau akrab denganku atau tidak, terserah mereka. Cuma aku punya komitmen untuk membangun keakraban dengan teman-temanku, kapan pun itu dan di mana pun itu. Semakin banyak teman, aku semakin senang. Tapi aku jarang berbicara dengannya karena dia kadang juga jarang buka mulut untuk sekadar berbicara. Jadi, aku tidak berani jika selalu membuka percakapan dengannya. Aku sedikit buka mulut dengannya, alias ngobrol sedikit-sedikit ketika sudah pertengahan kuliah mendekati masa akhir kuliah. Teman perempuan ini menurutku cukup unik, dia berasal dari Lamongan.

Hanni Sarah Rachmadia (Hani)

Hanni Sarah Rachmadia (Hani)

Hanni Sarah Rachmadia – Ini adalah seorang perempuan yang kukenal di kampus juga waktu kuliah di semester satu. Waktu itu, kalau dia ditanya-tanya pasti semangat untuk menjawabnya, sampek kadang-kadang seperti tersengal-sengal untuk bercerita banyak hal. Tapi aku aku banyak yang lupa hal-hal yang diceritakan olehnya. Tapi dia orangnya suka bercerita jika kutanya. Tapi kadang dia juga suka duduk termenung setelah bercerita, mungkin capek atau bagaimana. Namun, yang jelas orangnya sangat bersemangat ketika kumpul bersama. Orang tidak begitu cuek-cuek, cuek memang aku pernah melihatnya. Tapi tidak begitu lama dia bisa akrab dengan yang lainnya. Katanya dulu sebelum kenal dekat denganku dia takut karena aku ini yang super cuek katanya. Tapi setelah dia tahu tentang seperti apa diriku, dia akrab juga denganku. Pengakuan ini banyak kudapat dari teman-teman kampus. Aku memang cuek katanya. Aku cuek bukan berarti tidak suka pada teman-teman, tapi kadang mereka menggunakan bahasa yang kurang kupahami. Perempuan ini biasa dipanggil dengan sebutan “Hani” oleh teman-teman. Dia berasal dari Sidoarjo jika tidak salah. Tapi aku yakin benar apa adanya, yang kuingat begitu.

Hasti Edi Sudrajat (Hasan)

Hasti Edi Sudrajat (Hasan)

Hasti Edi Sudrajat – Wah, teman yang satu ini menurutku sangat baik. Dia pendiam, tapi selalu ikut serta dengan teman-teman yang lain. Termasuk ketika kuajak jalan, baik itu ke SAC (Self Acces Centre) atau ke tempat lainnya. Orangnya cool, keren abis… Kadang dia begitu santai langsung nyelutuk dengan candaan yang bikin senang aku dan teman-teman yang lainnya. Dia selalu dijuluki sebagai jomblowerrr. Memang jomblo sepertinya dan berteman sesama jomblonya. Orangnya suka menghisap cerutu khas Eropa, eits khas Indonesia kalau tidak salah produk Kediri. Langkah kakinya cukup pelan, orang enggheh saja jika diajak bicara, tapi mantap dengan pendiriannya, tetap keren. Di kelas dia dipanggil dengan sebuta “Hasan” oleh teman-teman. Jauh sekali dari nama aslinya. Ketika kusebut kata “Hasan” dalam catatan mini ini, aku jadi teringat Didin Fitria Andhira, karena yang pertama kali kudengar memanggil nama “Hasan” cukup yang jelas, ya dia. Jadinya aku juga ikut memanggil “Hasan” atau “San”. Dia pernah bercerita padaku kalau soal memikir, dia lambat, tapi skripsi lebih dulu cepat selesai dan lulus dibanding denganku. Dia asli Solo Jawa Tengah, cuma tinggal di Karangpilang Surabaya. Katanya beberapa waktu yang lalu saat bincang-bincang denganku. Begitu mungkin yang kuingat, meski sebenarnya masih banyak yang perlu kuceritakan. Satu hal yang kukagumi, dia saat ini – saat catatan ini dibuat, 30 September 2016 – berstatus wartawan Jawa Pos. Keren. Dia di kelas tampak biasa-biasa, tapi bisa lolos seleksi menjadi wartawan sekelas Jawa Pos.

Isni Al Rofi’ (Isni)

Isni Al Rofi’ (Isni)

Isni Al Rofi’ – Temanku yang satu ini orangnya tampak begitu halus gerakannya, santai. Secara sederhana, dia selalu ceria, tapi ketika aku bertanya tentang keceriaan yang kuduga sebelumnya, ternyata dia juga galau. Eh, ternyata aku sedikit keliru tentang mempersepsikan dirinya. Tapi dia kelihat selalu ceria, ibarat selalu menggunakan sabun pencuci wajah, selalu ceria pokoknya. Seingatku, dia jarang marah, aku tidak melihatnya. Mungkin demikian dengan teman-teman yang lainnya. Suaranya halus, andaikan dia marah, maka tidak akan tampak marah, kecuali disertai dengan bola matanya sedikit dilengserkan, mungkin bisa menampakkan marahnya. Tapi mayoritas, teman perempuanku jarang marah, meskipun marah tidak lama, setelah itu sembuh kembali. Senang deh punya teman sepertinya dan juga teman-teman yang lain. Teman perampuanku yang satu ini biasa dipanggil dengan sebuta “Isni” tidak ada lagi seingatku untuk nama panggilannya. Dia memiliki lesung pipi yang tidak begitu dalam, tapi cukup untuk membahagiakan orang yang bertemu dengannya. Dia berasal dari Sidoarjo Jawa Timur.

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Junaidi Khab – Ini aku sendiri, asli dusun Kalangka (Tembing/KTP), desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, dan kabupaten Sumenep, Madura. Pertama kali teman yang memberikan komentar saat aku meminta melalui akun FB adalah Farida Ma’shumah. Ini komentar (catatan) mininya tentang aku (sedikit kuedit EYD-nya): “Jun… Begitulah aku memanggilnya. Sekilas melihat seorang Junaidi, dia orangnya agak cuek sih, jarang ngumpul sama classmate. Tapi dia baik dan asik juga diajak ngobrol, hahah. Mungkin dia punya kesibukan di luar kampus, maklum dia sibuk nulis di media sosial koran dll. Dia, orangnya aktif kalau di kelas, pandai ber-retorika, tapi yang buat aku gak percaya, kok sampai sekarang skripsinya gak kelar-kelar yaaa? Apa mungkin disengaja atau saking sibuknya dengan status aktivisnya. Hmmm deremma cong! That is enough about Jun. Hahaha.” Bagiku catatan tersebut menarik, unik, dan lucu. Apalagi di bagian akhir kalimatnya, Mama menggunakan bahasa Madura, lalu Inggris. Asekkk…! Terimakasih Ma, telah memberikan catatan yang pertama meski sedikit, tapi cukup berharga.

Khafidhotul Khasanah (Fido)

Khafidhotul Khasanah (Fido)

Khafidhotul Khasana – Temanku yang satu ini terasa tampak selalu sedih. Memang dari sono-nya. Entahlah, tapi tidak mungkin dia selamanya sedih (galau) meski raut wajahnya menampakkan kesedihan. Aku pikir hanya raut wajahnya saja yang tampak sedih, meski tidak menyangkal juga mengalami sedih. Aku juga selalu mengalami sedih. Tapi, jika diajak ngobrol ya biasa saja, santai dan enak. Sama seperti teman-teman yang lainnya. Mungkin hanya persepsiku yang kurang baik ketika melihat raut wajahnya. Teman perempuanku ini teman-teman biasa memanggilnya dengan sebuta “Fido”, aku juga memanggilnya demikian. Ada hal yang unik dalam ingatanku. Yaitu ketika materi pelajaran Poetry oleh bunda Kate Burril Ellizabeth dari California – United State. Bunda Kate memanggil dengan nama panggilan yang sama, tapi logatnya yang berbeda (khas English), unik dan menarik. Aku suka menirunya ketika memangil “Fido” sebagaimana logat bunda Kate. Fido, berasal dari kabupaten Lamongan Jawa Timur. Ini seingatku, yang paling kuingat tentang Fido, teman perempuanku di jurusan Sasatra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya.

Khairun Nisa’ (Anis)

Khairun Nisa’ (Anis)

Khairun Nisa’ – Perempuan ini temanku yang pada awalnya cuek-cuek, bisa dikata cuek bebek juga bisa cuek singa. Tapi orangnya suka berteman denganku, mungkin karena berasal dari daerah yang sama denganku, Sumenep-Madura tapi beda kecamatan. Entah kalau tidak berasal dari daerah yang sama. Ada yang memesona dalam pandanganku ketika awal-awal kuliah, gayanya yang elegan. Ditambah bibirnya yang kadang entah bagaimana cara melukiskannya. Hingga, ada seorang dosen (bukan pengajar di mata kuliah jurusanku) yang membicarakan dirinya, perihal keeleganannya. Sebagaimana berita yang kudapat, dosen itu tergila-gila dengan style bibirnya. Takutnya… Tapi jangan khawatir, dosen itu hanya sekadar kagum dan suka saja. Temanku yang satu ini biasa dipanggil dengan sebutan “Anis” atau “Nis” olehku dan teman-teman yang lainnya. Namanya hampir mirip dengan temanku yang lain, sudah diceritakan di atas – Choirun Nisa. Kadang dia merapat denganku hanya sekadar berbagi cerita, di kelasku pada waktu itu hanya ada beberapa orang Madura, salah satunya ya Anis. Juga ada dua, tapi beda kebupaten, dari Sampang. Orang-orang Madura ini yang sedikit lebih akrab denganku pada awal mula kuliah. Lalu, perlahan aku dikenal oleh Anis kepada teman-teman perempuan yang telah dikenalnya.

M Cahyadi Permana (Cece, Cah, Yadi)

M Cahyadi Permana (Cece, Cah, Yadi)

M Cahyadi Permana – Teman laki-laki yang sangat melekat dalam ingatanku. Dia memakai kacamata. Pertama kali aku masuk kelas, yang kulihat secara langsung hanya dia. Mengapa dia? Karena di rumah, aku sangat takut – bukan takut, tapi kalah percaya diri – dengan orang yang menggunakan kacamata. Dalam pandanganku, orang yang menggunakan kacamata, dia itu pasti pandai dan tentu rajin baca buku. Itu satu alasan mengapa Cahyadi begitu melekat dalam ingatanku. Benar saja, dia cukup cerdas sebagaimana pandanganku sebelum lebih jauh mengenal dirinya. Orangnya aktif di dalam kelas. Tapi, menurutku dia tidak akrab denganku. Satu yang menjadikan aku tidak akrab dengannya, cara hidupnya tidak sama denganku. Dengan teman-teman yang lain mungkin akrab. Tapi meski tidak akrab denganku, dia tetap temanku yang baik yang selalu berada dalam ingatanku ketika mengingat awal masa kuliah. Aku pernah ingat kata-kata yang juga sangat melekat di ingatanku “Ned, enak jika bareng kamu ke rektorat, kamu orangnya familiar (mudah dalam bergaul dengan orang, enak kalau diajak bicara)”. Begitu katanya, mungkin aku untuk bicara atau diplomasi dengan orang dipandang bisa dan tidak diragukan. Sehingga, dia lebih yakin untuk masuk ke rektorat dengan mengajakku. Entahlah, pandanganku tentang kalimat itu tetap melekat dalam pikiranku. Terimakasih Ce, telah memujiku. Kamu ingat atau tidak, ya bukan urusanku. Tapi aku tetap ingat. Ada hal lain yang kuingat, pada akhir-akhir masa kuliah. Cece ini menunduk menelungkupkan wajahnya ke bangku karena kacamatanya diambil oleh Rendi, teman kelas juga. Ketika kutanya pada teman-teman, dia tidak kuat jika melihat cahaya tanpa bantuan kacamatanya. Dia menelungkup terus hingga kacamatanya dikembalikan oleh teman-teman. M Cahyadi Permana ini biasa dipanggil dengan sebutan “Cece” atau “Cah”. Ada lagi yang bikin teman-teman tertawa, dia dipanggil “Yadi” oleh salah satu dosen. Eh, lucu, ya? Pada waktu itu, Cece tampak sedikit kesel dengan panggilan itu. Tapi dia cuek-cuek saja. Dia berasal dari Gresik Jawa Timur, PP (Pergi-Pulang) katanya dari Gresik ke Surabaya untuk kuliah saat kutanya.

Mochammad Habibi (Habibi)

Mochammad Habibi (Habibi)

Mochammad Habibi – Lelaki yang tampak super sibuk dengan kehidupannya yang menyukai dunia fotografi. Orangnya suka cap-cus ketika ngobrol bersama. Dalam pandanganku, nyambung gak nyambung ketika berbicara. Kadang aku tidak paham dengan yang dibicarakan. Seingatku, dia selalu menggurui ketika ngomong. Ya, aku enggheh saja, karena aku memang tidak tahu atau tidak paham. Sebenarnya, aku tidak banyak catatan tentang dia. Dia biasa dipanggil dengan sebutan “Habibi” atau “Bi” oleh teman-teman. Dia selalu tergesa-gesa ketika masuk ke kelas materi kuliah. Mengapa tergesa-gesa? Karena dia selalu datang terlambat ke kelas. Mungkin juga dia sibuk dengan urusannya, atau karena hal-hal lain yang membuatnya selalu datang terlambat. Sebenarnya, bukan hanya dia yang datang terlambat untuk masuk kelas. Aku pun juga mengalami hal serupa dengan Habibi. Kadang-kadang aku juga terlambat masuk kelas, meski kadang memberanikan diri untuk masuk. Kamu tahu? Kadang setengah jam sejak materi kuliah dimulai, aku baru datang. Begitu juga dengan Habibi. Tapi, dia lebih sering daripada aku. Pernah suatu ketika dia beda kelas dengan aku, dia datang terlambat, dia dengan gopoh-gopoh bertanya padaku. Apakah dosen itu baru masuk atau tidak? Begitu. Biasanya aku jawab, baru saja masuk, agar dia langsung masuk dan mengikuti kuliah. Kadang dikerjain (di-bully) oleh teman-teman, dibilang dosennya barus masuk. Padahal sudah satu jam, tapi dia tetap masuk. Apa yang terjadi? Dia keluar kembali, pernah cuma hanya digerutu oleh teman-teman yang lain. Pernah juga dia ikut kelas berikutnya agar tidak ketinggalan materi kuliah yang seharusnya diikuti. Dia berasal dari Surabaya, katanya dekat dengan masjid nasional al-Akbar Surabaya.

Muflikhatul Kiptiyah (Tiya)

Muflikhatul Kiptiyah (Tiya)

Muflikhatul Kiptiyah – Seorang teman perempuan yang sangat pendiam. Aku tidak banyak mengingat tentang kenangan pertemanan dengan perempuan yang biasa dipanggil dengan sebutan “Tia” oleh teman-teman. Tapi, jika aku menyebut namanya, sudah tentu raut wajahnya dan postur tubuhnya secara otomatis muncul di ingatanku. Cara berjalannya pun masih membekas dalam otakku. Dia tidak banyak bicara dibanding dengan teman-teman yang lain. Kamu tahu? Aku kurang berani untuk menyapa ketika bertemu, kecuali dia yang lebih dahulu membuka percakapan. Aku pun selal hati-hati dan mawas diri ketika berbicara, khawatir ada kata-kata yang salah alias keliru tanpa kusadari, lalu membuatnya semakin menjadi tidak mau bicara lagi denganku meski hanya sekadar mengobrol. Teman perempuanku ini menurutku selalu dilanda kesedihan yang mendalam. Entah kebenarannya, aku tidak tahu secara pasti. Semoga saja temanku ini tidak membaca catatan kecilku ini. Kamu tahu lagi? Jika baca catatanku ini, berarti doaku tidak terkabul. Oh, menakutkan. Semoga saja dia selalu sehat, hidup bahagia, dan ingat menyapaku kalau bertemu di jalan. Juga teman-teman yang lain juga, jangan lupa kalau bertemau denganku di jalan disapa ya. Mungkin aku tidak melihat kalian, tapi kalian melihatku, disapa dong. Lagi, kemungkinan salah satu di antara kita ada yang pangling, jadi kalai ketemu pokoknya atau setidaknya mengucapkan kata “hai” biar saling mencoba untuk mengingat satu sama lain. Temanku yang ini berasal dari Surabaya, ketika kutanya dia berasal dari Rungkut. Lumayan dekat ke kampus UIN Sunan Ampel Surabaya.

Mukhammad Zainuddin (Udin, Tower)

Mukhammad Zainuddin (Udin, Tower)

Mukhammad Zainuddin – Seorang teman laki-laki yang cukup membuatku kerepotan ketika OSCAAR (Orientasi Cinta Akademik dan Almamater) di kampu waktu batu-baru masuk kuliah. Semacam Ospek itu lah OSCAAR. Aku memiliki tinggi 175 cm, pikirku sudah lumayan tinggi dibanding dengan teman-teman yang lainnya. Lha, pas di kampus aku bertemu dengannya, aku langsung kaget. Karena hanya sekadar untuk melihatny, aku harus mendongakkan kepala. Dia lebih tinggi dariku. Mungkin dia 185 cm. Entah lah, pokoknya sekitar itu tingginya. Aku jadi malu waktu OSCAAR, gara-gara harus menggendongnya, dan waktu kugendong, kamu tahu? Aku tidak bisa sampai mengangkat ke atas, kakinya tetap di bumi. Wah, aku pasrah saja. Waktu itu tubuh masih sedikit kekar, aku pikir masih bisa menggendongny. Tapi, karena tinggi temanku yang over menurutku, apalah daya kekuatanku. Meski aku sudah jongkok melengkung hampir punggung lurus untuk menariknya, kaki temanku ini masih saja tidak bisa terangkat. Dia biasa dipanggil dengan sapaan “Udin” atau “Je” atau “Jay”. Tapi dia juga dipanggil “Tower” karena tubuhnya tinggi sekali – melebihi standart orang Indonesia. Aku ingin tertawa. Ada lagi yang kuingat tentangnya, yaitu ketika bermain bola volli di kampus. Dia tidak usah melompat tinggi untuk memukul bola. Hanya sedikit menjinjit, cetar… Bola sudah meringkuk di bumi. Aku hanya senyum dan geleng-geleng kepala. Andai dia mau melompat dengan umpan yang tepat, bola itu pasti nancap tepat di sisi bawah net. Waktu awal kuliah, dia sangat akrab denganku. Berbagai hal pengalaman kita ceritakan secara bergantian. Rame waktu, ketika aku sudah muncul di depan si Udin. Sedikit banyak dia menguasai bahasa Madura. Aku selalu diminta untuk bicara menggunakan bahasa Madura. Tapi, pada akhir-akhir masa perkuliahan, dia sudah jarang bersamaku. Mungkin kesibukannya bertambah dan urusannya lebih serius. Sehingga, aku tidak punya banyak waktu untuk berkumpul lebih lama dengannya. Tahu rumahnya? Rumahnya dekat dengan Lumpur Lapindo, katanya mau dipindah alias dievakuasi karena bahaya Lumpur. Kasian ya? Tapi, dia tetap penuh semangat saat aku bermain ke rumahnya di Tanggulangin. Saat itu, aku berencana mau shoting untuk tugas materi kuliah. Lupa. Aku dan teman-teman shoting di Lumpur Lapindo. Ada Rendi, Sunarto, Etik, dan lupa lagi, ya Udin sendiri sebagai tuan rumah.

Naely Hidayatie (Nae)

Naely Hidayatie (Nae)

Naely Hidayatie – Dia teman perempuanku di UIN Sunan Ampel Surabaya. Dia mengenakan kacamata minus. Orangnya waktu itu tidak kurus dan tidak gemuk. Tapi, kalau kubandingkan dengan teman-teman yang lain, dia ideal. Di bagian wajahnya ada tahi lalat. Tepatnya di pipi kiri dekat dengan hidungnya. Sebenarnya, aku tidak begitu suka kalau dekat dengan dia. Begini, di bagian dagu kiriku kan juga ada tahi lalat meski kecil. Aku khawatir digodain – digojlok – oleh teman-teman. Jadi, aku kadang sedikit menjauh darinya. Ya, karena tahi lalat itu. Dia suka mengenakan pakaian merah muda. Itu yang kuketahui. Selebihnya, ya kurang tahu. Hal yang masih teringat dalam pikiranku, kalau dia berbicara seperti meliut-liut. Tubuh dan tangannya meliut-liut seperti ular. Itu sering kusaksikan. Anggap saja tontonan gratis. Bahkan, cara bicaranya pun seakan dimodel-model yang membuat telingaku terasa bergoyang-goyang. Ada gaya tersendiri bagi Naely dalam hal berbicara yang membedakan dengan yang lain. Kadang, kalau dia bicara dan aku tidak paham atau tidak menangkap pembicaraannya, dia langsung melanjutkan pembicaraan yang lain. Dia tidak mengulang lagi. Ya, aku pasrah saja dengan gayanya yang demikian. Toh, dia juga temanku yang harus kuterima dengan baik.

Nuna Fatimatu Zahroh (Nuna)

Nuna Fatimatu Zahroh (Nuna)

Nuna Fatimatu Zahroh – Perempuan yang sangat baik padaku. Panggilannya “Nuna”. Tapi, kadang aku memanggil “Nun” atau “Non”. Dia berasal dari Jombang. Kacamat minus selalu menjadi ikon di lekuk wajahnya. Cara bicaranya lembut. Saat aku masih kuliah, aku cukup akrab dengannya. Aku seperti tiga serangkai – Aku, Nuna, dan Khairun Nisa’. Dia sudah punya putra saat catatan ini dibuat – 30 September 2016 – di Yogyakarta. Pada saat acara pernikahannya di Jombang, aku hadir. Aku berangkat boncengan dengan Hasan – Hasti Edi Sudrajat. Dia penyuka tim sepakbola Chelsea. Dia orangnya baik. Di kampus juga ikut organisasi, dan – entahlah aku tidak tahu pastinya –dia juga sering datang ke masjid kampus. Katanya ikut tahfiz al-Quran. Iya, seperti yang dikatakan olehnya saat aku bertanya. Jadi, dia seorang muhaffizah al-Quran, seorang penghafal al-Quran. Aku dulu sempat berpikir, bahwa enak punya teman yang menghafal al-Quran.

Nur Shohifatul Lailiyah (Lieya)

Nur Shohifatul Lailiyah (Lieya)

Nur Shohifatul Lailiyah – Dia merupakan perempuan tangguh tapi terlihat lemah. Mungkin sudah perangainya begitu. Dia biasa dipanggil “Lia”. Dia berasal dari Gresik. Jika logat bahasa Maduraku kentara, maka logat Lia ini juga kentara dalam bahasa Jawa meski menggunakan bahasa Indonesia. Sebenarnya bukan hanya aku dan Lia yang logat terlihat, tapi teman-teman yang lainnya pun terlihat. Karena aku tergolong minoritas sebagai masyarakat Madura dalam satu kelas, maka tak heran jika logat bahasa daerahku ketika berbahasa Indonesia atau Inggris terlihat begitu jelas. Aku suka berteman dengannya. Dia enak diajak bicara dan santai. Bawaannya pasti tak ransel – tas punggung hitam – yang seakan cukup berat. Bajunya biru. Dan kadang, aku hampir menemukan sosok yang hampir menyerupai Lia. Ya, karena bajunya yang serba biru. Mungkin baju favorit. Demikian juga dengan kerudungnya berwarna biru. Tapi, di dalam catatan ini kupasang fotonya yang berbaju warna merah dan kerudung merah muda. Dia sebenarnya punya tahi lalat – seperti halnya Naely – di bagian bawah dagunya, tapi tak begitu tampak. Jadinya, dia bukan ancaman bagiku.

Nuril Trisniawati (Nuril)

Nuril Trisniawati (Nuril)

Nuril Trisniawati – Teman perempuan yang suka ngomel Suroboyoan, bahkan yang misuh-misuh (marah-marah/ caci-maki). Tapi, itu khas Surabaya – lumrah. Logatnya pun tak jauh berbeda dengan caraku berbicara, mungkin. Logat Jawa-Suroboyoan sangat tampak kalau Nuril – panggilan sehari-hari di kelas – berbicara baik menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Seperti yang kubilang tadi, hanya logat bahasa daerahku yang terlihat oleh teman-teman. Ibarat, ikan dalam laut, sementara ada ikan air tawar yang masuk. Sudah barang tentu berbeda, yang dilihat hanya ikan air tawar. Sementara ikan lautnya karena mayoritas tak terasa. Kadang, aku dibilang begitu. Ya, mau apa lagi kalau memang demikian? Aku terima saja meski dalam hati aku mengatakan “logat kalian juga tampak” kalau bicara menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Si Nuril ini biasanya suka gaya-gayaan meski bagiku tak tampak gaya. Mungkin memang sudah begitu orangnya. Suka gaya meski kadang dipaksakan. Kalau aku memang tidak bisa bergaya, biasa, aku kan laki-laki dan dia perempuan. Jangan diambil hati ya dengan komentarku.

Nurul Amali Dienillah (Gondes, Nurul)

Nurul Amali Dienillah (Gondes, Nurul)

Nurul Amali Dienillah – Teman perempuanku yang pada awalnya suka berbisnis kuliner. Aku memanggilnya, “Nurul” atau “Rul”. Dia berasal dari Surabaya, daerah Ngagel. Orangnya, kalau disuruh ngomong gak bisa berhenti. Bukan gak bisa berhenti, tapi terus nyerocos. Postur tubuhnya tidak gemuk, ya tebak sendiri kalau tidak gemuk. Saat catatan ini dibuat, aku ingin melukiskan wajahnya yang mudah kuingat pada masa-masa kuliah. Katanya, dia suka menulis dan ingin mengirimkan tulisan-tulisannya ke media. Selain itu, satu hal yang kukagumi. Dia memiliki semangat enterpreneur. Usahanya kadang dibawa ke dalam kelas. Jajanan. Aku tidak membeli. Maaf, ya Rul. Bukan karena aku pelit. Aku jarang jajan. Tapi, pernah suatu ketika aku dibelikan oleh seorang teman. Bukan dibelikan, tapi dia beli, mungkin karena melihatku yang tidak makan jajan, dia memberikan salah satu jajannya yang dibeli dari Nurul untukku. Andai, aku bisa menerjemahkan isi pikiranku tentang raut wajahmu, mungkin juga kutulis dalam catatan ini. Sebenarnya bisa, tapi aku tak mau digodain sama teman-teman. Ada lagi yang membuatku tetap ingat pada karakter Nurul, yaitu dia memiliki kebiasaan menggerakkan kakinya. Setiap kali duduk denganku, salah satu kakinya pasti digerak-gerakkan. Saat kutanya, gak enak katanya kalau tidak menggerakkan kakinya. Aku pasrah saja. Toh, kadang aku juga melakukan hal yang sama dengan Nurul. Tapi, kelakuan Nurul ini mencolok sekali. Sebenarnya bukan hanya dia jika tidak menggerakkan salah satu kakinya di saat duduk atau berdiam. Teman-teman yang lainnya tentu juga mengalami hal yang tak jauh berbeda. Enak sih. Begitu.

Rendi Sulistiono (Rendi)

Rendi Sulistiono (Rendi)

Rendi Sulistiono – Dia adalah teman laki-laki yang menjadi objek bully teman-temanku. Panggilannya “Rendi”. Tapi, teman-teman memanggilnya “Penceng”, artinya kata teman-teman “Miring” / gila/ gak jelas/ katanya. Aku senarnya tak tega kalau ada teman yang dilecehkan. Pada mulanya, aku memanggilnya dengan sebutan “Rendi”, tapi pada akhirnya aku juga memanggil “Penceng” terbawa oleh teman-teman yang terbiasa memanggilnya dengan kata “Penceng”. Suatu ketika aku menanyakan perihal nama panggilan yang diberikan oleh teman-teman. Dia tampak biasa-biasa saja. Sudah kadung mungkin dipanggil dengan sebutan “Penceng”. Dia satu-satunya teman kelas yang memakai baja gigi – behel – atas dan bawah di gigi bagian depannya. Satu hal yang kadang menggangguku dan aku sempat menanyakannya. Dia sepertinya tidak pernah bersikat gigi. Saat kutanya dengan baik-baik, katanya tidak boleh sikat gigi karena ada behelnya. Itu anjuran. Masak? pikirku. Aku heran saja. Namun, demi menjaga perasaannya aku biasa-biasa saja meski kadang terganggu oleh kerang giginya yang kadang gusinya mengeluarkan darah. Aku pernah menyarankannya seperti yang pernah kulakukan dalam hal meratakan gigi. Aku bercerita kalau gigiku dulu juga tidak rata. Tapi, atas anjuran orangtua, saat buang air besar katanya gigi depan yang tidak rata itu disurud didorong menggunakan lidah dari dalam. Ya, hasilnya gigiku rata dan bagus. Memang harus rutin melakukannya. Itu kulakukan demi meratakan gigi.

Rustiva Trisulichartini (Tiva)

Rustiva Trisulichartini (Tiva)

Rustiva Trisulichartini – Perempuan yang bermata sayu dan bertubuh seakan lemah. Tapi, semangat belajarnya tinggi. Hal itu bisa kulihat saat berbicara di kelas – mengutarakan ide-ide dan pendapatnya. Teman-teman memanggilnya dengan sebutan “Tiva”, “Kentip”. Tapi, aku memanggil “Tiva” kadang juga “Kentip”. Dia asli Malang. Seperti teman-temanku yang satu kelas bahkan di kelas lain dalam satu jurusan, aku tahu asal-asal mereka – menginatnya dengan baik. Dalam benakku, yang masih tampak, dia suka mengenakan pakaian merah muda. Dia jarang membawa tas punggung. Dia selalu membawa tas samping – tas apa namanya itu? – yang biasa dibawa dengan cara digantung di bahu. Waktu pernikahannya, aku datang – karena memang diundang untuk teman-teman kelas. Aku bonceng sama Hasan – Hasti Edi Sudrajat – naik motor Ninja dua tag. Tak banyak ingatanku tentang temanku yang ini – mungkin juga teman-temanku yang lain – aku tak bisa bicara banyak tentang mereka. Terbatas. Bukan terbata, tapi ingatan tentang mereka dan Tiva sudah pudar.

Siti Nur Laili (Laili) tergerus zaman

Siti Nur Laili (Laili) tergerus zaman

Siti Nur Laili – Dia adalah perempuan yang bermata Arab dan berwajah Amerika, menurutku begitu. Dia berasal dari Bandung, Jawa Barat. Setelah aku mengenal lebih jauh lagi tentang orang Bandung, Laili – panggilannya – memang memiliki rupa dan postur khas Bandung. Dulu, aku suka memandangnya. Karena memang cantik juga manis, bagiku. Entah bagi teman-teman yang lain. Kata Einstein, itu teori relativitas. Aku kenal dengan Laili sejak awal-awal OSCAAR. Dia kenal dengan salah satu temanku dari Sumenep jurusan SKI. Laili pada waktu itu pinjam cangkul untuk kerja bakti setelah acara OSCAAR hampir selesai. Aku pun diminta membawakan cangkul oleh temanku, ya untuk Si Laili. Aku kira hanya untuk membawakan ke kampus pada waktu itu. Eh, ternyata aku diminta membawa kembali oleh Laili yang pada waktu keluar dari mobil warna merah hati. Aku senang punya kenalan secantik dia. Eh, ternyata dia duduk satu kelas jurusan Sastra Inggris denganku. Dai pendiam. Tak banyak bicara. Ya, iyalah. Namanya pendiam, ya tak banyak bicara. Tapi, setelah beberapa minggu, mungkin beberapa bulan, dia menghilang, tidak masuk kelas. Lama-lama kadang masuk, kadang tidak. Akhirnya, dia dikabarkan berhenti kuliah di jurusan Sastra Inggris. Aku dulu sempat memiliki nomoer ponselnya, XL. Tapi, setelah lama tidak aktif. Aku tahu kalau Laili berhenti saat kutanya via pesan singkat. Aku tak begitu ingat alasan dia berhenti. Tapi, ada satu hal yang masih melekat dalam ingatanku alasan dia berhenti. Tak usah kuceritakan ya.

Siti Zulaikah (Jule)

Siti Zulaikah (Jule)

Siti Zulaikah – Temanku yang cukup setengah pendiam. Dia berasal Lamongan. Orangnya tirus dan ramping. Lagi, dia pendiam. Tak banyak bicara. Tak banyak bicara lagi, memang pendiam kok dibilang tak banyak bicara. Itu sama saja. Dia dipanggil “Jule” oleh teman-teman. Aku pun juga memanggilnya demikian. Kadang dipanggil “Jul”. Dari saking pendiamnya, dia tampak sebagai perempuan yang murung dan sedih. Seakan ada derita hidup yang selalu dipikirkan. Entahlah. Aku tidak tahu. Cuma, dari cara pendiamnya itu, ya sepertinya dia menanggung beban hidup yang berat. Bahkan, aku sempat bertanya padanya perihal dia kok selalu dia. Tapi, aku lupa jawabanya. Sudah lama kok, sewaktu aku masih kuliah pada tahun 2010-2011. Sekarang catatan ini kutulis pada tanggal 29 September 2016. Apa lagi ya? Oh, iya. Dia juga memakai pakauan biru dan tas samping ketiaknya. Juga, dia berkacamata, tapi kadang tidak memakai kacamata.

Sunarto (Narto)

Sunarto (Narto)

Sunarto – Dia adalah teman laki-laki yang sudah mandiri di Surabaya. Dia dipanggil “Narto”. Tapi, aku memanggilnya “Naruto” seperti film serial kartun Jepang. Dia asal Bojonegoro. Dia punya motor Vario waktu itu. Katanya juga dia nganggur satu tahun sebelum masuk kuliah jurusan Sastra Inggris. Rambutnya tipis, kadang menyerupai model punk. Kulitnya putih dengan tubuh tidak gemuk. Kalau tidak gemuk, berarti kurus. Tidak kurus amat. Kurus sedang. Orangnya tinggi. Juga logat Jawanya terlihat. Bukan hanya dia, teman-teman yang lainnya juga begitu, logat Jawanya terlihat oleh telinga. Bukan terlihat, tapi terdengar jelas. Aku teringat saat dia melepas selilit dari celah-celah giginya. Lumrah dan biasa saat bersama dengannya. Maaf ya, itu ingatanku yang masih berusaha kuingat.

Vebrilian Lucaswati (Lukas)

Vebrilian Lucaswati (Lukas)

Verbrilian Lucaswati – Temanku, seorang perempuan. Dia dipanggil “Lukas” atau “Lian” dalam ingatanku. Atau hanya aku yang memanggil “Lian”? Tapi, teman-teman mayoritas memanggilnya dengan sebutan “Lukas”. Haduh, aku bingung menceritakan tentang perempuan ini. Dia berasal dari Surabaya. Kalau gak salah. Aku tak begitu akrab dengannya. Kadang bertutur sapa dengannya. Yang pasti, aku tidak banyak berkumpul dengannya. Sehingga, aku tidak memiliki banyak catatan tentangnya. Jadinya, aku yang bicara begini, ya begini. Tidak tahu apa yang harus kutulis tentang Lukas. Suka ngemil. Jajanannya banyak. Seperti teman-teman perempuanku yang lain, jajanan selalu bergendong saat akan masuk kelas. Sudah, ya. Aku tidak banyak tahu tentang Lukas. Tapi, wajahnya tetap bisa kuingat. Mungkin begitu saja tentang Lukas.

Wulan Saprilia (Wulan)

Wulan Saprilia (Wulan)

Wulan Saprilia – Perempuan ini cukup agresif ketika berbicara di depan kelas. Orangnya tampak marah-marah, tapi bukan marah, marah dengan gelak-tawa yang bikin aku ingin senyum terus ketika dia tertawa di depan kelas. Dia dipanggil “Wulan”. Tapi, kadang dipanggil “Wul”, jadi teringat “Tiwul”. Aku ingin tertawa dalam catatan ini. Dia berasal dari Sidoarjo. Punya motor Jupiter. Postur tubuhnya tidak kurus. Juga tidak kerempeng. Teman-teman (pembaca catatan ini) bisa membayangkan sendiri jika ada orang yang tidak kurus dan tidak kerempeng, seperti apa bentuknya? Bisa kan? Tentu bisa. Di saat catatan ini kubuat, aku senyum-senyum sendiri. Bahkan, di salah satu tulisan ini aku ingin tertawa. Tapi, aku tidak mencantumkan tertawaku di dalam catatan. Mungkin, teman-temanku akan menganggap serius dengan catatan yang kubuat. Di sini lagi, aku ingin tertawa. Di saat diajak ngobrol, kalau dia sedikit dipukul oleh teman-teman dia pasti bilang, “Haduh, loro rekkk…” Aku tidak bisa membahasakan apa yang harus kubicarakan. Kalau dia dipukul pasti bilang begitu yang kuingat. Dia tampak marah, tapi bagiku itu bukan marah. Lain. Beda. Di sini lagi, aku ingin tertawa. Bukan menertawakan, ya. Aku itu senang kalau ngobrol dengan Wulan. Tapi, katanya kadang Wulan itu males ngobrol denganku. Ya, mungkin karena aku menjengkelkan. Entahlah. Maaf, ya Wul. Tapi, aku suka berteman denganmu. Aku bukan hanya kenal dengan Wulan. Aku juga kenal dengan adiknya, Suci Larasati jurusan Matematika di Fakultas Tarbiyah. Mungkin itu namanya. Dalam pikiranku, adiknya itu juga sama dengan Wulan. Eh, ternyata adiknya tidak gemuk. Eits, keceplosan bilang adiknya tidak gemuk yang menjadi tanda bahwa Wulan itu tidak kurus. Aku kenal dengan adik Wulan karena suatu waktu dia memintaku untuk – apalah – ngajari adiknya bahasa Arab. Ya, aku mau saja karena Wulan itu teman baikku. Teman yang lain juga baik ya… Akhirnya, aku bertemu dengan adik Wulan. Entah, dia (Suci) ingat padaku atau tidak. Tapi, aku masih ingat dengannya. Mungkin, kalau sekarang bertemu aku sedikit lupa akibat perubahan postur tubuh tentunya. Kalau wajah dan raut rupanya yang waktu bertemu dulu saat kuliah, aku masih ingat. Kalau Cahyadi sedikit kesel – maksud guyon – dia pasti nge-bully Wulan. “Awas ya, nanti kukempesin.” Begitu bahasa Cahyadi. Waktu itu, aku masih ingat kata-katanya yang kadang menggelitik karena postur Wulan yang begitu. Tapi, Wulan tampak biasa. Aku melihatnya merasa tidak enak dan ingin mengajak dia ngobrol, bayanganku, dia mengipas-ngipas diri dengan kipas tangan. Aku tersenyum kalau teringat Wulan.

Zuhriyatul Afiyah (Ria)

Zuhriyatul Afiyah (Ria)

Zuhriyatul Afiyah – Perempuan ini super pendiam di antara para teman-temanku. Tapi kata-katanya cukup bermakna sekali saat berucap. Dia berasal dari Pasuruan. Entah, dia misteri bagiku. Aku tidak banyak mengenal tentang dirinya, karena jarang sekali dia buka mulut sekadar bercerita. Tapi aku suka gaya bicaranya yang serius dan mengena terhadap objek pembicaraan. Aku tidak paham dengan karakternya, pernah suatu ketika aku melihat dia berbicara dengan nada pelan. Mungkin sebagai bentuk kehati-hatiannya. Dia orangnya tidak mau difoto. Sangat sulit untuk mengambil gambar dirinya. Bahkan, untuk sebagai bahan dokumentasiku – karena dia temanku – aku berusaha mati-matian untuk mendapat sejepret fotonya. Sayangnya, dia tetap tidak mau. Ya, hasilnya foto dia membelakangi kamera. Tapi, aku masih ingat dengan cara bicaranya. Cara dia berdiam saat duduk berkumpul bersama di dalam kelas. Raut wajahnya mengingatkanku pada salah seorang perempuan di rumah. Dari tampangnya, dia seperti tetanggaku sendiri. Aku ingin tertawa di sini. Lupakan saja tertawa. Ya, begitu aku mengenal sosok Zuhriyah sebagai temanku.

TAMBAHAN

Aku tidak akan menutup rahasiaku. Di dalam kelas, aku sebenarnya menyukai seorang teman kelas. Jika bisa dirangking, mulai dari rangkit tingkat pertama hingga terakhir aku menyukai teman-teman perempuanku. Aku tidak bisa sebutkan mereka satu per satu. Halah, akhirnya bukan “tidak menutup rahasia”. Tapi, juga tida membuka rahasai. Aku tertawa sendiri saat catatan ini kubuat. Kalau mau tahu, mari tukar pengalaman seputar kehidupan kuliah waktu satu kelas via SMS ataun inbox facebook menggunakan tulisan yang baku – mengikuti EYD atau EBI yang baik dan benar.

Satu hal lagi, aku punya teman kelas. Namanya Mirza. Orangnya, super tidak kurus. Dia berasal dari Gresik. Tapi, setelah beberapa kali masuk, dia menghilang. Tidak lanjut kuliah. Saat bertemu di jalan, dia katanya pindah jurusan ke Fakultas Dakwah. Aku tidak punya banyak catatan tentang Mirza. Pada mulanya, aku takut sama Mirza. Dia kan sangat tidak kurus, jadinya aku takut. Cuma dia pernah bercerita padaku bahwa dia pernah bekerja di pabrik mie goreng.

CATATAN

Bagi teman-teman, aku ingin meminta penilaian – catatan – dari kalian tentangku. Terserah, aku terima segala catatan teman-teman sejak kita saling mengenal di bangku kuliah. Ada sebagian yang telah mengirimkan catan mereka tentangku. Tapi, banyak yang belum membuat dan mengirimkan. Selebihnya, jika ada yang kurang berkenan dengan catatan ini, mohon konfirmasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: