Pembaca, Editor Primer dan Sekunder

Lampung Post: Minggu, 16 Agustus 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi KhabAbdul Waid pernah menyatakan melalui tulisannya yang berjudul “Di Bawah Suntingan Editor Karet dan Ahli”. Tulisan tersebut mengkritisi seorang pembaca buku yang menyalahkan penulisnya karena karya yang ditulis banyak terjadi kesalahan dalam ejaan. Dalam tulisannya, Waid cukup jelas membela para penulis dan seutuhnya menyerahkan baik-buruk sebuah buku kepada tangan para editor yang katanya lihai dan lincah, lebih-lebih editor ahli yang memang menyunting karya sesuai dengan latar belakang pendidikan dan profesinya. Tulisan tersebut cukup unik dan menarik sekaligus menggelitik (JP: Minggu, 10 Mei 2015).

Dalam dunia penerbitan atau perbukuan, istilah editor sudah tidak asing lagi di telinga kita. Editor merupakan seorang yang bertugas untuk menyunting dan mengubah kata-kata, bahasa, atau kalimat agar lebih baik, bagus, dan benar tanpa mengubah substansi ide dari penulis. Editor menurut Pius A Partanto dan M. Dahlan Al Barry (2001:134) yaitu penyunting; menyunting/ menyusun buku yang diterbitkan. Meskipun seorang editor boleh mengubah kalimat secara keseluruhan atau sebagian, tapi tetap tidak boleh menyimpang dari maksud penulisnya atau mengubah substansi sebuah ide tulisan.

Kira-kira begitu pengertian dan tugas seorang editor, khususnya editor sebuah buku pada suatu penerbit. Di sini, talenta dan kejelian editor sangat menentukan bagi keholistikan bahasa dan substansi ide seorang penulis buku. Keteledoran seorang editor dalam melakukan penyuntingan kata-kata, bahasa, dan penyusunan sebuah kalimat dalam suatu karya akan berakibat fatal bagi karya itu sendiri. Walaupun sebuah karya memiliki nilai tawar tinggi karena ide-idenya yang terkandung sangat cemerlang dan inspiratif, tapi jika editornya tidak serius dalam menyunting bahasa, kata-kata, serta kalimatnya, maka hanya akan membangun stigma buruk bagi keberadaan ide yang cemerlang tersebut.

Sebuah Komparasi

Sebagaimana contoh ketika saya membaca sebuah buku berjudul “Jahiliyah Kontemporer dan Hegemoni Nalar Kekerasan; Merajut Islam Indonesia, Membangun Peradaban Dunia” (2014) karya Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag. yang sudah diulas di Jawa Pos (Minggu, 9 November 2014) oleh Naufil Istikhari KR. Pada bagian kata pengantar buku ini, penulis dengan begitu sangat antusias dan bangga mengucapkan terimakasih kepada dua editor karyanya tersebut. Sungguh buku yang menurut saya pada awalnya kata-katanya enak dikunyah dan renyah dibaca.

Tapi, jauh panggang dari api, sepertinya dua editor tersebut hanya nebeng nama saja. Di dalamnya masih banyak kata-kata yang simpang siur dengan kesalahan penulisan. Padahal suatu kata merupakan penunjang bagi kebaikan suatu bahasa dan kenikmatan dalam sebuah ide. Kasus tersebut mungkin hanya sebagian dari bentuk puncak gunung es kekeliruan yang tampak dari keteledoran seorang editor buku seperti halnya buku “Kurasi dan Kuasa: Kekuratoran dalam Medan Seni Rupa Kontemporer di Indonesia” (2015) karya Agung Hujatnikajennong yang diulas oleh Wahyudin di Jawa Pos (Minggu, 03 Mei 2015). Namun, keberadaan dua buku tersebut tidak menyimpang dari maksud penulis. Sehingga masih layak untuk dijadikan bahan bacaan dan renungan yang aplikatif dalam membangun bangsa ini, meskipun kesalahan kata-katanya mengganggu bahasa tulisnya.

Perlu juga disadari bahwa seorang yang memiliki atau menyandang sebuah status sebagai editor – apalagi editor sebuah buku kawakan – memang sangat membanggakan. Lebih-lebih status itu bisa dijual pada instansi untuk kenaikan pangkat. Tapi apalah daya, jika hanya statusnya saja editor, tak ada korelasi antara realisasi kinerja dan statusnya, itu sama saja dengan black campaign sebuah reputasi melalui dunia buku.

Siapakah Editor Utama?

Menanggapi tulisan Abdul Waid tersebut, kita harus berkaca dan mengingat kembali tentang hakikat seorang penulis. Sebenarnya, kita tidak menyadari bahwa penulis adalah editor primer (utama) yang secara mutlak harus membaca ulang karangannya untuk disunting dan selebihnya (selain penulis) adalah editor sekunder (sampingan/ kedua) yang bertugas memperbaiki karya penulis yang sudah dibaca serta disunting oleh penulis sendiri. Selain itu, pembaca pada hakikatnya adalah seorang editor (sekunder) yang namanya tidak dicantumkan dalam sebuah buku.

Kita bisa menarik benang merah persoalan dalam polemik ini. Pada hakikatnya editor adalah pembaca dan pembaca adalah editor. Sementara penulis adalah pembaca sekaligus editor yang keberadaannya tidak bisa disepelekan demi kualitas sebuah buku yang akan terbit. Di sini hubungan timbal balik pembaca sebagai editor, editor sebagai pembaca, dan penulis sebagai pembaca sekaligus editor tidak boleh dikesampingkan. Namun, Waid menganggap pembaca bukan editor, padahal hakikatnya mereka adalah editor yang perlu kita apresiasi.

Kadang memang banyak penulis yang malas untuk sekadar membaca ulang karyanya sendiri. Lalu, sebuah karya mentah tanpa dibaca ulang dan tidak diedit oleh penulisnya, kemudian diserahkan kepada penerbit dan disunting oleh editor sekunder. Sehingga, kadang-kadang editor sekunder kewalahan. Itu jika editor sekundernya tidak hanya nebeng nama, yaitu tidak melakukan penyuntingan dengan maksimal sebagaimana pada karya Prof. Dr. Abd A’la, M.Ag. yang disebutkan di atas.

Maka dari itu, para editor (penulis dan pembaca) yang bertugas memperbaiki kata-kata atau kalimat dalam suatu karya agar menghasilkan bahasa yang baik dan komunikatif, mereka harus benar-benar serius dan berkomitmen dalam tugas penyuntingannya. Kata-kata yang baik dan diksi yang tepat dalam suatu kalimat akan menunjang kejumawaan bahasa pada suatu karya. Lebih dari itu, kreativitas demikian akan menambah keholistikan ide atau gagasan, meskipun ide tersebut tidak seberapa inspiratif dan kritis dalam menilai suatu fenomena. Bukankah begitu?

* Penulis adalah Akademisi dan Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca di situs resminya melalui file versi PDF di menyusul. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: