Urgensi dan Hakikat Tarawih

Duta Masyarakat: Jumat, 10 Juli 2015

Oleh: Junaidi Khab*

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Masyarakat muslim di Indonesia secara umum sudah tentu mengetahui tentang shalat sunnah yang dilakukan pada malam hari setelah shalat isya’ di bulan Ramadan. Bahkan, mungkin bukan hanya masyarakat muslim di Indonesia yang tahu tentang hal itu, tapi juga masyarakat muslim di seluruh dunia. Ada yang melaksanakannya delapan rakaat atau empat salam berikut dengan witirnya tiga rakaat atau dua salam atau satu salam. Ada pula yang melakukannya dua puluh rakaat atau sepuluh salam berikut dengan witirnya tiga rakaat atau dua salam atau satu salam.

Di sini perlu kita tegaskan kembali bahwa (shalat) tarawih yang dikerjakan oleh umat Islam setelah shalat isya’ itu bukanlah ibadah wajib, tapi ibadah sunnah. Sudah sangat jelas sebagaimana dijelaskan dalam banyak literatur, baik literatur yang berbahasa Arab, bahasa Indonesia, atau bahasa-bahasa lainnya bahwa perkara sunnah, seperti halnya tarawih pada malam bulan Ramadhan. Shalat tarawih sebagai salah satu ibadah sunnah, jika dikerjakan akan mendapat pahala, tapi jika ditinggalkan tidak akan disiksa. Berbeda halnya dengan perbuatan wajib jika dikerjakan akan mendapat pahala, jika ditinggalkan akan memperoleh siksa.

Namun anehnya, ada sebagian orang yang memandang shalat tarawih seakan-akan menjadi ibadah wajib dan kadang seakan-akan mewajibkan orang lain. Meski secara bahasa tidak mewajibkan, tapi secara tindakan dan perilaku seakan-akan shalat tarawih memiliki hukum wajib agar dilakukan oleh setiap umat Islam. Padahal bukan demikian, mungkin hal tersebut dipengaruhi oleh fanatisme dalam beragama dan beribadah. Secara lisan memang mengatakan ibadah (shalat) tarawih itu sunnah, tapi jika ada seseorang yang tidak melakukan (shalat) tarawih selalu dijadikan bahan pembicaraan dan bahkan kadang dicap sebagai penganut agama (Islam) yang tanggung.

Hal tersebut bisa kita jumpai di berbagai daerah, khususnya pedesaan. Penulis pribadi sebagai golongan menengah ke bawah, alias juga berasal, lahir dan besar di desa merasakan hal tersebut. Masyarakat atau pemuda dan orang-orang dewasa yang tidak melaksanakan tarawih akan dipandang sebagai pembangkang dan seakan hina di mata mereka. Hal ini yang perlu kita ingat dan kita sadari, (shalat) tarawih bukan ibadah wajib yang harus dikerjakan. Bagi yang ingin melaksanakan, silakan tanpa harus memaksa orang lain untuk mengerjakannya, begitu pula sebaliknya.

Fanatisme Beribadah

Ada yang mengecap kafir orang yang mewajibkan hal-hal yang sunnah kepada orang lain, atau sebaliknya menganggap sunnah perkara yang wajib. Begitu pula dengan (shalat) tarawih yang berhukuman sunnah, jangan sampai diwajibkan kepada orang lain agar melaksanakan ibadah malam tersebut. Kadang-kadang karena fanatisme dalam beribadah, selain itu karena tarawih juga sudah umum dilaksanakan, tiba-tiba mau mewajibkan kepada orang lain.

Pada hakikatnya, tidak ada persoalan bagi kita sebagai umat Islam entah itu mau mengerjakan (shalat) tarawih atau tidak. Namun, alangkah baiknya kita melaksanakannya. Secara tersirat, ada banyak manfaat dari pengerjaan (shalat) tarawih, selain memang mendapat pahala dalam mengerjakan ibadah kepada Tuhan, juga secara sosial ada nilai-nilai yang sangat urgen. Salah satu dimensi sosialnya yaitu kebersamaan. Sebagaimana kita ketahui secara umum, masyarakat Indonesia melaksanakan (shalat) tarawih dengan berjamaah, baik di musolla (langgar), masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya yang layak. Namun, ada pula yang melaksanakannya secara individual. Hal tersebut tidak jadi persoalan, kita lihat dari sisi kemaslahatannya bahwa (shalat) tarawih tidak merugikan bagi manusia.

Urgensitas (shalat) tarawih berjamaah akan menjadi simbol bahwa kebersamaan akan memperkokoh segala tindakan dan keyakinan. Sehingga nilai-nilai persatuan dan kesatuan umat (Islam) bisa berkaca pada tarawih. Keakraban akan terjalin dengan lebih damai dan penuh berkah. Selain itu, melalui (shalat) tarawih berjamaah akan menghidupkan diri kita agar saling mengenal satu sama lain di antara para jamaah yang ikut serta dalam pelaksanaan tarawih, sehingga tali silaturrahmi tetap bisa terjalin dengan baik, lebih-lebih diperkotaan yang masyrakatnya sangat tertutup. Maka, tarawih menjadi media bersosialisasi satu sama lain di antara mereka.

Akan tetapi, dalam hal pelaksanaan shalat tarawih berikut dalil-dalilnya masih belum ada nash yang sah untuk dijadikan pedoman. Jika ada nash yang sah, maka para ulama tidak akan berbeda pendapat. Pada intinya, dalil yang sah baik dalam al-Quran atau al-Hadis masih dalam bentuk umum, alias tarawih bukan istilah yang digunakan. Dalam satu kisahnya, suatu malam Ramadan Nabi Muhammad Saw. setelah shalat isya’ mengerjakan shalat sunnah, lalu kemudian diikuti oleh para sahabatnya. Suatu ketika beliau tidak melakukannya, entah di rumahnya. Satu alasan Nabi Muhammmad suatu ketika tidak melaksanakan shalat sunnah setelah shalat isya’ khawatir para shabat akan menganggap wajib shalat sunnah yang dilakukan oleh beliau.

Maka dari itu, dalam berbagai hal, khususnya persoalan ibadah sunnah kita jangan sampai fanatik terhadap salah satu ibadah sunnah. Fanatisme dalam beribadah dan juga fanatisme dalam berbagai hal tidak akan memberikan nilai mulia, secara umum bagi orang lain. Karena fanatisme identik dengan kepentingan pribadi dan egoisme diri yang cenderung merugikan. Dari itulah, kita harus mengingat kembal tentang hakikat (shalat) tarawih agar tidak mewajibkan dengan bahasa tindakan atau bahasa singgungan kepada orang lain.

* Penulis adalah Akademisi UIN Sunan Ampel Surabaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: