Buka Puasa di Rumah Menteri Sosial RI

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Berburu takjil buka puasa menjadi agenda sore pada bulan Ramadan ketika aku berada di Surabaya. Tiap-tiap masjid di Surabaya, biasanya menyediakan buka puasa gratis bagi masyarakat umum. Ada sebagian masjid yang hanya menyediakan buka puasa saja, kurma dan air baik itu air es atau air gelas. Ada pula yang menyediakan buka puasa melebihi sekadar kurma dan air, ada tambahan nasinya. Misalkan di masjid Nurul Iman utaranya Plaza Marina Jl. Margorejo Surabaya. Di sana selain disediakan kurma dan air (kadang es atau air gelas), juga disediakan sebungkus nasi. Sebelum buka puasa tiba, kurma dan air sudah dipegang oleh orang-orang yang berburu takjil buka puasa gratis. Ketika adzan maghrib berkumandang, mereka semua berbuka dengan kurma dan air yang dipegang tadi. Kemudian siap-siap untuk melaksanakan shalat maghrib. Setelah melaksanakan shalat maghrib, takmir masjid membagikan kupon untuk mendapatkan sebungkus nasi yang dimulai dari baris depan. Biasanya baris terakhir tidak mendapat kupon, sehingga harus makan dengan uangnya sendiri. Kejadian ini pernah dialami oleh salah satu temanku, Nanda.

Aku pernah berburu takjil daerah Plaza Marina Margorejo Surabaya, tapi bukan di masjid Nurul Iman, masih lebih jauh ke utara masjid yang ditakmiri oleh Khozen asal Kediri, teman Masduri pada Sabtu, 4 Juli 2015. Itu pertama kali kulakukan dengan temanku, Masduri dan Fawaid anak Dungkek. Dari Plaza Marina masih jauh ke utara, daerah Bendul Merisi. Menunya tidak jauh berbeda dengan di masjid Nurul Iman di dekat Plaza Marina; kurma, air gelas, dan sebungkus nasi. Cuma ada cemilan seperti semangka dan es selain mendapat air gelas. Nasinya pun dibagikan tanpa menggunakan kupon, langsung ada seseorang yang menunggu di pintu masjid yang membagikan satu per satu kepada jama’ah.

Agenda berburu takjil tidak pernah selesai. Setiap hari harus dapat takjil gratis sepertinya. Lucu dan menarik sebagai pengalaman hidup merantau di Surabaya. Tepat pada hari Minggu, 5 Juli 2015 aku dan Masduri berencana kembali untuk berburu takjil. Tapi daerahnya berbeda, ke Sidoarjo. Namun sayangnya, agenda tersebut gagal. Akhirnya membuat keputusan baru, aku dan dia akan memburu takjil di daerah perumahan Jemursari, ke arah timur dari tempatku. Di sana katanya dapat nasi kotak. Lebih mewah sepertinya daripada di masjid Nurul Iman dan masjid-masjid lainnya, biasa saja kan perumahan.

Sekitar pukul 16:50 aku dan Masduri sudah bersiap-siap. Lalu menghubungi Fawaid bahwa yang akan berburu takjil ke Sidoarjo tidak jadi. Akhirnya kita bertiga sepakat untuk berburu takjil ke perumahan, tapi Masduri terserah aku mau ke mana saja karena motornya yang mengemudikan adalah aku sendiri. Tapi, tetap keputusan ke perumahan. Ternyata Fawaid masih nunggu Muhlisin untuk berburu takjil ke perumahan, Muhlisin katanya sudah langganan di sana. Ya, apa boleh buat, aku menunggunya sekian lama hingga akhirnya ditelpon oleh Masduri baru beberapa menit Muhlisin datang. Langsung berangkat melewati Gang VII di Gang Lebar Jemur Wonosari Wonocolo Surabaya. Ketika sampai di barat perumahan, di depan rumah Menteri Sosial RI – Khofifah Indar Parawansyah sangat ramai. Aku dan teman-teman tidak bisa lewat karena dihalang oleh mobil yang kebetulan mau ke arah selatan. Waktu buka puasa sudah sangat dekat, aku dan teman-temanku pun membuat keputusan untuk berbuka puasa di sana saja. Akhirnya, berburu takjil ke perumahan tidak jadi dan aku mendapat buka puasa yang berbeda serta di luar tujuan awal.

Pada mulanya aku dan teman-teman ragu, apa buka puasa itu hanya untuk kalangan tertentu atau untuk umum. Ternyata setelah Muhlisin menanyakannya, buka puasa itu untuk umum. Aku langsung mengambil soto yang sudah disajikan dalam mangkuk ukuran sederhana. Lalu antre untuk mendapatkan kuah, eh aku melihat teman-teman mengambil kotak makanan ringan. Aku sebenarnya ingin mengambil juga, tapi aku memilih untuk mendapatkan kuah lebih dulu. Ternyata setelah dapat kuah, makanan ringan dalam kotak putih itu sudah ludes. Aku pun kembali dengan tangan hampa dengan memakan soto ayam khas Lamongan.

Di sela-sela makan soto, aku melihat Masduri membawa semangkuk kecil es campur – seperti es kopyor. Aku pun mencari celah-celah untuk mendapatkannya dengan meninggalkan mangkuk yang berisi soto di tepi got yang baunya bukan main. Aku juga bisa minum es. Setelah itu, aku mencari air mineral merk Cleo seperti yang diminum oleh Muhlisin. Sebelumnya aku tidak mendapatkannya karena tidak tahu tempatnya. Kata Muhlisin airnya di dekat eskrim, aku tidak menemukannya. Aku kembali ke tempat makan soto tadi. Lalu kuputuskan untuk mencari eskrim, ternyata airnya masih banyak di dekat eskrim. Aku makan eskrim dengan ukuran sedang sesuai porsinya dan mengambil gelas air mineral merk Cleo. Kemudian aku berasantai-santai sambil menikmati eskrim yang kuminta tadi.

Hahaha… Ada yang lucu lagi, salah satu temanku melihat para tamu atau orang-orang menerima parsel kemasan berukuran besar. Dia juga ingin mendapatkannya, akhirnya aku diajak. Aku langsung mau karena aku juga ingin mendapatkannya. Sayangnya, ketika melihat orang yang mendapatkan parsel itu, mereka membagikan kertas semacam kupon untuk mendapatkan parsel itu. Niat buasku diurungkan dan tidak jadi mengantre untuk mendapatkan bungkusan tadi. Nahas deh. Tapi, aku tetap bersyukur karena bisa berbuka gratis di rumah Menteri Sosial RI.

Surabaya, 6 Juli 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: