Mengatasi Kekeringan di Sumenep

Kabar Madura: Jumat, 07 Agustus 2015

Anak-anak Pangaro (Junaidi Khab)

Anak-anak Pangaro (Junaidi Khab)

Judul               : Anak-Anak Pangaro

Penulis             : Nun Urnoto El Banbary

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, April 2015

Tebal               : x, 310 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-72097-5-6

Peresensi         : Junaidi Khab*

Sebagaimana banyak diberitakan, menurut Sudharmawan sebagai Kepala Badan Penanggulanang Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, ada sekitar dua pulu satu (21) kabupaten yang terancam kekeringan pada tahun 2015 ini. Salah satunya yaitu kabupaten Sumenep dan Pamekasan di Madura. Hal yang menurut pikiran sangat langka terjadi di dua kabupaten tersebut dibanding kondisi geografis kabupaten Sampang dan Bangkalan. Namun, hal tersebut tidak menutup kemungkinan bisa terjadi karena faktor lain. Maka dari itu, sebuah usaha sangat penting dilakukan oleh penduduk Sumenep atau Pamekasan.

Kehadiran karya ini merupakan cemeti bagi masyarakat Sumenep dan sekitarnya agar tetap menjaga kelestarian alamnya. Jika alam terjaga, penebangan pohon secara membabi-buta pun dihindari, kemungkinan besar kegersangan pada musim kemarau tidak akan parah. Kemudian diganti dengan penghijaun di berbagai daerah yang rawan kekeringan dan kekurangan air, maka besar kemungkinan krisis air tidak akan terjadi. Sehingga masyarakat bisa mempertahankan seni dan budaya yang pernah hidup di sana.

Kisah-kisah di dalam novel ini merupakan sebuah cerminan anak-anak yang peduli lingkungan, utamanya daerah kepulauan yang kadang sangat sulit untuk mendapatkan air bersih untuk mandi dan minum sehari-hari. Sumur kering (hlm. 10). Sebuah kekhawatiran yang tumbuh di hati Ummi Salamah juga menjelma dalam hati dan pikiran-pikiran temannya yang sedang menempuh pendidikan di Sumenep.

Ummi Salamah sering merenung, mencermati, dan mencari solusi agar daerah asalnya di pulau Gili Raja Sumenep tidak dilanda kekeringan setiap tahunnya. Akhirnya dia dikenalkan dengan Fatah yang juga berasal dari pulau Gili Raja. Dua insan bertemu dalam satu tujuan dan keprihatinan yang sama. Fatah dan Ummi sama-sama khawatir jika tempat asalnya di kepulauan dilanda kekeringan yang berkepanjangan.

Akibat kekeringan yang melanda pulau Gili Raja, banyak tradisi seperti soronen, macapat, samroh, dan samman juga ikut-ikutan kering seperti halnya tetumbuhan. Masyarakat sudah tidak peduli lagi dengan budaya dan tradisi setempat. Mereka lebih sibuk berlomba-lomba dan berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, yaitu air bersih untuk minum dan mandi. Kata Ummi, yang menyebabkan kekeringan tak lain perilaku masyarakat yang sudah banyak maksiat.

Dua pikiran bersatu, pikiran Ummi dan Fatah menumbuhkan keprihatinan teman-temannya yang lain. Hingga guru dan kepala sekolahnya pun ikut andil untuk menyukseskan rencananya untuk mengembalikan kehidupan masyarakat kepulauan Gili Raja agar seperti sediakala. Salah satunya yaitu penghijauan, dengan meminta bantuan bibit pohon kepada pemerintah kabupaten Sumenep. Awalnya, Ummi dan Fatah meminta sumbangan kepada teman-temannya seikhlasnya saja, dengan tulus mereka dalam beramal, jalan dimudahkan untuk melakukan taubatan nasuha (hlm. 154) dan reboisasi untuk mencegah kekeringan pada tahun-tahun berikutnya.

Sehingga, ketika suatu daerah masyarakatnya tidak susah untuk mencari air dan tanahnya tidak mengalami kekeringan, segala bentuk seni dan budaya akan tetap terjaga. Kekeringan menyebabkan masyarakat lupa segalanya demi mendapat seember air bersih untuk kelansungan hidup. Akibat kekeringan, mereka biasanya rela membunuh sesama saudaranya, memfitnah, dan merampok yang lain. Hilanglah segala kearifan yang tertanam di sana. Maka dari itu, Ummi Salamah ingin kesenian dan budaya yang hilang itu hidup kembali, salah satunya yaitu reboisasi kepulauan.

Mereka disebut sebagai anak-anak pangaro oleh para gurunya, orang tuanya, dan pemerintah setempat. Peran dan semangatnya perlu menjadi cermin bagi pemuda-pemudi Sumenep dan kota sekitarnya di seluruh Indonesia yang mampu menjaga dan melestarikan alam milik Indonesia, utamanya daerah terpencil seperti kepulauan di Sumenep serta daerah lainnya di seluruh nusantara. Karya ini cukup menginspirasi untuk membangkitkan semangat pemuda Sumenep dan membangun dengan segenap jiwa raga untuk menjaga alam tanpa mengharap pamrih materi, tapi atas dasar kesadaran dan untuk kebaikan bersama.

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Asal Sumenep Tinggal di Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca di situs resminya melalui file versi PDF di menyusul. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: