Belajar Politik pada Subardjo

Kabar Madura: Jumat, 16 Oktober 2015

Belajar Politik pada Subardjo

Belajar Politik pada Subardjo

Judul               : Namaku Subardjo

Penulis             : Hapsari Hanggarini

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Juli 2015

Tebal               : viii, 240 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-72834-0-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Jarang sekali kita menemukan bahan bacaan fiksi yang berbau politik dan partai-partai yang mendampinginya. Umumnya, bacaan fiksi yang berupa novel meskipun berisi tentang pesan-pesan moral yang positif, pasti diselingi dengan permainan cinta. Begitulah karya-karya hadir dengan balutan percintaan yang berkepanjangan, baik berakhir dengan kisah membahagiakan atau menyedihkan.

Berbeda dengan kisah fiktif Hapsari melalui karya yang berjudul “Namaku Subardjo” ini. Dengan racikan bahasa yang mudah dipahami dia membuat ending sebuah hubungan percintaan Subardjo yang membawanya menjadi calon legislatif (Caleg) dari Partai Peduli Amat (PPA). Hanya karena persoalan namanya yang tidak keren, Subardjo harus merelakan kekasihnya pergi dari hidupnya (hlm. 15).

Begitulah awal karir Subardjo memasuki dunia perpolitikan. Dengan hati yang setengah gundah dan heran, dia termenung dengan keputusan pacarnya. Dalam suasan duka, hembusan angin politik menerpa pikirannya yang sedang resah akibat putus dengan Ila, sang pacar. Mulai saat itulah, demi menghilangkan rasa jengah akibat diputus pacar Subardjo menapaki karirnya, disamping jadi pengusaha telur asin di Jakarta, dia terobsesi untuk ikut menjadi Caleg yang diusung oleh PPA.

Meskipun Subardjo berkecimpung di dunia politik, dia tetap menjalankan usaha distribusi telur asin sebagai pendapatan utamanya. Selain itu, dana untuk nyaleg pun dari hasil jerih payahnya berbisnis telur asin. Namun, cara Subardjo berpolitik inilah yang harus dijadikan teladan oleh masyarakat Indonesia. Subardjo melakukan sosialisasi dan kampanye tanpa harus mengkambing hitamkan lawan partainya. Dia benar-benar bersosialisasi dengan cara yang bijak dan sehat (hlm. 182). Meskipun dia menemui kegagalan dalam pemilihan, tapi hatinya tetap lapang dan menjalin persahabatan yang hangat dengan lawan politiknya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iri atau dengki.

Karya ini akan mengajarkan pada kita tentang berpolitik yang tetap membangun persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Kisah-kisahnya akan menjadi cermin bagi kita dan sebagai introspeksi diri dalam dunia politik yang kadang diwarnai dengan perpecahan sosial akibat kalah dalam pemilihan. Menjadi presiden, menteri, gubernur, DPR, DPRD, walikota, bupati, camat, kepala desa bukan ajang untuk memperkaya diri dan meraup keuntungan jabatan yang dipangku. Tapi, ada beban dan tanggung jawab. Mereka harus melayani dan memprioritaskan kepentingan masyarakat luas. Temukan kisah-kisahnya di dalam karya ini yang penuh dengan tamparan untuk introspeksi diri.

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep Tinggal di Surabaya.

Bisa dibaca dalam bentuk koran di: Kabar Madura. Jumat, 16 Oktober 2015. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: