Introspeksi Diri dalam Kata-Kata dan Bahasa

Koran Madura: Jumat, 10 Juli 2015

Drunken Monster (Junaidi Khab)

Drunken Monster (Junaidi Khab)

Judul               : Drunken Monster

Penulis             : Pidi Baiq

Penerbit           : Pastel Book

Cetakan           : II, Januari 2015

Tebal               : 289 halaman

ISBN               : 978-602-7870-67-3

Peresensi         : Junaidi Khab*

Baru kali ini saya membaca buku yang pada pengantarnya disematkan bahwa buku yang berjudul “Drunken Monster” ini berbahaya. Benar adanya, buku yang disebut sebagai buku berbahaya ini benar-benar berbahaya jika isinya yang apa adanya diikuti oleh pembaca. Yang pasti, aktornya tidak merugikan bagi para pembaca, ada pesan agar manusia itu bisa saling berbagi dengan orang lain.

Misalkan kegilaan yang terjadi dalam bentuk kata-kata bisa kita temukan dengan mudah. “Sepulang dari sana, yaitu beberapa minggu kemudian, saya baca lagi buku ini Drunken Monster itu. Puji Tuhan, pada saat membacanya, saya benar-benar tidak bisa melihat matahari karena malam. Juga tidak bisa melihat bulan karena saya ada di dalam kamar. Dan, saya tidak bisa memakan pizza karena memang tidak ada” (hlm. 16).

Benar-benar gila secara logika, tapi benar adanya ungkapan di atas. Diksi dan kata-katanya benar dan tidak salah sedikit pun. Sungguh menarik. Buku ini merupakan salah satu novel yang berupa catatan harian dan isinya secara tersurat (dangkal), yaitu hanya sebuah bentuk kecerobohan belaka. Ada banyak kecerobohan dan kegilaan yang dilakukan oleh aktor utama di dalamnya. Tapi kegilaan yang ketika kita pikirkan dengan penuh perenungan, ada kebenaran yang tersirat secara sempurna dan utuh. Kadang kata-kata yang ceplas-ceplos dan mengalir begitu saja dianggap sebagai keanehan dan kejanggalan, padahal di balik itu semua ada makna hakiki yang sulit ditemukan oleh manusia secara umum.

Di metro itu, saya parkir motor di tempat orang lain yang juga sama parkir. Tak ada tempat khusus parkir. Tak ada tempat khusus untuk parkir motor direktur atau pejabat tertentu karena direktur atau pejabat biasanya tidak pernah pakai motor. Sebenarnya bukan karena tidak punya uang, orang kaya pastilah punya, tapi mereka tidak mau pakai motor. Karena? Karena takut jatuh, maksudnya takut nanti jatuh wibawanya. Padahal di mata rakyat, justru itu yang keren, lebih merakyat daripada naik mobil mewah dan pakai sirine, itu seperti ambulans. Ambulans? Iya, ambulans, tapi ambulans yang membawa orang yang sudah mati nuraninya (hlm. 72).

Kata-kata dan bahasa yang digunakan dalam pernyataan tersebut memang sembarangan dan mengalir begitu saja. Tapi, pernyataan tersebut cukup ampuh untuk membakar telinga orang-orang yang membaca. Lebih-lebih para pejabat negara yang sungkan untuk menggunakan sepeda motor. Itu hanya contoh sebagian kecil dari ungkapan yang terdapat dalam kisah ini. Masih ada banyak lagi sindiran dalam bentuk kata-kata yang mengalir apa adanya dan perlu dijadikan bahan introspeksi diri bagi kita semua agar kita tidak egois dengan orang di sekitar dan lingkungan yang kita tempati.

Dalam suatu monolognya, aktor dalam novel-catatan ini bercerita. “Aku sudah kaya, uang sudah banyak. Mau apa lagi? Cuma tinggal santai dan kirim SMS buat istri tercinta yang sedang bekerja di kantornya: “Ibu, apa yang kamu cari? (Ayah, Timur, dan Bebe).” Wow, dia langsung membalas: “Cari uang!” Oh, ya? Saya langsung kirimi lagi SMS susulan: “Emangnya, uang Ibu hilang?” Tidak ada jawaban sama sekali, tentu saja, dia kan sedang sibuk cari uang” (hlm. 172).

Kata-kata dan bahasa jangan sampai kita abaikan. Kadang apa yang kita ucapkan tidak sesuai dengan hal-hal yang kita lakukan. Sehingga, kita mendapat malu dari ucapan dan tindakan yang tidak sesuai dengan faktanya. Seperti halnya percakapan di atas, sang istri beralasan mencari uang. Padahal, istilah “mencari” secara umum untuk hal-hal yang sudah hilang atau sesuatu diyakini ada meski tidak pernah melihatnya. Tapi, sebenarnya sang istri tadi tidak salah jika langsung memberikan jawaban atas pertanyaan suaminya yang terasa gila.

Segala cerita ganjil dan konyol dalam buku ini menunjukkan kebalikannya bahwa perilaku manusia lebih dikendalikan oleh hubungan-hubungan permukaan, oleh pola aksi-reaksi yang tidak mesti mengandung makna atau pun subtansi yang tidak mesti sepenuhnya dimengerti. Segala dialog dalam berbagai cerita dalam buku ini sesungguhnya monolog, monolog yang dialogis, atau dialog yang monologis. Selamat membaca dan menyelami makna hidup dalam kata-kata dan bahasa.

* Peresensi adalah Akademisi dan Pecinta Baca Buku Tinggal di Surabaya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: