Sisi Gelap Nafsu Serakah Kepemimpinan

Lampung Post: Minggu, 28 Juni 2015

Lotus Feet Girl (Junaidi Khab)

Lotus Feet Girl (Junaidi Khab)

Judul               : Lotus Feet Girl

Penulis             : Wiwid Prasetiyo

Penerbit           : Metamind (PT Tiga Serangkai)

Cetakan           : I, Februari 2015

Tebal               : viii, 296 hlm.; 21 cm

ISBN               : 978-602-72097-1-8

Peresensi         : Junaidi Khab*

Kadang kita beranggapan, bahwa istana yang serba mewah itu selalu identik dengan kebahagiaan dan kepuasan bagi penghuninya. Jauh panggang dari api, apa yang kita persepsikan tentang hal tersebut tidak segalanya bisa dibenarkan. Di dalam istana banyak kecamuk, orang-orang curang dan picik bercampur-aduk demi mengeruk keuntungan pribadi dan melupakan orang lain. Memang ada segelintir orang baik, tapi mereka tidak memiliki kuasa sehingga harus menjadi budak-budak kekuasaan.

Membaca novel karya Wiwid Prasetiyo ini seakan-akan kita membaca perjalanan Republik ini yang sedang mengalami sakit kepemimpinan. Seorang kaisar – gubernur – Tang Tsu Chi yang berkuasa pada masa peradaban Tiongkok kuno mengalami kegoncangan jiwa. Istrinya, Giok Liong harus mati bunuh diri karena tidak kuat dengan tradisi istana yang tampak dari luar begitu mewah, tapi dalamnya menyiksa batinnya (hlm. 113). Semua orang tentu tidak mau kuku-kuku kakinya dicabut dan kakinya dipatahkan hanya agar masuk ke dalam sepatu yang berukuran super kecil.

Dalam tradisi istana, istri gubernur harus melakukan ritual tersebut. Satu alasan kuku kaki dicabut dan kakinya diremukkan, yaitu agar kakinya bisa masuk ke dalam sepatu dengan ukuran kecil dan supaya sang istri gubernur ketika berjalan bisa meringis sambil menggigit bibir serta jalannya lenggak-lenggok seperti bebek. Begitulah, ukuran kecantikan menurut tradisi istana, bukan paras wajah atau kemolekan tubuh.

Anehnya, tradisi itu hanya diatur oleh ibu sang gubernur, Ibu Suri Seroja. Sang gubernur tidak memiliki wewenang atas segalanya, lebih-lebih persoalan keamanan negara dan kebijakan atas rakyat jelata, dia hanya boneka kepemimpinan (hlm. 145). Orang-orang menyebut Ibu Suri Seroja sebagai Si Perempuan Tangan Besi. Orang-orang istana yang tidak patuh padanya atau melakukan sedikit kesalahan, penjara bawah tanah seumur hidup yang menjadi ancamannya.

Tradisi Pingit

Jika kita kerap membaca buku tentang peradaban Tiongkok, mungkin kita pernah tahu tentang Dinasti Tang yang pernah berkuasa pada masa peradaban Tiongkok kuno. Peradaban Tang berjaya dengan berbagai tradisi dan hal-hal mistik lainnya. Logika-keyakinan menjadi simbol kekuasaan pada masa itu. Pemimpin di balik layar – Ibu Suri Seroja – kepada rakyat jelata di luar istana memang tampak ramah, tapi bagi pegawainya, dia mengeksploitasi sedemikian rupa. Sehingga, rakyat jelata yang pernah mengabdikan hidupnya di istana pasti menyumpah-serapahi kehalusan kata-kata ibu negara Dinasti Tang.

Perekrutan seorang gadis sebagai pengganti Liok Giong yang meninggal karena bunuh diri pun dilakukan. Wu Ying, gadis muda belia yang hidupnya sengsara rela menjadi istri gubernur yang terpaut jauh dari umurnya. Bukan Wu Ying yang bersedia, tapi Mei Yan, sang ibu yang menghadiahkannya kepada Senopati Qin, yaitu seorang pencari gadis desa yang cantik untuk dipersunting oleh gubernur Tang.

Wu Ying pun diperlakukan seperti halnya Giok Liong, kuku kakinya dicabut dan kakinya ditekuk hingga remuk. Dia menangis dan meronta-ronta. Sepatu ukuran kecil yang di atasnya ada bunga seroja pun dibesukkan ke kakinya. Awalnya, dia mengira akan hidup penuh kebahagiaan di istana. Memang dia bergelimang harta, tapi hati dan batinnya menjerit hingga terdengar ke langit.

Di istana, Wu Ying tidak langsung dinikahkan dengan gubernur Tang, tapi dia harus dipingit sekian tahun lamanya. Begitu juga yang dialami oleh Giok Liong yang patah arang di tengah jalan. Ada banyak prosesi yang harus ditempuh olehnya. Proses-proses itu hanya menjanjikan pilu yang tiada terkira dalam hatinya. Hingga pada suatu hari, Wu Ying berhasil mengelabuhi gubernur Tang. Bukan mengelabuhi, tapi menyadarkan gubernur Tang yang kekuasaannya selalu diatur oleh Ibu Suri Seroja (hlm. 139). Batin gubernur Tang pun goyah. Dia berpikir keras. Dia memang seorang gubernur dan orang nomor satu di Tiongkok, tapi tidak memiliki kekuasaan untuk mengatur segala hal dan tidak bisa memberikan kebijakan.

Mao Tse Tung

Mendekati ujung proses pingit, pernikahan Wu Ying pun direncanakan. Tapi, di tengah proses pernikahan gubernur Tang dengan Wu Ying, ada kericuhan yang tidak bisa dihindari. Sui Chen membuat onar dengan mengatakan makanan gubernur Tang ada racunnya. Sebenarnya dia ingin menjadi pahlawan bagi Wu Ying, tapi malah dia dijebloskan ke penjara bawah tanah. Wu Ying pun bernasib buruk, kedua tangannya dipotong-potong oleh Ibu Suri Seroja, lalu dijebloskan ke dalam penjara bawah tanah. Hingga gubernur Tang harus mati bunuh diri karena ditinggal oleh Wu Ying.

Istana Dinasti Tang pun berantakan. Saat itu, ada serangan tiba-tiba dari Dinasti Manchu. Manchurian dipimpin oleh Mao Tse Tung yang dengan mudah menguasai Dinasti Tang. Mulai saat itulah, Dinasti Mao menguasai Tiongkok kuno (hlm. 293). Kehancuran Dinasti Tang bukan karena serbuan dari Dinasti Mao, tapi karena orang-orang dalam istana Dinasti Tang tidak memberikan kebijakan yang adil bagi rakyat, sehingga kahancuran mudah melanda.

Dari alur kisahnya, karya ini tampak meragukan pemahaman pembaca tentang cerita yang diingat ulang oleh tokoh utamanya. Namun, novel ini akan menjadi pemantik bagi kita yang hidup di Republik yang sudah mendekati seperti kisah Dinasti Tang. Kisah-kisahnya akan menjewer kesadaran para pembaca untuk bertindak lebih tegas atas kebijakan pemerintah yang tidak pro-rakyat. Di Republik ini, sudah banyak pemimpin yang hanya untuk memenuhi nafsu serakahnya. Sehingga, melalui kisah dalam novel ini kita bisa memilah dan memilih siapa saja orang yang patut kita jadikan pemimpin dan panutan pada masa berikutnya.

* Peresensi adalah Pecinta Baca Buku, Bergiat di Komunitas Sastra UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tulisan ini bisa dibaca di: Lampung Post. Minggu, 28 Juni 2015 Sisi Gelap Nafsu Serakah Kepemimpinan oleh Junaidi Khab MB. Semoga memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: