Pembacaan Surat Fatihah yang Mengganjal

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Hari ini, Sabtu 27 Juni 2015 aku berkesempatan mengikuti acara “Bedah Buku dan Diskusi: APBN Konstitusional di Tengah Krisis Ideologi Ekonomi” yang diselengarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan FITRA Jawa Timur. Aku datang pada acara tersebut sedikit terlambat dengan dua temanku, Masduri dan Mamanz. Sebagaimana pada acara-acara umumnya, ketika aku datang sedang berlangsung pembacaan ayat suci al-Quran. Aku pun menuliskan namaku dalam daftar hadir peserta dengan sedikit kekeliruan, pada data jenis kelamin kutulisakan “P”/ perempuan. Aku kaget dan sedikit lebay dengan menjerit di depan penerima tamu, tapi tidak kuubah kesalahan tersebut berhubung mendapat dukungan dari penerima tamu bahwa tidak masalah meski salah, hanya sedikit katanya, intinya tidak penting.

Pada saat pembacaan doa oleh salah satu dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, ada satu hal yang paling mengganjal pikiranku, hal yang mengganjal itu terasa janggal bagiku. Sebelum pembacaan doa dimulai, yang bertugas membaca doa (dosen tadi) mendahului dengan pembacaan surat Fatihah, lalu melanjutkan dengan doa-doa sebagaimana biasanya dibaca, tentunya untuk kebaikan bagi kita dan si pembaca. Ketika membaca Fatihah, aku pun membaca dengan super cepat tanpa memerhatikan salah atau benar dalam kaidah bacaan bahasa Arab-nya, ternyata si pemimpin pembacaan doa sesudah selesai ketika aku masih membaca sampai pada ayat “مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ”. “Lha, kok cepat sekali bacanya?” Gumamku begitu.

Setelah itu, doa pun dibaca dengan saksama, kolaborasi antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia. Isinya baik, sudah tentu. Amin. Tapi, setelah doa dibaca dengan “amin” dari para hadirin, pembacaan Fatihah terjadi dengan begitu lebih cepat lagi dari sebelumnya. Padahal, aku sudah membaca Fatihah super cepat sekali, hanya sampai pada ayat/ bacaan “الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ” sang pembaca doa sudah selesai membaca surat Fatihah. Aku hanya heran dengan acara bacanya. “Bagaimana cara bacanya ya, kok begitu cepat sekali?” Gumamku dalam hati.

Aku menyadari, kejadian demikian (pembacaan surat Fatihah yang super cepat) sebenarnya bukan hanya pada saat itu yang kutemui, pada kesempatan dan waktu yang lain dengan pembaca/ pemimpin pembacaan doa juga membaca Fatihah dengan super cepat, hingga aku tidak menututi kadang untuk membacanya. Aku ketinggalan jauh sekali. Prasangka burukku begini, mungkin orang itu malas untuk membaca surat Fatihah hingga selesai. Aku yakin, dia membaca tidak selesai, karena mustahil secepat apa pun, membaca surat Fatihah masih membutuhkan waktu sekitar 6 (detik) itu dengan kecepatan yang tiada terkira bagaikan mesin penggiling.

Jika tidak percaya, silakan buktikan sendiri. Aku mengatakan membutuhkan waktu sekitar 6 dengan percobaan menggunakan stopwatch dengan durasi waktu 0:00:06.85. itu pun aku membacanya tanpa memperhatikan benar-salahnya yang sesuai dengan kaidah bahasa Arab yang baik dan benar. Kejadian pembacaan Fatihah yang super cepat sekali itu tidak kunjung hilang dari pikiranku hingga aku sampai ke tempatku berdiam di Surabaya. Memang benar-benar mengganjal dan janggal dalam pikiranku. Iseng pada saat itu, aku mendapat kesempatan untuk bertanya pada forum tersebut. Mau tahu pertanyaan-pertanyaan yang kulontarkan kepada pembicara (penulis buku tentang APBN) tersebut?

Pertama, terkait dengan hutang luar negeri, peraturan untuk melakukan hutang berdasarkan atau berlandaskan pada apa? Undang-undang atau apa? Atau begini tepatnya, Apa yang menjadi landasan negara melakukan transaksi hutang luar negeri? Intinya begitu.

Kedua, mengapa ada hutang dalam negeri? Hal itu mengherankan bagiku, setidaknya negara tidak berhutang kepada masyarakat Indonesia atau instansi atau perusahaan.

Ketiga, terkait dengan proses penyitaan dan penyegelan oleh aparat kepolisian dan negara, barang yang disita nanti dijual kepada siapa atau dibeli oleh siapa? Dan hasil penjualan barang-barang sitaan atau segelan tersebut dimasukkan kemana, ke APBN?

Itu sekelumit pertanyaan konyolku di tengah keisengan bertanya pada forum tersebut. Jawabannya? Ingin tahu? Silakan tanyakan melalui komentar di bawah catatan ini. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Di akhir acara ditutup dengan buka bersama. Peserta diskusi disediakan makanan yang bisa diambil sendiri, prasmanan. Aku setengah bingung – antara bahagia dan gelisah. Aku bahagia karena makannya prasmanan, alias bisa ngambil sendiri makanan yang kusuka. Tapi, aku gelisah karena khawatir tidak kebagian makanan, pada waktu itu pesertanya terbilang banyak, meski kursi banyak yang kosong. Namun, aku masih bisa bernafas lega, bertarung merebut nasi dan lauknya. Ada temanku yang cerdas, di tengah-tengah peserta yang lain bersusah payah untuk mengambil nasi putih dan nasi goreng, dia mengambil lauk – daging ayam dengan begitu banyak. Aku dapat satu piring nasi putih, lalu mengambil lauk – daging ayam dengan dua gelas air mineral. Hampir saja aku tidak kebagian es, ah itu bukan tujuanku selama bulan puasa. Aku berusaha minum es sedikit. Jadi bagiku tidak masalah meski tidak kebagian es, yang penting dapat ari. Tapi, aku masih dapat es meski hanya sedikit saja, puji syukur aku ucapkan untuk Tuhanku yang mengasihiku.

Surabaya, 27 Juni 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: