Harga Rokok hanya Menuver Politik

BERNAS Jogja: Sabtu, 17 September 2016

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab di Gunung Penanggungan-Mojokerto

Junaidi Khab di Gunung Penanggungan-Mojokerto

Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia diresahkan oleh wacana kenaikan harga rokok yang akan meroket. Meskipun sudah diwacanakan, harga rokok sepertinya masih belum benar-benar naik di atas kisaran lima puluh ribu ke atas. Tentunya hal ini menjadi kontroversi tersendiri, baik di kalangan para perokok aktif, pasif, dan khususnya bagi para petani yang notabene sebagai penghasil bahan mentah rokok.

Cukup menarik kita bicarakan kembali gagasan cemerlang Dr. dr. Dody Novrial Msi. Sp. PA yang berjudul Solusi Damai Problematika Tembakau (SM: Selasa, 6 September 2016). Dalam gagasannya, Dody mengacu pada pandangan Dr. Gretha Zahar, karena cara pandangnya menggunakan Fisika Modern dalam ulasan Ilmu-ilmu Hayati. Di dalam tembakau terdapat divine cigarretes yang memiliki potensi sebagai agen kuratif. Potensinya sebagai radical scavenger sangat bermanfaat bagi terapi hampir semua penyakit karena sebagian besar keadaan patologis tubuh bersumber dari radikal bebas. Menurutnya, inovasi Gretha patut mendapatkan apresiasi dan dipertimbangkan sebagai sebuah solusi damai bagi problematika tembakau di Indonesia.

Sungguh ide yang sangat cemerlang. Pendapat demikian juga pernah disampaikan oleh Rudy Badil dalam bukunya Kretek Jawa Gaya Hidup Linta Budaya (2015). Badil menceritakan asal mula keberadaan rokok muncul di nusantara. Hal itu dimulai oleh seorang lelaki yang pada mulanya dikena penyakit sesak. Ia menggunakan suatu daun untuk dibakar lalu dihisap – waktu itu masih belum diberi nama – dan bisa menyembuhkan penyakitnya. Kemudian hari, daun itu dikenal dengan sebutan tembakau.

Namun, seiring perkembangannya, rokok sudah banyak mengalami campur tangan manusia. Seperti diurai oleh Rudy, untuk menemukan selera baru, masyarakat dahulu menggunakan daun tembakau bukan hanya sebagai terapi obat pernapasan, tetapi lebih sebagai gaya hidup. Hal itu dilakukan dengan mencampur tembakau dengan bahan-bahan lainnya. Salah satunya menggunakan garam atau cengkeh. Tetapi, karena cengkeh pada masa itu sangat sulit didapatkan, maka garam yang menjadi campurannya.

Sebenarnya, jika mengacu pada gagasan Dody yang mengutip riset Gretha, persoalan tembakau masih belum selesai dari konteks sosial. Yang mana, jika gudang menaikkan harga rokok di atas rata-rata lima puluh ribu, sementara harga tembakau murah dan bahkan – tidak dibeli oleh gudang – maka problem rokok dan tembakau tidak mungkin selesai begitu saja. Untuk menyelesaikan problematika tersebut, tentunya harus ada media baru guna menemukan benang merah persoalan yang dihadapi oleh negara, masyarakat, dan gudang (pabrik) rokok.

Wacana kenaikan harga rokok benar-benar meresahkan para petani tembakau. Hal tersebut dipicu oleh harga tembakau sangat murah. Bahkan, asumsi masyarakat, gudang atau perusahaan rokok bisa dikategorikan melakukan penimbunan tembakau. Pabrik membeli tembakau dengan harga yang murah, namun pada suatu saat setelah itu, harga rokok dinaikkan. Sungguh suatu keganjilan yang benar-benar merugikan para petani. Di Temanggung – sebagai daerah penghasil tembakau terbaik – para petani tembakau pun banyak yang mengeluh karena tembakaunya tidak dilirik oleh gudang atau perusahaan rokok hingga daunnya rusak.

Jika persoalan sisi negatif yang mengandung zat berbahaya itu menjadi alasan, kita perlu melihat kembali sejarah kelahiran rokok. Pada mulanya, rokok sebagai terapi untuk mengobati sesak di dada yang dibuat dengan lintingan tangan tanpa campuran bahan kimia dan tanpa proses mesin. Namun, karena campur tangan bahan kimia dan mesin itulah rokok sebenarnya mengandung unsur-unsur kimia yang kurang baik bagi kesehatan manusia. Bukan karena tembakaunya, tapi karena teknologi yang ikut campur dalam pengolahan-pembuatan rokok berikut engan bahan-bahan campuran modern.

Menyikapi hal demikian, baik pemerintah atau pemilik saham perusahaan rokok harus benar-benar melihat aspek kultural dan sosial di dalam tatanan masyarakat lokal. Jika harga rokok diwacanakan akan dinaikkan dengan alasan untuk mengurangi angka perokok aktif, maka tembakau dari petani juga harus mendapat harga yang layak. Pemerintah jangan hanya membela kelompok penyuplai pajak terbesar – perushaan atau pabrik rokok – namun harus melihat aspek sosial beserta problem yang akan menyertainya.

Menyelesaikan problem bahaya rokok, bukan berarti menaikkan harga rokok, tapi dengan mencari solusi lain yang dilihat lebih objektif dan rasional. Logikanya, jika harga rokok dinaikkan dengan alasan mengurangi angka perokok aktif, hal itu sangat mustahil. Dari tahun ke tahun harga rokok terus naik, begitu pula jumlah perokok aktif semakin meningkat. Jadi, sangat tidak rasional jika menaikkan harga rokok pemerintah bisa mengurangi angka perokok aktif, kecuali ada intervensi politik oleh oknum tertentu demi meraup hasil dari penjualan dan pajak rokok di Indonesia.

Baik pemerintah atau pabrik rokok tidak mungkin benar-benar ingin usahanya gulung tikar. Coba bayangkan, jika tidak ada perokok aktif, gudang rokok akan gulung tikar, petani tembakau pun akan mengeluh. Jika pemerintah benar-benar ingin mengurangi angka perokok aktif, salah satu solusi yang sangat tepat dengan mencabut izin perusahaan rokok agar tidak memproduksi rokok. Begitu pula melarang petani agar tidak menanam tembakau. Tetapi, itu semua mustahil dilakukan. Jika terjadi, maka petani tidak punya harapan untuk mendapat keuntungan dari pertanian (tembakau). Pabrik akan gulung tikar, dan suplai pajak kepada pemerintah akan menurun.

Menaikkan harga rokok bukan solusi mengurangi angka perokok aktif. Tapi, hal itu hanya sebagai menuver politik pemerintah demi mendapat integritas yang lebih kuat. Bahkan, wacana kenaikan harga rokok bisa memicu konflik sosial; demonstrasi, pencurian, dan pemerasan akan semakin marak. Sebenarnya, bukan alasan rasional jika pemerintah ingin menekan (mengurangi) angka perokok aktif dengan menaikkan harga rokok di atas lima puluh ribu. Alasan tersebut tidak bisa diterima dan nihil ide. Selayaknya, pemerintah harus getol memberikan sosialisasi agar masyarakat sadar untuk mengurangi rokok yang dikonsumsi setiap hari. Begitu mungkin salah satu solusi yang benar-benar rasional, bukan dengan cara menaikkan harga rokok dan menelantarkan harga tembakau para petani.

* Penulis adalah Akademisi, asal Sumenep. Sekarang bergiat di Komunitas Rudal Yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: