Keindahan yang Tidak Bisa Dibeli

Junaidi Khab

Junaidi Khab

Mungkin teman-temanku atau orang-orang banyak yang tidak tahu di mana letak rumahku. Rumahku bisa dikatakan sebagai rumah biasa, sederhana, atau tidak mewah. Aku lahir dan besar di kampung Kalangka (Tembing) desa Banjar Bara kecamatan Gapura kabupaten Sumenep, Madura. Aku punya banyak pengalaman hidup dari tempatku lahir dan besar hingga menjadi manusia yang bisa berpikir secara mandiri. Dari rumah tanah lahirku pula aku bisa mengenal banyak hal tentang kehidupan. Tapi, secara rata kehidupanku terbilang keras, tidak seperti kehidupan teman-temanku yang lainnya yang menjadi anak “mama” alias yang dimanja oleh orang tuanya. Tangan mereka lembut, tanganku sedikit lembut setelah kuliah karena aku sudah sedikit berhadapan dengan hidupku yang keras.

Tapi, aku tetap bersyukur bisa lahir dan besar dari kampung halamanku saat ini. Aku menyadari, setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda. Tapi, jalan itu lebih indah jika dijalani dengan banyak hal atau rintangan yang kita hadapi. Aku menghadapi banyak hal dalam hidupku, khususnya hal-hal yang tidak dialami oleh teman-temanku secara umum. Hidup setengah melarat menjadi menu sajian hidup, tapi melarat perspektif orang kaya. Namun, dari kampung halamanku aku menemukan banyak keindahan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain. Mungkin juga mereka memiliki keindahan yang kumiliki dan yang tidak kumiliki.

Aku sudah beberapa tahun hidup luar kampung halamanku, setelah kembali ke kampung halamanku di mana aku lahir dan besar, aku menemukan banyak keindahan yang tidak bisa kubeli ketika aku tinggal di luar kampung halamanku. Keindahan alam atau dunia yang bisa kunikmati secara gratis atas karunia Tuhan. Di halaman rumahku, aku bisa menikmati langit yang kelam penuh bebintang yang begitu indah. Sesekali aku melihat meteor yang berjalan begitu cepat melintasi bebintang yang berdiam diri dengan berkedip-kedip. Hingga aku memikirkan tentang kekuasaan Tuhan dalam menciptakan dunia ini yang begitu luas dan indah. Bintang yang jaraknya tidak bisa dihitung dengan ukuran biasa mampu dilintasi oleh meteor di angkasa.

Dari saking menakjubkan keindahan langit yang penuh bebintang di malam hari, aku sampai berdoa meminta keajaiban kepada Tuhan agar satu bintang jatuh mengenai aku dan mengubah wujudku menjadi manusia yang luar biasa dan super manfaat bagi umat manusia. Begini keinginanku, satu bintang jatuh padaku – menerpa tepat di tubuhku – lalu tubuhku menjadi indah dan nikmat dipandang, mataku kebiru-biruan, rambutku tidak bisa dipotong (kebal) dengan warna hitam pekat kebiruan setrum (listrik) dan bisa memberikan aliran listrik, serta aku bisa memiliki kemampuan menarik ikan-ikan di laut atas kehendakku ketika menyentuhkan jari ke air laut ikan yang kupanggil (kubutuhkan) datang semua lalu aku bisa menjualnya dengan harga yang murah kepada masyarakat Rp. 1000 dengan ukuran sedang lebar 5 cm dan panjang 15-20 cm. Betapa indahnya jika seperti itu, aku bisa membantu memberikan harga ikan murah kepada masyarakat desa.

Keindahan alam di rumahku sungguh tidak mau kulewatkan, aku ingin sekali untuk menikmati keindahan itu bersama orang yang terkasih dalam hidupku. Aku ingin sekali. Harapanku begitu tinggi, dan lagi-lagi aku berdoa agar Tuhan mengabulkan segala permintaanku. Amin. Keindahan di rumahku benar-benar tidak bisa dibeli, tapi gratis bagi yang mau menikmatinya. Silakan ke rumahku pada malam hari pada musim menjelang kemarau, tepatnya ketika matahari sudah condong ke arah utara.

Kalangka, 12 Juni 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: