Perbedaan tak Harus Melunturkan Persahabatan

KORAN JAKARTA: Selasa, 07 Juli 2015

Different Ketika Perbedaan Bukan Sebuah Penghalang (Junaidi Khab)

Different Ketika Perbedaan Bukan Sebuah Penghalang (Junaidi Khab)

Judul               : DIFFERENT Ketika Perbedaan Bukan Sebuah Penghalang

Penulis             : Ima T. Lestari

Penerbit           : Tinta Medina (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Januari 2015

Tebal               : xii, 372 hlm.; 20 cm

ISBN               : 978-602-257-112-4

Peresensi         : Junaidi Khab*

Novel ini merupakan narasi yang menceritakan tentang persahabatan tiga manusia yang berasal dari etnis dan agama yang berbeda. Dari tiga manusia tersebut yang ditokohkan dalam novel ini, kita akan belajar tentang menghargai orang lain tanpa melihat latar belakangnya. Sehingga dengan demikian, sebuah persatuan, persahabatan, dan kerukunan bisa kita capai di negara yang demokratis ini.

Ceritanya diangkat dari kisah nyata yang difiksikan dengan latar (setting) Pulau Dewata Bali. Dengan sudut pandang pengisahan yang berbeda, tiap-tiap tokoh bisa menjadi tokoh utama yang mewakili penulis. Ada tiga tokoh yang diprioritaskan dalam novel ini, yaitu Noura, Gugun, dan Alika. Ketiga tokoh tersebut akan bergantian menjadi tokoh utama dalam alur-kisah perbedaan tiga etnis dan agama yang tidak sama.

Noura adalah seorang perempuan yang lahir dan besar di pulau Bali. Tapi dia berdarah Jawa, karena kedua orang tuanya berasal dari Jawa (hlm. 21). Dia dilanda sebuah kebingungan tentang kampung halamannya. Jika menyebut Bali sebagai kampung halamannya karena dia lahir dan besar di Bali, dia hidup hanya ikut merantau dengan kedua orang tuanya. Noura dilanda dilema antara mengikuti keinginan ayahnya atau mengikuti kata hatinya dengan mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang penulis.

Alika adalah seorang gadis yang pendiam beretnis Dayak, hal itu tercermin daari asalnya, yaitu Kalimantan (hlm. 43). Kulitnya kuning langsat sebagaimana mayoritas orang Dayak. Pada awalnya, dia adalah seorang penganut agama Hindu yang rajin beribadah, tapi sekian lama kemudian dia menganut agama Kristen sesuai dengan pilihan hidupnya. Tapi, atas pilihannya tersebut, Alika dalam keluarganya selalu dilanda rasa takut dan was-was meski perasaannya itu tidak pernah menjadi nyata.

Gugun adalah seorang cowok kelahiran Bali dan juga besar di Bali sebagaimana Noura, sehingga dia lebih memilih agama Hindu sebagai keyakinan dan jalan hidupnya (hlm. 67). Dia beretnis Tionghoa dengan ciri-ciri yang sangat mencolok dengan penduduk pribumi. Kulitnya putih dan matanya sipit sebagaimana kebanyakan orang China (Tionghoa). Orangnya pendiam dengan satu persoalan, cintanya tidak pernah diungkapkan kepada gadis yang diharapkan bisa mengisi hidupnya dengan kebahagiaan.

Tiga tokoh utama dengan latar belakang yang berbeda tersebut, mereka di tengah gerusan perbedaan masih tetap bisa hidup bersama secara rukun dan harmonis. Perbedaan agama dan ras tidak menjadi persoalan bagi mereka untuk menjalin hubungan persahabatan, sehingga persahabatannya berlanjut hingga bertahun-tahun. Karya ini ingin mengajak dan menyadarkan kita agar tidak saling bermusuhan satu sama lain hanya karena beda etnis, agama, atau pemikiran.

Gejolak yang sangat memukul telak persahabat mereka bertiga yaitu ketika pasca-bom Bali 12 Oktober 2002 (hlm. 86). Pada saat itu, ribuan manusia menjemput takdirnya. Sebuah noktah hitam tertoreh dalam sejarah bangsa Indonesia. Tidak ada penanda, langit pun tidak memberi aba-aba. Semua terasa baik-baik saja, berjalan seperti biasa. Tapi, tidak ada yang tahu bahwa hari itu akan mengisahkan Bali dengan cerita yang lain, dimana umat Islam dikucilkan hanya karena ulah segelintir orang yang memahami agama dengan cara yang berbeda.

Semua agama dan negara di dunia memandang Islam sebagai biang kerok segala kerusakan dan terorisme. Sehingga, Noura pun kehidupannya seakan merasa terkucilkan. Tapi, atas nama persahabatan, tiga orang bersahabat itu tidak pernah goyah. Mereka masih bisa hidup rukun bersama di tengah-tengah kepongahan atas ledakan bom Bali tersebut. Mereka tetap saling berbagi dan saling membantu beban mereka masing-masing, khususnya Noura dan umat Islam lainnya yang terkena imbas dari kejadian tragis tersebut.

Seperti dikatakan Graham E. Fuller (2015:43) dia menyebutkan bahwa gesekan-gesekan antara agama-agama dan pengikutnya jarang dilandasi oleh perbedaan teologi khusus, melainkan akibat-akibat politis dan sosialnya. Sementara, kekuatan tiga persahabatan tersebut tidak pernah retak atau goyah, karena mereka menyadari bahwa bukan teologi-keagamaan yang menyebabkan perpecahan meski ada banyak yang mengatasnamakan agama, tapi manusia sendiri yang melakukannya.

Karya ini akan memberi pemahaman tentang pentingnya persatuan di tengah perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan demi mencapai kerukunan antara sesama umat manusia. Semoga karya ini menjadikan kita sebagai umat yang bersatu, rukun, dan penuh keperadaban.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku, Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca di: Koran Jakarta, atau di Koran Jakarta. Selasa, 7 Juli 2015 Perbedaan tak Harus Melunturkan Persahabatan oleh Junaidi Khab. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: