Menyelami Hakikat Pelaksanaan Umrah

Harian Analisa: Jumat, 7 Agustus 2015

9 Days Umratan Perjalanan Spiritual ke Tanah Nabi (Junaidi Khab)

9 Days Umratan Perjalanan Spiritual ke Tanah Nabi (Junaidi Khab)

Judul               : 9 Days Umratan Perjalanan Spiritual ke Tanah Nabi

Penulis             : Ratna Dks.

Penerbit           : Tinta Medina (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : x, 270 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-257-118-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Di era modern saat ini, istilah umrah sudah banyak disalahartikan. Bahkan jauh dari makna sebenarnya yang pernah ada. Masyarakat sudah ada yang berani memaknai umrah sebagai bentuk kegiatan keliling atau jalan-jalan ke Arab Saudi. Hal tersebut seiring menjamurnya jasa travel yang bermekaran di Indonesia. Ada banyak jasa travel yang menawarkan jasa umrah plus dan fasilitas nyaman yang dijanjikan kepada masyarakat. Masyarakat banyak yang tertarik dan terpikat, hingga akhirnya umrah hanya diartikan sebagai pelesiran ke tanah suci.

Buku ini hadir di tengah-tengah kita sebagai upaya untuk menarik kembali tentang hakikat dan pengertian umrah yang sejati. Umrah sebenarnya tidak jauh berbeda dengan ibadah haji. Hanya ada perbedaan mendasar yang membedakan antara ibadah umrah dan haji. Misalkan, umrah hanya melakukan niat untuk thawaf dan sa’i (sekaligus melakukannya) kemudian memotong rambut. Sementara haji, mencakup hal-hal yang dilakukan dalam ibadah umrah ditambah dengan wukuf di Arafah, menginap di Muzdalifa dan Mina, kemudian melempar jumroh.

Ada satu hal mendasar yang membedakan umrah dan haji, yaitu waktu pelaksanaannya. Ibadah haji hanya dilaksanakan pada bulan Dzulhijjah Hijriyah, sementara ibadah umrah bisa dilaksanakan kapan saja ke tanah suci Makkah. Begitulah kira-kira sekelumit perbedaan antara ibadah umrah dan ibadah haji. Masyarakat jangan sampai tenggelam dengan istilah baru tentang makna umrah karena waktu pelaksanaannya bisa kapan saja, alias tidak jauh berbeda dengan berpelesir.

Ratna Dks. melalui catatan besarnya ini ingin berbagi mengenai peristiwa perjalanan umrahnya. Dia menyatakan, bahwa umrah bukan sekaradar berpelonco ke tanah Suci untuk menikmati keindahan alamnya yang tandus dan waktu dimana belanja menjadi prioritas utama mulai sejak keberangkatan lebih-lebih ketika sampai (hlm. 14).

Melaksanakan ibadah umrah meski tidak sama dengan waktu pelaksanaan ibadah haji bukan serta merta menganggapnya sebagai jalan untuk jalan-jalan ke tanah suci dan membeli barang-barang mewah dan baru di sana. Tapi ikhlas dan kesederhanaan yang harus menjadi niat utamanya. Kisah yang dipaparkan dalam buku ini akan mampu memberikan stimulasi niat umrah agar benar-benar memberikan berkah dan manfaat, baik bagi diri si melaksanakan atau bagi orang lain.

Kesederhanaan

Hal yang paling diutamakan dalam perjalanan hingga melaksanakan ibadah umrah adalah sebuah kesederhanaan individual (hlm. 23). Hal tersebut dengan tujuan agar tidak ada rasa sombong yang menjadi penyakit hati. Sombong inilah yang kadang menjadi biang keladi kerusakan yang diakibatkan oleh hidup mewah dan merasa lebih dari orang lain. Sehingga kadang menganggap remeh orang lain, bahkan sampai berbuat sesuka hati kepada orang lain, karena kita merasa punya segalanya dan orang lain di bawah kita. Kita lihat saja peristiwa yang menimpa Iblis yang dikutuk oleh Tuhan hanya karena kesombongannya.

Sebenarnya bukan persoalan jamaah umrah mau sederhana atau mewah dalam segala hal ketika akan melaksanakan umrah hingga selesai, keberangkatan dan kepulangan. Hal itu ada pada hati mereka masing-masing. Jika hatinya kuat, maka tidak jadi persoalan jamaah mau bermewah. Memang banyak di antara mereka yang mewah (tidak sederhana), mereka ada yang tetap sekadarnya meski mewah, tapi tentu ada pula yang merasa bangga dengan kemewahan pada dirinya. Namun, sikap sederhana ketika bersikap dan berpenampilan dalam segala hal lebih menjamin kemurnia hati, karena jika bermewah-mewahan hati akan tergoda dan bisa menyebabkan kesombongan (hlm. 50). Hal itulah yang akan mengurangi pahala ibadah umrah, bahkan bisa saja mendapat cobaan, ujian, bahkan bisa musibah berat.

Satu alasan yang menuntut setiap orang ketika akan melaksanakan ibadah umrah harus sederhana dalam segala hal, yaitu ketika melaksanakan ibadah umrah segalanya serba sederhana dan tidak mewah-mewah. Misalkan pakaian ihram hanya dua helai kain (putih bagi laki-laki). Hal tersebut tidak memandang mereka itu berstatus presiden, pejabat negara, dan atau kiai, semuanya sama, semuanya harus sesederhana mungkin ketika ber-ihram. Bukan kemewahaan yang dilihat oleh Tuhan, tapi keikhlasan hati yang menjadi penilaian-Nya.

Novel-catatan ini akan menginspirasi kita semua tentang hakikat pelaksanaan ibadah umrah. Bukan sekadar pergi ke tanah suci dengan seperangkat pelaksanaan ibadah wajib di sana, tapi nilai-nilai kemanusiaan lah yang harus menjadi kunci utama. Hal itu pada hakikatnya, yaitu makna yang tersirat dalam karya ini yang harus dipahami oleh para jamaah umrah atau pun jamaah haji. Umrah tidak hanya selesai dikerjakan sekali di Makkah, tapi hingga kepulangan dan sampai kembali ke kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ibadah yang bersifat vertikal-horizontal harus dipegang teguh oleh manusia. Selamat membaca dan menyelami hakikat ibadah umrah dan perjalanan mulianya!

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca di situs resminya di: Harian Analisa, atau melalui file versi PDF di menyusul. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: