Cerita Taraweh Seorang Teman

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Ada hal yang sangat menarik lagi tentang bulan Ramadan. Biasanya teman-temanku dan aku sendiri berburu taraweh yang super cepat. Lucu sekali. Tapi, kadang-kadang aku mencari tempat taraweh yang lama dan enak, seperti di masjid al-Akbar Surabaya. Aku pernah shalat taraweh di sana. Memang lama sekali, tapi lebih nyaman karena ruangannya sangat luas dan bacaan shalatnya indah serta enak didengar. Selain itu, shalat taraweh di masjid al-Akbar Surabaya usai shalat bisa menikmati kuliner yang demikian rupa banyaknya. Tapi, rata-rata aku shalat taraweh di pesantren Luhur al-Husna rata-rata dua puluh (20) menit lamanya. Kalau di masjid al-Akbar Surabaya bisa sampai satu (1) jam lebih, kira-kira satu jam setengah. Itu masih mendingan dibanding dengan di masjid Ampel Surabaya. Di sana pukul sepuluh malam masih belum selesai, lama sekali dan sepertinya taraweh yang paling lama yang kutemui di Surabaya dan sekitarnya, entah ada lain aku tidak tahu.

Kata temanku yang menikah dengan orang Bangkalan, Zainal Arifin. Di rumah istrinya ada yang hanya shalat taraweh sekitar sepuluh (10) menit saja. Sebenarnya di rumahku di kampung halamanku di kampung Kalangka, desa Banjar Barat, kecamatan Gapura, kabupaten Sumenep juga ada yang secepat itu. Kata Zainal ketika bercerita di kamarku di hadapanku dan Masduri, sepertinya lebih enak shalat taraweh dengan empat salam tapi ada khutbahnya. Lebih memberikan pencerahan dan nilai tambah bagi jamaah daripada shalat taraweh sepuluh salam tapi dikerjakan seperti orang lari. Katanya begitu, kupikir-pikir memang demikian. Aku sepakat.

Kemudian dia menceritakan hasil shalat taraweh yang dia ikuti di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Ketika dia mendengarkan khutbah taraweh, dia mendapat kesan atau cerita menarik tentang demokrasi berkhutbah. Seperti biasanya, di masjid-masjid yang menyampaikan pidato hanya segelintir orang, itu pun kadang diundang oleh takmir masjid. Pada masa sahabat, katanya ada masjid yang benar-benar demokratis alias selalu memberikan kesempatan untuk berbicara kepada masyarakat. Pada suatu hari, ketika seorang pemimpin sedang berkhutbah di masjid pada masa itu, ada seorang laki-laki yang interupsi. Jangan hanya orang-orang tertentu diberi kesempatan untuk menyampaikan pidato, tapi seluruh jamaah dan orang yang lain juga harus diberi kesempatan yang sama. Katanya begitu. Apalagi jamaah masjid, bukan hanya orang-orang tertentu saja yang ingin mengutarakan atau menyampaikan isi otaknya, dia sendiri juga ingin mengampaikan banyak hal kepada khalayak ramai.

Sang pemimpin yang sedang berkhutbah itu pun memberikan kesempatan kepada laki-laki paruh baya itu atas dasar demokratis dan hak tiap-tiap warganya untuk menyampaikan isi kepalanya. Sang laki-laki tua itu pun naik podium dan menyampaikan sesuatu yang ingin disampaikan kepada para jamaah. Dia menyampaikan tiga hal penting menurutnya. Pertama, dia mengatakan bahwa dia selalu lari dari rahmat Tuhan. Kedua, dia adalah lebih kaya dibanding dengan Tuhan. Ketiga, dia memiliki mahluk yang bukan mahluk Tuhan. Setelah menyampaikan tiga hal itu, dia langsung turun podium dengan menutup pembicaraannya menggunakan salam.

Tapi, dai dicegat oleh keamanan negara karena yang disampaikan itu sangat kontroversi bagi para jamaah. Para keamanan itu meminta agar perkataannya itu dijelaskan dengan rinci hingga para jamaah tidak salah paham. Dia tetap bersikeras untuk melepas cengkeraman tangan keamanan negara yang bertugas di masjid itu. Tapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya dia menyerah dan kembali naik ke podium untuk menjelaskan tiga perkara yang disampaikan tadi.

Dengan tenang dan begitu santai, laki-laki itu mulai menyampaikan maksud tiga perkara yang disampaikan tadi. Pertama, dia selalu lari dari rahmat Tuhan, padahal semua orang selalu mencari rahmat Tuhan. Rahmat yang dihindari itu adalah hujan. Sudah tentu, ketika hujan dia lari karena takut basah. Kedua, dia lebih kaya dibanding dengan Tuhan. Dia seorang manusia biasa yang memiliki anak dan istri. Sementara, anak dan istri adalah harta terindah yang tiada terkira dan Tuhan tidak memiliki anak atau istri. Itulah harta kekayaan yang dimilikinya dan tidak dimiliki oleh Tuhan. Ketiga, dia memiliki mahluk yang bukan mahluk Tuhan, yaitu al-Quran karena al-Quran adalah firman Tuhan. Begitu kata Zainal hasil mengikuti jamaah shalat taraweh yang berjumlah delapan rakaat tapi ada khutbahnya. Itu pun mengerjakan shalat taraweh penuh sangat sederhana dan santai, alias tidak gerasak-gerusuk seperti shalat taraweh sepuluh salam yang dikerjakan oleh sebagian orang di masjid-masjid dan musolla.

Surabaya, 6 Juli 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: