Puasa Ketujuh

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Tepat pada tanggal 24 Juni 2015 ini aku memasuki masa puasa yang ketujuh. Aku tidak begitu bersemangat untuk menyiapkan sarapan petang. Ada banyak hal yang membuatku demikian. Pertama, aku tidak enak yang mau beli nasi ke warung langgananku. Ada konflik batin dengan ibu yang punya warung nasi langgananku. Meskipun aku bisa beli nasi ke warung langgananku yang lain, aku harus melewati depan warung nasi ibu yang ada konflik batin denganku. Jadinya, aku tidak nyaman jika hanya lewat di depan warungnya karena aku terbiasa beli di sana, anggap kan warung itu langgananku. Kedua, pikiranku masih belum tenang karena motor temanku yang kupinjam beberapa hari yang lalu masih tidak bisa menyala. Dengan ini aku tidak merasa nyaman pikiranku.

Sebagai solusi untuk sarapan petang bulan puasa, aku menyiapkan dua botol air mineral. Satu botol bermerek AQUA 1500 ml, satunya lagi bermerek Ades 600 ml. Selain itu, untungnya aku masih punya sisa kurma yang kubeli beberapa hari yang lalu di Alfamart dengan netto 350g. Aku akan membuka sarapan petangku dengan air, lalu kurma yang kumiliki tinggal dua biji. Kemudian aku mau minum air bening lagi. Setelah itu, aku mau shalat maghrib baru mau cari makan ke warung, entah warung yang mana yang akan kudatangi. Di daerah tempat tinggalku hanya ada dua tempat favorit untuk makan, kalau tidak di warung ada konflik batin denganku, ya di warung satunya milik orang Madura.

Jika masih malas yang mau cari nasi, ya aku jadi bingung. Berdiam diri saja di kamar, memenjarakan diri sendiri sampai pikiranku tenang. Sebenarnya aku mau berusaha untuk pergi ke warung ibu yang ada konflik batin denganku, tapi tekadku kurang bulat. Selain itu, aku masih kurang semangat untuk pergi ke sana. Ada banyak pikiran jika aku pergi ke sana, bisa saja aku diabaikan ketika aku pesan nasi atau aku mendapat perlakuan yang kurang enak. Entah lah, tapi aku sebenarnya yakin, ibu itu tidak akan melakukan seperti yang kubayangkan, hanya pikiranku saja yang terlalu mengada-ada.

Sebenarnya, aku mau datang ke acara buka bareng di daerah Gang Pabrik Kulit Wonocolo Surabaya. Tapi, karena tidak ada motor kuurungkan saja berhubung tempatnya agak jauh dari tempatku. Ada seorang teman yang menawarkan untuk menjemputku, tapi kutolak saja karena aku tidak enak dengan teman yang punya motor. Aku lebih memilih di kamar saja dengannya. Aku pasrah saja pada keadaan ini. Sebenarnya aku tidak nyaman dengan yang mengundangku – Marlaf Sucipto – untuk berbuka bareng. Akhirnya, ya begini aku sarapan petang puasa dengan minum air dan dua biji kurma. Tidak masalah bagiku, aku tetap mensyukuri kesempatan sarapan petang puasa ini meski hanya cukup sederhana alias tidak seperti biasanya.

Sungguh, pikiranku gundah dengan keadaan yang seperti ini. Selain dihadapkan dengan beberapa persoalan, aku akan menghadapi ujian skripsi yang hanya tinggal beberapa hitungan hari di bulan Juni-Juli. Kata temanku, ujianku hari Rabu, 1 Juli 2015. Aku sebenarnya ingin fokus pada skripsiku, tidak mau berurusan dengan banyak hal, termasuk organisasi sejenak ingin kutinggalkan. Aku tidak mau tertinggal lagi dari kelulusan ini. Semester sepuluh sudah usiaku sejak masuk kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2010.

“Wahai Tuhanku yang menciptakan seluruh alam dan isinya, jadikanlah mudah segala urusanku hingga mencapai keberhasilan.”

“Jadikanlah diriku ini sebagai manusia yang benar-benar bermanfaat, bukan hanya untuk diriku sendiri, tapi secara umum bagi orang lain walau hanya sekadar memberi yang aku punya meskipun sedikit. Tapi aku berharap bisa memberikan yang terbaik bagi orang lain dan lebih banyak dari yang aku punya.”

“Wahai Tuhanku Yang Maha Pemberi. Berilah aku riski yang banyak, halal dan berkah. Berilah aku uang yang banyak, halal dan berkah. Berilah diriku kekayaan, kekayaan harta, ilmu, kasih-sayang, kebaikan, dan kekayaan hati yang halal dan berkah. Sehatkanlah diriku, jiwa-raga dan batin. Jauhkanlah diriku dari segala macam penyakit, baik itu penyakit lahir atau batin. Berilah diriku kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. Jadikanlah aku ini sebagai hambamu yang dirahmati. Jadikanlah hidupku penuh dengan kebahagiaan untuk diriku dan orang lain. Jadikanlah diriku manusia yang benar-benar bermanfaat. Amin.”

Surabaya, 24 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: